Jumat, 21 Desember 2012

Mujizat Pertobatan Rasul Paulus

Mujizat Pertobatan Rasul Paulus
[by: Fr.Kyrillos Junan SL]

Picture

Date: 16 September 2011

“Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya :”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: ”Siapakah Engkau, Tuhan?” KataNya :”Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorangpun juga. Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa, mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. (Kisah Para Rasul 9:4-8)


“Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku: ”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku ?” Jawab Saulus :”Siapakah Engkau, Tuhan ?” KataNya :”Akulah Yesus, orang Nazareth, yang kauaniaya itu. Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar……Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. (Kisah Para Rasul 22:7-11)

“Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara…” (Kisah Para Rasul 26:14)

I. Pertentanganpun & Inkonsistensi Kisah Pertobatan St. Paulus Sang Rasul?

Ada beberapa pertanyaan mengenai pertobatan Saulus dari Tarrsus [bhs. Ibrani: שאול התרסי‎ Ša’ul HaTarsi bhs. Yunani kuno: Σαούλ (Saul), Σαῦλος (Saulos)], yang kemudian dikenal sebagai Rasul Paulus dari Tarsus (bhs. Yunani kuno: Παῦλος (Paulos) (5 Masehi–67 Masehi), "rasul bagi bangsa-bangsa non-Yahudi" (kaum Goyim) (Roma 11:13) dari kutipan-kutipan ayat di atas yang bagi banyak orang sangat membingungkan. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

1. Mengapa dari kutipan-kutipan ayat Alkitab di atas, pengakuan Saulus tidak konsisten ? Pada Kisah Para Rasul 9:4-8, teman-teman Saulus mendengar suara Tuhan, tapi tidak melihat cahaya, sedangkan di Kisah Para Rasul 22:7-11, teman-teman Saulus melihat cahaya yang menyilaukan, tapi tidak mendengar.
2. Yang lebih membingungkan lagi, kalau teman-teman Saulus melihat cahaya itu (Kisah Para Rasul 22:7-11) seharusnya mereka juga tidak dapat melihat, tetapi mengapa mereka bisa menuntun Saulus ke Damsyik ?
3. Kemudian di Kisah Para Rasul 26:14 dikatakan semua rebah ke tanah jadi teman-teman Saulus termasuk Saulus rebah ke tanah, mengapa berita di ayat ini bertentangan dengan dua pasal sebelumnya yaitu Kisah Para Rasul 9:4-8 dan Kisah Para Rasul 22:7-11 ?

II. Teman-teman St. Paulus Sang Rasul Mendengar Suara (Yesus) Ketika Berada Dalam Perjalanan ke Damsyik?

Tidak ada suatu pertentanganpun dan inkonsistensi dalam ayat-ayat Kitab Suci (Alkitab), tetapi ini hanya menunjukkan tentang kurang memadainya makna perbendaharaan terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia dibanding dalam bahasa aslinya baik bahasa Yunani (Perjanjian Baru) dan Ibrani (Perjanjian Lama). Dalam ayat-ayat di ataspun tidak ada pertentangan sebagai dijelaskan di bawah:

Kontradiksi yang nyata muncul di antara laporan pertama mengenai pertobatan St. Paulus Rasul di Jalan menuju Damsyik (Kis. 9:7) dengan laporan kedua (Kis. 22:9) yaitu yang berkaitan dengan teman-teman seperjalanan Paulus. Apakah mereka mendengar ”Suara dari langit itu atau tidak?”. Kisah Para Rasul 9:7 menyatakan: ”Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu [ακουοντες μεν της φωνης ; akouontes men tês phônês], tetapi tidak melihat seorang jugapun”. Sebaliknya, dalam Kisah Para Rasul 22:9 kita diberitahu, ”Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar [την δε φωνην ουκ ηκουσαν ; tên de phônên ouk êkousan]”.

Meskipun demikian, dalam bahasa Yunani asli tidak terdapat pertentangan nyata antara dua pernyataan ini. Bahasa Yunani membedakan antara mendengar suara sebagai ”bunyi” (di mana kata kerja ”mendengar” berfungsi sebagai ”genitif” atau ”penunjuk sumber”), dengan mendengar suara sebagai ”berita atau pesan yang menyampaikan gagasan” (di mana kata kerja ”mendengar” berfungsi sebagai ”akusatif” atau ”menjadi penunjuk obyek”). Karena itu, ketika kita mengemukakan dua pernyataan ini bersama maka kita mendapati teman-teman seperjalanan St. Paulus mendengar ”Suara” tersebut sebagai suatu ”bunyi” (agak mirip dengan orang banyak yang mendengar suara Allah Sang Bapa yang berbicara kepada Sang Putera dalam Yohanes 12:28, namun menangkapnya hanya sebagai bunyi guntur); tetapi mereka tidak (seperti St.Paulus) mendengar pesan yang disampaikan. Rasul Paulus sendiri yang mendengarnya dengan jelas (Kis. 9:4 mengatakan Paulus êkousen phônên – kasus akusatif); walaupun tentu dia pada mulanya menerimanya sebagai bunyi yang mengejutkan (Kis. 22:7: ”Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara [êkousa phônên] yang berkata kepadaku ... ”). Tetapi, dalam kedua laporan itu tidak ada dinyatakan bahwa teman-temannya mendengar ”Suara” itu dalam pengertian kasus akusatif.

Jadi kata yang diterjemahkan ”suara” juga mempunyai dua arti: pertama, ”bunyi, nada”, dan yang kedua, ”suara”, yaitu ”bunyi kata-kata yang diucapkan” (Greek-English Lexicon of the New Testament karangan Thayer). Suara yang teman-teman Rasul Paulus dengar ialah bunyi; mereka tidak mendengar suara itu sebagai bunyi kata-kata yang diucapkan; mereka tidak mendengar beritanya.

Di sini terdapat terdapat suatu persamaan pelajaran antara ketidakmampuan untuk mendengar ”Suara” itu sebagai pesan yang disampaikan dengan ketidakmampuan untuk melihat kemuliaan Tuhan yang sudah bangkit, kecuali hanya sebagai cahaya yang menyilaukan. Kisah Para Rasul 22:9 mengatakan bahwa mereka melihat cahaya, tetapi Kisah Para Rasul 9:7 menjelaskan bahwa mereka tidak melihat ”Oknum/Pribadi” itu yang memperlihatkan DiriNya melalui cahaya itu. Ada analogi yang jelas antara tingkat-tingkat pemahaman yang berbeda dalam masing-masing kasus.

Mengenai perbedaan kasus secara teknis dalam bahasa Yunani, bdk. W.W. Goodwin dan C.B. Gulick, Greek Grammar [Boston: Ginn & Co., 1930], # 1130, mengatakan: “Genitif-partitif digunakan dengan kata-kata kerja yang berarti mencicipi, mencium (merasakan, bau), mendengar, memahami (merasakan, melihat) dsb”. – dengan contoh dari Aristophanes Pax: phônês akouein moi dokô – ”Saya rasa saya mendengar suatu suara”. Lihat juga # 1104: ”Kata-kata kerja mendengar, mengetahui dsb, bisa menunjukkan obyek dari hal yang didengar dsb (sebagai akusatif), juga bisa menunjukkan dari mana orang itu mendengar (sebagai genitif)”. Ini sangat mirip dengan pembedaan yang dibuat di atas, bahwa akusatif menunjukkan suara itu sebagai pesan atau gagasan yang disampaikan, bukan hanya sebagai bunyi yang bergetar di gendang telinga.

III. Adanya Hijab (Tabir) yang Menghalangi Penglihatan dan Pengenalan akan Yang Ilahi

Kalau teman-teman Saulus melihat cahaya itu seharusnya mereka juga tidak dapat melihat, tetapi mengapa mereka bisa menuntun Saulus ke Damsyik? Seperti dijelaskan di atas, teman-teman Paulus melihat cahaya walaupun tidak mampu untuk melihat kemuliaan Tuhan yang sudah bangkit, kecuali hanya sebagai cahaya yang menyilaukan. Kisah Para Rasul 22:9 mengatakan bahwa mereka melihat cahaya, tetapi Kisah Para Rasul 9:7 menjelaskan bahwa mereka tidak melihat ”Oknum/Pribadi” itu yang memperlihatkan DiriNya melalui cahaya itu.

Walaupun teman-teman Rasul Paulus melihat cahaya, mereka tidak mengalami kebutaan sehingga bisa menuntun Rasul Paulus. Sedang Rasul Paulus mengalami kebutaan karena kasih karunia/rahmat Allah sedang bekerja pada Rasul Paulus yang dipanggil secara khusus (cara panggilan yang tidak dialami oleh para Rasul lainnya) untuk melakukan karya kerasulan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi (kaum Goyim) melalui peristiwa ini. Dalam hal ini para teman Rasul Paulus memang tidak terpanggil untuk mengemban tugas panggilan khusus seperti Sang Rasul ini, karena itu mereka tidak mengalami problem kebutaan dan mendengar suara sebagai ”berita atau pesan yang menyampaikan gagasan” seperti yang dialami Sang Rasul, walaupun mereka melihat cahaya yang sama. Disebut panggilan khusus sebab Yesus menyatakan DiriNya secara langsung setelah kebangkitanNya kepada Paulus yang sedang dalam perjalanan untuk menganiaya umat Kristen. Inilah sebabnya Rasul Paulus mengatakan panggilan oleh kasih karuniaNya (Gal. 1:15).

Walaupun berupa suara, kasus ini serupa dengan kisah Perjumpaan Kristus yang telah bangkit dengan dua murid di jalan ke Emaus (Luk. 24:13-35). Dalam Lukas 24:16, dikatakan:
”Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” (”But their eyes were holden, that they should not know Him”; “But their eyes were held so as not to recognize Him”)
[οι (hoi; the) δε (de; yet) οφθαλμοι (ophthalmoi; viewer; eyes) αυτων (autOn; of them) εκρατουντο (ekratounto; were held) του (tou; of the) μη (me; no) επιγνωναι (epignOnai; to on know; to recognize) αυτον (auton; Him)]. 


Kemudian dalam Lukas 24:31 terjadilah peristiwa:
”Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia” (“And their eyes were opened, and they knew Him”)
[Αυτων (autOn; of them) δε(de; yet) διηνοιχθησαν (dii̱noichthi̱san; were thru up opened; were opened up) οι (hoi; the) οφθαλμοι (ophthalmoi; viewer; eyes) και (kai; and) επεγνωσαν (epegno̱san; they on know; they recognize) αυτον (auton; Him)]. 


“Terbukalah mata mereka” dalam Lukas 24:31 ini implikasinya mata mereka tadinya tertutup. Tertutupnya mata ini dalam ilmu tasawuf Islam dikenal sebagai ”hijab (tabir)”, yaitu tertutupnya mata batin. Itu adalah istilah yang digunakan dalam Sufisme (Ilmu sufuk (tasawuf) dalam kebatinan Islam; sufi : ahli tasawuf, pengikut kebatinan Islam). Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa arab: تصوف) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.

Hijab (bahasa Arab: حجاب ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hijab memiliki arti:
1.) dinding yg membatasi sesuatu dng yg lain:
2.) dinding yg membatasi hati manusia dan Allah.
Dalam cerita-cerita tentang penampakan yang disajikan Lukas dan Yohanes para murid mula-mula tidak mengenal Tuhan, tetapi baru mengenaliNya setelah Yesus berkata-kata atau memberi tanda (Luk 24:30 dst., Luk 24:35,37 dan Luk 24:39-43; Yoh 20:14,16,20; Yoh 21:4,6-7; bdk Mat 28:17). Sehingga bisa dikatakan disini bahwa “…sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Yesus Kristus Dia (Lukas 24:16) adalah hijab, yaitu tertutupnya mata batin yang kemudian “terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Yesus (Lukas 24:31).

Dalam theologi Orthodox, ”hijab (tabir)” yang menutupi mata hati manusia dari kebenaran Injil (berita keselamatan) itu adalah diakibatkan dosa. Karena itu ”hijab (tabir)” yaitu ”sesuatu yang menghalangi” inilah yang membuat orang tertutup dan sulit menerima kebenaran iman Kristen Apostolik (Rasuliyah) walaupun sudah dijelaskan secara jelas dan gamblang. Tetapi ketika para murid itu menerima Ekaristi Kudus (Perjamuan Kudus), dikatakan: ”Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, ...” (Luk. 24:31). Ini bisa terjadi karena kasih karunia/rahmat Roh Kudus yang menerangi mata batin saja sehingga orang bisa menerima/melihat Dia yang sudah bangkit, yaitu Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

IV. Kisah Para Rasul 26:14 Vs Kisah Para Rasul 9:4-8 & Kisah Para Rasul 22:7-11? 

Kemudian di Kisah Para Rasul 26:14 dikatakan semua rebah ke tanah jadi teman-teman Saulus termasuk Saulus rebah ke tanah, mengapa berita di ayat ini bertentangan dengan dua pasal sebelumnya yaitu Kisah Para Rasul 26:14

Ini adalah gaya peredaksian tabib Lukas ketika menulis Kitab Kisah Para Rasul 26:14. Tidak dituliskannya bahwa teman-teman Saulus rebah ke tanah dalam Kis. 9:4-8 dan Kis. 22:7-11 tidak berarti kedua bab/pasal ini bertentangan dengan bab/pasal 26:14 ini. Sebab jika St. Paulus Rasul pada mulanya terkejut ketika mendengar bunyi ini sehingga rebah ke tanah (Kis. 22:7), maka sangatlah mungkin teman-teman Rasul Paulus juga terkejut dan rebah ke tanah. Tetapi hal jatuh-rebahnya teman-teman Paulus ini sekali lagi bukan menjadi fokus-penekanan pesan-penulisan tabib Lukas tetapi Lukas menulis untuk menekankan Pertobatan Paulus, Kesaksian Pertobatan dan Panggilan Paulus pada orang Yahudi, dan Pembelaan Paulus dihadapan Agripa sesuai judul perikop bab-bab/pasal-pasal ini, sehingga hal rebahnya teman-teman Paulus ini tidak perlu dituliskan. Ini dapat dibandingkan dengan Yohanes 21:25, ”Masih banyak hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu-persatu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu”. 

Oleh Terang Allah Sang Tritunggal Maha Kudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, semoga jawaban-jawaban ini dapat memberikan pencerahan bagi saudara-saudara. Amin!

REFERENSI
1. Gleason L. Archer. Encyclopedia of Bible Difficulties. Foreword by Kenneth S. Kantzer. The Zondervan Corporation. 1982.
2. R.A. Torrey. Jawaban Bagi Keraguan Anda. (Difficulties in the Bible. The Moody Bible Institute of Chicago). Yayasan Kalam Hidup. Bandung 40112.
3. From Wikipedia, the free encyclopedia.
4. Dan lain-lain. 
(sumber: http://monachoscorner.weebly.com/mujizat-pertobatan-rasul-paulus.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar