Minggu, 09 Desember 2012

Iman Kristen Orthodox 3

Iman Kristen Orthodox 3
[by: Fr.Daniel Byantoro]

Picture XXI. Gedung Gereja Orthodox

a. Tata-Atur Bagian Luar

Bangunan Gedung Gereja Orthodox itu secara garis besar mengikuti Unsur-Unsur yang ada dalam bangunan Kemah Suci Nabi Musa atau bangunan Bait Allah Yerusalem. Dimana ruangan dibagi dalam tiga bagian: Halaman (Ruang Pratama), Ruangan Kudus (Ruang Bahtera), dan Ruangan Maha Kudus (Ruang Mezbah). Biasanya bangunan Gedung Gereja Orthodox mengambil salah satu dari beberapa bentuk yang memiliki suatu makna penting secara simbolisme Theologis.


Bentuk yang paling umum adalah bentuk bulat melingkar atau bentuk lonjong memanjang meniru bentuk suatu bahtera, yang berada dibawah pengawasan seorang pengemudi yang cakap untuk membawa penumpang sampai kepada suatu bandar-labuh yang tenang setelah melewati ombak dan badai lautan. Demikianlah Gereja itu dibimbing oleh Kristus, membawa kita tak tercelakai melintas badai lautan dosa serta berjuang untuk mencapai bandar labuh dari Kerajaan Sorga. Bangunan Gedung Gereja juga sering dibangun dalam bentuk Salib untuk memberitakan bahwa kita diselamatkan melalui iman kepada Kristus yang Tersalib, yang bagiNya orang Kristen itu siap untuk menderita segala sesuatu.

Hampir selalu Gedung-gedung Gereja Orthodox itu berkiblat Timur--Barat, dengan jalan masuk utama dari bangunan itu berada di ujung sebelah barat. Ini melambangkan masuknya umat yang akan beribadah itu dari kegelapan dosa (karena barat itu tempat munculnya gelap karena matahari tenggelam di barat) ke dalam terang kebenaran (karena timur itu tempat munculnya fajar, dimana matahari terbit).

Diatas atap dari Gedung-gedung Gereja Orthodox biasanya didapati satu atau lebih kubah. Suatu ciri khas yang unik dari Gedung-Gedung Gereja Orthodox Rusia adalah adanya kubah berbentuk bawang putih diatas atapnya. Bentuk ini mengingatkan kaum beriman akan nyala suatu lilin, yang terbakar menyala naik ke sorga.

Di ujung atas setiap kubah ini dipasang Salib, sarana keselamatan kita. Di dalam Gereja Rusia, bentuk yang paling umum dari Salib ini adalah apa yang disebut sebagai Salib dengan Tiga Kayu Lintang, terdiri dari kayu melintang bentuk Salib yang biasa kita jumpai, dan satu kayu melintang kecil lagi diatasnya, dan yang lain di bawah suatu kayu lintang salib lagi yang dipasang agak menyerong. Secara simbolis, tiga kayu-lintang salib itu menggambarkan, dari atas, papan yang diatasnya tertulis, dalam bahasa Ibrani, Latin dan Yunani, Yesus Orang Nasaret, Raja Orang Yahudi (Yohanes 19:19), kayu-lintang salib utama, adalah tempat dimana kedua tangan Sang Kristus dipakukan, dan bagian yang bawah, adalah tempat dimana kedua kakiNya dipakukan.

Bentuk Salib Tiga Kayu-Lintang ini telah ada dalam seni Kristen dari jaman awal di Byzantium, meskipun biasanya tanpa kayu-lintang bawah itu tidak menyerong, bentuk yang mana adalah khas Rusia. Asal-usul dari tumpuan kaki menyrong ini tidak diketahui, namun dalam simbolisme Gereja Rusia, keterangan yang paling umum adalah ini menunjuk ke atas ke Firdaus bagi Pencuri yang Baik yang berada di sebelah kanan Sang Kristus dan menunjuk ke bawah ke arah Alam Maut bagi si Pencuri yang ada di sebeklah kiriNya (Lukas 23).

b. Penataan Bagian Dalam
Ruang bagian dalam dari Gedung Gereja Orthodox dibagi dalam beberapa bagian. Yang pertama adalah Ruang Pratama atau Narthex (Vestibule; Litia—Bahasa Yunani; Pritvor -- Bahasa Rusia) yaitu sepadan dengan bagian Halaman dalam Kemah Suci, pada zaman purba ini adalah tempat yang besar dan luas, dimana para Katekumen menerima pengajaran sementara mempersiapkan diri untuk Baptisan, dan juga dimana orang-orang yang sedang melakukan penyesalan dosa yang tidak boleh ambil Perjamuan Kudus berdiri.

Bagian utama dari bangunan Gereja itu adalah Ruang Bahtera (Navis) yang adalah sepadan dengan Ruangan Kudus dalam Kemah Suci, terpisah dari Ruang Mezbah (Altar) yang sepadan dengan Ruangan Maha Kudus dalam Kemah Suci, oleh suatu Sekat-Ikon yang memiliki tiga pintu (tengah dan utara serta selatan) yang sepadan dengan Tabir yang memisahkan antara Ruangan Kudus dan Ruangan Maha Kudus, yang disebut Ikonostasis (Penyangga Ikon, Sekat Ikon) Tembok dari Ruang Bahtera ini dihiasi dengan Ikon-ikon dan lukisan-lukisan tembok, yang didepan kebanyakan ikon-ikon tadi tergantung lampu minyak gantung yang menyala (lampadas) yang sepadan dengan hiasan-hiasan Kerub-Kerub yang ada dalam Bait Allah yang dibangun Salomo (I Raja-Raja 6:23-35). Yang khususnya sangat menyolok dalam Gereja-Gereja Orthodox tradisional adalah tidak adanya bangku-bangku. Para Bapa Gereja menganggap amat tidak menghormat bagi setiap orang untuk duduk di bangku selama berlangsung ibadah Ilahi (kecuali pada saat-saat tertentu yang jelas untuk mendengarkan kotbah atau pengajaran atau Pembacaan Mazmur) serta ruang yang terbuka itu dilihat khususnya sangat kondusif untuk melakukan pembungkukan badan dan sujud ke lantai yang banyak di lakukan dan yang merupakan ciri khas ibadah Orthodox.

Pada ujung paling Timur dari bangunan Gereja didapati suatu Mezbah (Altar), dengan dua ruang – Sakristi (tempat menaruh dan menyimpan alat-alat liturgis) dan Vestri (tempat menyimpan busana-busana liturgis)—pada masing-masing sisinya, yang dipisahkan dari Ruang Bahtera oleh Ikonostasis.

c. Ikon-Ikon Kudus -- Theologia dalam Warna
Salah satu hal yang pertama kali menyolok bagi seorang pengunjung yang bukan-Orthodox ke dalam suatu Gedung Gereja Orthodox adalah tempat yang penting yang diberikan kepada Ikon-Ikon Kudus, sama seperti Bait Allah yang dibangun Salomo juga dpenuhi gambar-gambar. Ikonostasis dipenuhi dengan Ikon-Ikon itu, dan ikon-ikon yang lain ditempatkan ditempat-tempat yang penting di seluruh bangunan Gereja. Tembok dan langit-langit dipenuhi dengan lukisan tembok ikon-ikon.

Kaum beriman Orthodox menciumnya karena mereka adalah simbol kehadiran saudara sesama iman yang sekarang berada di sorga dan sesama saudara beriman Kitab Suci memerintahkan untuk saling bersalaman dengan “Cium Kudus” (Roma 16:16, I Kor. 16:20). Dan juga umat sujud di hadapannya karena sebagai orang-orang yang telah mengalami pemuliaan di hadirat Allah maka mereka adalah orang-orang yang ditinggikan Allah, sehingga kita menghormati karunia Allah itu pada mereka. Dalam Kitab Suci sujud itu juga mempunyai beberapa makna:
1) Sujud mutlak dan wajib, hanya boleh kepada Allah sebagai suatu ibadah dan penyembahan (Kejadian 24:26, 52, 17:3, Matius 26: 39, Wahyu 4:10).
2) Sujud haram yang dilarang, yaitu sujud kepada berhala-berhala dan ilah-ilah (Keluaran 20:3-5), sujud kepada malaikat-malaikat atau kepada manusia sebagai makhluk yang disembah dan diper-ilah atau dengan sikap menyembah seperti kepada Allah (Kolose 2: 18, Wahyu 19:10, 22:8-9)
3) Sujud kepada sesama manusia sebagai tanda hormat yang tak diwajibkan namun juga tak dilarang, misalnya sujudnya Abraham kepada penduduk negeri Hebron (Kejadian 23:12), sujudnya Yakub kepada Esau abangnya (Kejadian 33: 3), sujudnya ayah-ibu Yusuf kepadanya dalam mimpi (Kejadian 37: 10), dan lain-lain.
Sujud umat Orthodox dalam hal ini adalah sujud jenis ketiga ini. Karena umat Orthodox tidak menyembah gambar waktu melakukan itu, namun menghormati makna Theologia yang terlukis padanya, dan menghormati orang yang digambarkan padanya, tanpa sedikitpun terpikir bahwa mereka itu dewa, ilah, atau makhluk yang berkuasa. Umat Orthodox melihat para orang kudus yang digambar disitu adalah teladan yang harus dihormati, dan menurut Alkitab sujud jenis ketiga itu adalah bentuk penghormatan mendalam itu.

Serta umat Orthodox membakar lilin di depannya, karena ikon itu adalah simbol Theologis yang menyatakan kebenaran Injil, maka dengan apa yang dilakukan ini ia memohon kepada Allah agar hatinya diterangi untuk mengerti kebenaran Injil secara nyata, yang ikon itulah simbolnya. Ikon-ikon itu didupai oleh Presbyter lambang doa umat yang dibumi ini disatukan dengan doa-doa saudara-saudara mereka yang ada di sorga yang kehadiran mereka disimbolkan dalam ikon-ikon, sebab dupa itu lambang doa-doa orang kudus (Wahyu 5:8) dan dibawa dalam arak-arakan sebagai pendramaan keikut-sertaan dari para saudara seiman di sorga itu dalam sukacita mereka yang ada dibumi. Jadi tak ada penyembahan berhala dalam semuanya ini. Melihat makna penting yang begitu menyolok dari Ikon-Ikon Kudus itu, maka tentu saja pertanyan-pertanyaan akan diajukan mengenai hal itu: Apa kiranya makna dari gerak-gerik dan tindakan-tindakan itu? Apakah makna penting dari ikon-ikon itu? Jika itu bukan berhala atau semacam apa yang dilarang dalam Perjanjian Lama, lalu apa ikon-ikon itu?

Ikon-ikon telah digunakan untuk doa dari abad-abad pertama keKristenan. Tradisi Suci memberi tahu kita, misalnya, mengenai adanya suatu Ikon dari Sang Juruselamat selama masa hidupNya (“Ikon Yang Tak Terbuat oleh Tangan”) dan mengenai Ikon dari Sang Theotokos Tersuci (Bunda Maryam) langsung sesudah Dia. Tradisi Suci menyaksikan bahwa Gereja Orthodox memiliki pengertian yang jelas mengenai pentingnya ikon-ikon sejak dari permulaannya; dan pengertian ini tak pernah berubah, karena itu diambil dari pengajaran-pengajaran mengenai Penjelmaan Firman Allah sendiri menjadi Manusia yang sejak kekal berada satu dalam Diri Allah Yang Esa bersama Roh Allah sendiri. Firman Allah yang menjadi Manusia inilah (Yohaes 1:14) Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus. Penggunaan Ikon-Ikon itu dilandaskan pada hakekat keKristenan itu sendiri, karena keKristenan itu adalah Wahyu dari Allah (Firman Allah) yang menjadi Manusia yang pada hakekatNya bukan hanya sebagai Firman Allah saja (Yohanes 1:1), namun juga sebagai Gambar Allah (Kolose 1:15), karena seperti yang dikatakan oleh Rasul Yohanes Sang Penulis Injil, ”Firman itu telah menjadi daging, dan tinggal diantara kita” (Yohanes 1:14).

"Tak seorangpun pernah melihat Allah, namun Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, itulah yang menyatakanNya” (Yohanes 1:18), demikian pernyataan Sang Penulis Injil. Yaitu, Dia telah menyatakan Gambar atau IkonNya Allah. Karena sebagai Cahaya Kemuliaan Allah dan Gambar Wujud Allah (Ibrani 1:3), Firman Allah di dalam PenjelmaanNya itu telah menyatakan kepada dunia, di dalam ke-ilahi-anNya sendiri, Gambar dari Sang Bapa. Ketika Filipus bertanya kepada Sang Kristus: "Tuhan, tunjukkanlah kepada kami Sang Bapa itu, Dia menjawabnya: Bukankah Aku telah begitu lama besertamu, namun engkau masih belum kenal Aku Filipus? Barangsiapa telah melihat Aku telah melihat Bapa." (Yohanes 14:8-9). Dengan demikian sebagaimana Sang Putra itu berada dalam pangkuan Sang Bapa (Yohanes 1:18) yaitu berada di dalam kedalaman hakekat Bapa, demikian juga sesudah PenjelmaanNya sebagai manusia, Dia itu tetap satu-dzat-hakekat dengan Sang Bapa menurut ke-ilahianNya, sebagai Gambar dari Sang Bapa, satu dan setara dalam kehormatan dengan Sang Bapa karena Dia berada satu didalam Allah Yang Esa itu.

Kebenaran tentang Firman Allah yang menjadi Manusia dan sebagai Gambar Allah yang diekspresikan diatas, dan yang telah diwahyukan dalam Kekristenan, inilah yang merupakan landasan bagi seni gambar Kristen. Gambar (Ikon) tidak bertentangan dengan hakekat dari keKristenan, tetapi malahan itu terkait erat tak dapat dipisahkan dengannya; dan inilah landasan dari tradisi yang dari awal mulanya Kabar Gembira itu dibawa ke dalam dunia oleh Gereja, baik dalam wujud perkataan maupun dalam wujud gambar.

Bapa Suci Yohanes dari Damaskus, seorang Bapa Gereja abad kedelapan, yang menulis pada puncak pertikaian ikonoklasme (anti-ikon) dalam Gereja, menerangkan, bahwa karena Firman Allah telah menjadi daging (Yohanes 1:14), kita tak lagi dalam masa bayi kita, kita telah menjadi dewasa, kita telah diberikan oleh Allah kemampuan untuk membeda-pilahkan dan kita tahu apa yang dapat digambarkan dan apa yang tak dapat digambarkan. Karena Hypostasis kedua dalam Tritunggal Maha Kudus (Firman Allah sendiri) menampakkan diri kepada kita dalam daging, kita dapat menggambarkanNya dan melukiskanNya bagi perenungan akan Dia yang telah merendahkan diriNya untuk dapat dilihat. Kita dengan penuh keyakinan menggambarkan Allah yang Tak Nampak Mata – bukan sebagai Ia yang tak nampak mata. Tetapi sebagai Dia Yang telah membuat diriNya sendiri melalui FirmanNya yang Menjelma, menjadi nampak mata demi kita dengan ikut ambil bagian di dalam daging dan darah kita.

Ikon-Ikon Kudus, berkembang beriring-iringan dengan Ibadah-Ibadah Ilahi, dan, sebagaimana Tertib Ibadah-Ibadah mengekspresikan pengajaran Gereja sesuai dengan kata-kata Alkitab. Mengikuti pengajaran dari Konsili Ekumenis ke 7, ikon-ikon bukan dilihat hanya sekedar sebagai seni saja, namun ada kesatuan yang sempurna antara Ikon-Ikon dan Kitab Suci, “karena jika Ikon-Ikon ditunjukkan oleh Kitab Suci, Kitab Suci dibuat secara tak terbantah lagi menjadi jelas oleh Ikon” (Akta Konsili Ekumeis ke 7:6). Sebagaimana kata-kata Kitab Suci adalah suatu Gambaran, demikianlah Gambar itu juga adalah suatu perkataan , karena, menurut Bapa Suci Basilius Agung ( 379 Masehi):
Dengan menggambarkan Yang Ilahi, kita tidak menjadikan diri kita sendiri mirip para penyembah berhala, karena bukannya lambang bendawi itu yang kita sembah, tetapi Sang Pencipta, Yang melalui FirmanNya Yang Menjelma telah menjadi daging demi kita dan mengambil tubuh kita agar melaluinya Dia boleh menyelamatkan manusia. Kita juga menghormati benda-benda jasmani yang melaluinya keselamatan kita telah dijadikan kenyataan – Kayu Salib yang terberkati, Kitab Injil Kudus, Sisa-Sisa/Peninggalan-Peninggalan Suci para Orang Kudus, dan, terutama sekali, Tubuh dan Darah Kristus , yang memiliki sifat-sifat mengaruniakan kasih-karunia/rahmat serta Kuasa Ilahi. 
Orang Kristen Orthodox tidak menghormati Ikon Kristus karena kodrat kayunya atau catnya, namun lebih karena melalui perenungan makna dari Gambar yang mati dari Kristus itu maka Ia memahami kasih karunia Allah dalam mengutus Kristus ke dunia serta dengan itu memperkokoh niatnya untuk menyembah Allah di dalam Kristus, FirmanNya yang menjelma, sebagai Firman Allah yang menjelma melalui benda itu.

Kita mencium Ikon dari Sang Perawan Yang Terberkati sebagai Bunda dari Putra Allah secara manusia, sebagaimana kita mencium Ikon-Ikon para Orang Kudus sebagai sahabat-sahabat Allah yang berjuang melawan dosa. Mereka telah meneladani Kristus dengan mencurahkan darah mereka bagiNya dan mengikuti jejak-jejakNya. Para Orang Kudus dihormati sebagai mereka yang dimuliakan dan yang oleh pertolongan Allah, telah menjadi sosok yang menakutkan bagi Si Musuh (Iblis), dan dengan perjuangan mereka sampai mati mereka menjadi para pemberi semangat bagi mereka yang terus maju dalam iman – jadi bukan sebagai dewa-dewi atau ilah yang mampu memberikan apa saja oleh kekuatan mereka sendiri, namun lebih sebagai hamba-hamba Allah yang diberi keberanian dalam roh sebagai balasan dari kasih mereka akan Dia. Kita memandang pada gambar perjuangan rohani dan penderitaan mereka sehingga kita terdorong untuk menyucikan diri kita sendiri melalui teladan mereka serta untuk memberi semangat kepada diri kita sendiri untuk meneladani mereka

Ikon-Ikon para Orang Kudus bertindak sebagai titik pertemuan antara anggota-anggota Gereja yang masih hidup di dunia ini (Yang Sedang Berjuang) dan para Orang Kudus yang telah melewati bumi ini dan hidup dalam Gereja di Sorga (Gereja Yang Sudah Menang). Para Orang Kudus yang digambarkan dalam Ikon bukanlah sosok yang jauh dan hanya bersifat dongeng-legenda dari masa lalu, namun sahabat-sahabat pribadi di masa kini. Sebagai titik temu antara bumi dan Sorga, Ikon-Ikon dari Kristus, BundaNya, para Malaikat, dan para Orang Kudus terus-menerus mengingatkan para orang beriman akan hadirat yang tak nampak mata dari seluruh penghuni Sorga; ikon-ikon itu secara nampak mata mengekspresikan ide tentang Sorga diatas bumi.

d. Ikonostasis/ Ikonostasion

Ciri khas yang paling menonjol dari bangunan Gedung Gereja Orthodox adalah Ikonostasis/Ikonostasion sepadan dengan Tabir dalam Kemah Suci Nabi Musa atau Bait Allah Raja Salomo, yang terdiri dari satu atau lebih deretan Ikon-Ikon dan terputus oleh sejumlah pintu-pintu di tengahnya (Pintu Gerbang Indah atau Pintu Gerbang Kudus Atau Pintu Gerbang Raja) karena Tabir itu telah terbelah pada saat Yesus Kristus disalibkan (Matius 27:51) dan pintu di masing-masing sisinya – utara dan selatan (Pintu Diakon).

Secara khas biasanya Ikonostasis terdiri dari satu atau lebih deretan ikon-ikon. Di tengah dari deretan yang pertama , atau deretan yang paling rendah, yaitu yang berada di daun pintu penutup Pintu Gerbang Indah , disitu diletakkan Ikon dari keempat Penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) yang memberitakan Kabar Baik – Injil - dari Sang Juru Selamat kepada dunia. Tepat ditengah dari dari Pintu Gerbang Indah adalah Ikon dari Peristiwa Pemberitaan Malaikat Gabriel kepada Sang Theotokos Tersuci, karena peristiwa ini adalah awal atau permulaan dari keselamatan kita. Diatas Di atas Pintu Gerbang Indah ditempatkan Ikon dari Perjamuan Mistika ( Perjamuan Terakhir yang dilakukan Yesus dengan Murid-muridNya) karena, di Mezbah dibelakang Pintu Gerbang Indah ini, Misteri Perjamuan Kudus (Ekaristi Suci) dirayakan untuk mengingat Sang Juru selamat yang menetapkan dilaksanakannya Sakramen Perjamuan Kudus ini.

Di masing-masing sisi dari Pintu Gerbang Indah selalu diletakkan satu Ikon dari Sang Juruselamat (sebelah kanan) dan ikon dari Sang Theotokos Tersuci --Perayawan Maryam--(sebelah kiri). Di masing-masing sisi dari Pintu Gerbang Indah. Di sebelah kiri Ikon Sang Kristus ditempatkan Ikon Nabi Yohanes Pembaptis, dan di sebelah kanan Ikon Sang Theotokos ditempatkan Ikon Orang Kudus atau Peristiwa Suci yang namanya digunakan sebagai nama Gereja setempat. Di masing-masing sisi dari ikon-ikon ini terdapat dua pintu –Pintu Diakon- yang diatas daun-daun pintunya digambarkan entah diakon-diakon suci atau Malaikat-malaikat - yang selalu melayani di Mezbah Sorgawi, sama sebagaimana yang dilakukan diakon-diakon di bumi ini selama Ibadah-Ibadah Ilahi. Ikon-Ikon yang lain yang mempunyai makna penting bagi Gereja lokal itu juga ditempatkan pada deretan pertama dari Ikonostasis, itulah sebabnya deretan paling bawah ini sering disebut sebagai Ikon-ikon Lokal.

Naik lagi diatas Ikon-Ikon Lokal masih ada tiga deretan lagi. Langsung diatas Ikon Perjamuan Mistika ditempatkan Ikon dari Sang Juruselamat mengenakan jubah kebesaran, diiring disebelah kiri dan kanannya oleh IbundaNya dan Yohanes Sang Perintis Jalan dan serentetan ikon-ikon para orang kudus, termasuk Malaikat Penghuklu Mikhael dan Gabriel, Rasul Paulus dan Rasul Petrus dan para Episkop Suci dan Para Martir. Deretan ini disebut sebagai Deisis (doa), karena semua pada deretan ini menghadapkan wajah mereka kepada Kristus dalam sikap memohon dalam doa. Deretan yang langsung diatasnya adalah Ikon-Ikon dari Perayaan-Perayaan Utama dari Sang Kristus dan BundaNya: Sang Theotokos.

Dua Belas Perayaan Gereja Penanggalan Gerejawi memulai tahunnya dari tanggal 1 September. Yang paling utama di antara perayaan-perayaan itu adalah Paskah, Perayaan dari segala peraayaan, yang berdiri dalam kelasnya yang tersendiri. Yang terpenting ke dua setelah Paskah adalah Dua Belas Pesta Besar, biasanya dihitung sebagai berikut:
1.Kelahiran Sang Theotokos (8 September)
2.Pengangkatan Salib Yang Terhormat dan Memberi Hidup (14 September)
3.Masuknya Sang Theotokos ke Dalam Bait Allah (21 November)
4.Kelahiran Sang Kristus atau Natal (25 Desember)
5.Baptisan Sang Kristus di Sungai Yordan atau Epiphani (6 Januari)
6.Pertemuan Sang Kristus atau Penyerahan Sang Kristus ke Bait Allah (2 Februari)
7.Pewartaan Malaikat Gabriel kepada Sang Theotokos (25 Maret)
8.Masuknya Sang Kristus ke Yerusalem atau Minggu Palem (Minggu sebelum Paskah)
9.Kenaikan Sang Kristus ke Sorga (40 hari sesudah Paskah)
10.Pentekosta atau di Gereja Barat dikenal sebagai Minggu Putih, tetapi di Gereja Timur dikenal sebagai Mingu Tritunggal Kudus (50 hari sesudah Paskah)
11.Pengubah Muliaan Sang Kristus (6 Agustus)
12.Wafatnya Sang Theotokos (15 Agustus).
Dengan demikian tiga dari dua belas Perayaan-perayaan Agung bergantung pada hari Paskah dan merupakan perayaan “yang bergerak” atau “yang berubah-ubah”; sedangkan yang lainnya adalah perayaan “yang tetap” atau “yang tidak bergerak”. Tujuh buah adalah perayaan-perayaan bagi Sang Kristus, dan lima buah adalah perayaan-perayaan bagi Sang Theotokos.

Deretan yang paling atas ditempati oleh ikon-ikon dari Nabi-Nabi Perjanjian Lama - yang ditengah-tengah mereka adalah Sang Theotokos dengan Bayi Kristus yang ada sejak kekal, dan yang adalah harapan mereka , penghiburan mereka dan merupakan isi dari nubuat-nubuat mereka. Di atas puncak yang paling atas dari Ikonostasis diletakkan Salib Suci, yang diatasnya Sang Kristus Tersalib, yang dengan demikian telah memunculkan keselamatan kita.

e. Mezbah / Altar
Mezbah/ Altar terletak dalam ruang di belakang Ikonostasion sepadan dengan Ruangan Maha Kudus dalam Kemah Suci atau Bait Allah, itu dipisahkan secara khusus hanya untuk mereka yang memimpin pelaksanaan Ibadah-ibadah Ilahi dan para pembantu pelaksanaan itu, sepadan dengan Imam Besar saja yang diperbolehkan masuk ke Ruangan Maha Kudus (Ibrani 9:7), dan biasanya orang-orang yang tidak disisihkan melalui pentahbisan atau doa-doa dari Episkop bagi pelayanan Gereja ini tidak diijinkan untuk masuk. Yang menempati tempat utama dari Ruang Mezbah ini adalah Meja Kudus (Meja Perjamuan), yang menggambarkan Takhta Allah, yang Tuhan sendiri secara tak nampak mata hadir disitu. Itu juga menggambarkan Kubur Sang Kristus, karena TubuhNya (Benda-Benda Suci: Anggur dan Roti) ditempatkan disitu. Meja Kudus itu bentuknya empat-persegi serta ditutup oleh dua kain penutup meja. Kain penutup meja bagian dalam yang pertama, dibuat dari kain lenan putih, menggambarkan kain kafan yang dengannya Tubuh Sang Kristus dibungkus. Kain penurtup bagian luar itu terdiri dari kain yang disulam dengan hiasan yang sangat indak dan berwarna cemerlang, menggambarkan kemuliaan Takhta Allah. Kedua kain itu menutupi Meja Kudus terjuntai sampai ke lantai.

XXII. Sembahyang Tujuh Kali Sehari

Gereja Orthodox memiliki “Sembahyang/Sholat Tujuh Waktu ” atau "Sembahyang Saat" ("The Prayers of the Hours"). Sebagaimana dalam Perjanjian Lama perayaan-perayaan dan ibadah-ibadah itu dilakukan untuk memperingati hal-hal penting di sekitar peristiwa dan karya Allah dalam melaksanakan pelepasan Israel dari Mesir, dan selama perjalanan mereka di padang gurun. Dan semuanya itu telah secara sempurna digenapi dalam Kristus Yesus. Demikianlah dalam Gereja Orthodox perayaan-perayaannya dilakukan disekitar peristiwa penting dari penggenapan perayaan-perayaan Israel: Peristiwa dan Karya Yesus Kristus bagi pelepasan manusia dari dosa, Iblis dan maut. Karena semua perayaan-perayaan Israel itu sudah digenapi di dalam Yesus Kristus. Sebagaimana Israel belajar tentang imannya melalui perayaan-perayaan yang menceritakan peristiwa-peristiwa karya Allah di dalam Israel, demikianlah Gereja Orthodoxpun berTheologi dengan bersumber dari perayaan-perayaan, ibadah, dan sakramen-sakramennya yang menceritakan peristiwa-peristiwa karya Allah yang sudah dilakukan dalam Kristus Yesus oleh kuasa Roh Kudus. Dengan demikian terdapat kesinambungan semangat dan metode cara penyampaian iman antara umat Israel Purba dan Gereja Orthodox.

Oleh kedatangan Yesus inilah yang kekal itu sudah menerobos ke bumi, sehingga “sang waktu” dirembesi oleh kekekalan dalam kaitannya dengan peristiwa Yesus Kristus. Perembesan waktu oleh kekekalan dalam Kristus Yesus itu ditunjukkan didalam dibaginya waktu dalam lingkaran-lingkaran waktu dalam bentuk Penanggalan Gereja, yang memperingati peristiwa Sejarah Keselamatan itu sendiri. Pembagian waktu-waktu Penanggalan Gereja dalam lingkaran itu adalah dalam bentuk perayaan-perayaan yang dilakukan bagi memperingati Sejarah Keselamatan dalam bentuk Ibadah dan Liturgi. Pembagian lingkaran waktu dalam perayaan-perayaan tadi adalah sebagai berikut: Lingkaran Peringatan dalam Jam: Sebagaimana pada zaman Alkitab dari Israel purba setiap hari memiliki waktu-waktu Sembahyang itu sebanyak dua kali sehari, demikian juga Gereja Orthodox juga memiliki waktu hariannya untuk Ibadah.

Nabi Musa diperintahkan Allah untuk memberitahu Imam Harun agar mempersembahkan korban binatang dan korban dupa pada Mezbah Pedupaan pada Pagi Hari dan Sore Hari setiap harinya (Keluaran 29:38-39, 30:7-8), sehingga dalam sehari ada dua kali peringatan dalam ibadah itu. Pada saat para Imam mempersembahkan Ukupan itu waktunya bagi umat awam untuk melakukan Sembahyang (Lukas 1:9-10). Dalam Gereja Orthodox juga ada lingkaran peringatan dalam jam pada setiap harinya. Untuk peringatan Ibadah Berjemaah dalam Gedung Gereja “Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” sebagaimana yang dilakukan pada Imam di Perjanjian Lama itu tetap dipertahankan setiap harinya dalam wujud Ibadah “Sembahyang Singsing Fajar” (Orthros, Sholatus Sakhar, Matins) dan Ibadah “Sembahyang Senja” (Esperinos, Sholatul Ghurub, Vespers), yang juga sama seperti dalam Perjanjian Lama inti utamanya adalah persembahan dupa. Sedangkan lingkaran peringatan dalam jam itu adalah lingkaran paling kecil yang dilakukan dalam sehari dalam bentuk sembahyang harian. Sembahyang Harian itu dilakukan sebagai berikut: Sembahyang Tujuh dan Tiga Waktu serta Doa spontan: Bagi Umat Kristen non-Orthodox di Indonesia Sembahyang (Sholat) Tujuh Waktu atau Tiga Waktu (dan inipun dapat diringkas Sembahyang Pagi dan Siang atau Sembahyang Siang dan Sore dijadikan satu, sehingga terdapat Sembahyang 2 kali dalam sehari, jika memang kesibukan tak mengijinkan waktu yang banyak) itu memang dianggap aneh, meskipun ini merupakan praktek Gereja sejak Zaman Purba.

Dalam Gereja Orthodox memang dibedakan antara “Sembahyang”, sebagai suatu ibadah dan penyembahan kepada Allah yang disertai waktu tertentu, gerak tubuh tertentu, serta isi doa-doa tertentu, dengan urutan yang telah tertentu pula, dan “Doa” dengan kata-kata spontan langsung yang diucapkan dalam permohonan kepada Allah, bentuk berdoa semacam inilah satu-satunya cara yang dilakukan oleh Gereja-Gereja Protestan. Dalam Gereja Orthodox ada dua bentuk Sembahyang Harian yang mengikuti aturan tertentu ini, yaitu yang mengikuti cara Nabi Daniel: Tiga Kali sehari (Daniel 6:11-12, Mazmur 55:18), atau juga mengikuti pola yang dikatakan oleh Nabi Daud: ”Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji ENGKAU…” (Mazmur 119:164).

Sembahyang tiga kali itu terdiri dari: Pagi (Ringkasan dari Sembahyang Tengah Malam, Pagi dan Jam Ketiga), Tengah-Hari (Ringkasan dari Sembahyang Keenam dan Kesembilan), dan Sore Hari (Ringkasan dari Sembahyang Senja dan Purna Bujana) (Mazmur 55:18). Jadi Sembahyang 3 Kali Sehari adalah ringkasan dari Sembahyang Tujuh Kali Sehari, dan Sembahyang Dua Kali Sehari adalah ringkasan dari Sembahyang Tiga Kali Sehari. Waktu-waktu Sembahyang itu sendiri sudah dimulai sejak zaman Nabi Musa. Allah memerintahkan agar Imam Harun mempersembahkan korban binatang dan korban dupa pada “Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” (Keluaran 29:38-39, 30:7-8). Pada zaman Perjanjian Baru, rumah-ibadah rumah-ibadah Yahudi (synagoga-synagoga) melakukan ibadah pagi dan ibadah senjanya bersamaan waktu-waktu korban dan pembakaran ukupan di Bait Allah ini. Dan para rasul Kristus mengikuti pola “waktu sembahyang” ini, seperti yang tertulis: ”Pada suatu hari menjelang WAKTU SEMBAHYANG, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah” (Kisah 3:1). Beberapa waktu sembahyang lagi yang dicatat dalam Perjanjian Baru adalah: ”Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul pada suatu tempat” (Kisah 2:1), tentunya untuk berdoa. Dan dalam doa atau sembahyang itulah peristiwa Pantekosta itu terjadi, dan Petrus menerangkan jam saat mereka sembahyang itu dengan mengatakan: ”Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka (karena mereka berbahasa asing itu), karena hari baru PUKUL SEMBILAN “ (Kisah 2:15), yaitu pukul sembilan pagi. Dari sini kita sudah melihat empat waktu sembahyang: Pagi, Jam Sembilan, Jam Tiga Petang, dan Senja. Waktu Sembahyang yang dicatat lagi oleh Perjanjian Baru adalah:  "Jawab Kornelius:’ Empat hari yang lalu, kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah…” (Kisah 10:30), yaitu waktu yang sama yang disebut dalam Kisah 3:1 diatas. Disamping itu ada lagi catatan: ” …kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa” (Kisah 10:9), inilah waktu sembahyang Siang. Dan yang terakhir: ”Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah…” (Kisah 16:25). Dari sini kita melihat ada dua waktu sembahyang lagi: Waktu Tengah Hari dan Waktu Tengah Malam. Jadi kalau digabungkan dengan data diatas sudah ada 6 waktu Sembahyang menurut Kitab Suci, yaitu: Waktu Pagi (Sebanding Sholat Subuh dalam Islam) yang dalam Gereja Orthodox merupakan peringatan kelahiran dan kebangkitan Kristus Sang Terang Dunia itu yang merupakan Natal dan Paskah Harian, Waktu Jam Sembilan (Sebanding Sholat Dhuha dalam Islam tetapi bukan sholat wajib dalam Islam) yang dalam Gereja Orthodox sebagai peringatan TurunNya Roh Kudus atau Pentakosta Harian, Waktu Tengah Hari (Sebanding Sholat Dzuhur dalam Islam) yang dalam Gereja Orthodox merupakan peringatan saat Yesus disalibkan: Jum’at Agung Harian, Waktu Jam Tiga Siang (Sebanding Sholat Asyar dalam Islam) yang adalah merupakan peristiwa saat Yesus menghembuskan nafasNya: Masih Peringatan Jum’at Agung Harian, Waktu Senja (Sebanding Sholat Maghrib dalam Islam) yang dalam Gereja Orthodox ini adalah Peringatan Penguburan Yesus Harian: Sabtu Kudus Pagi Harian, dan waktu Tengah Malam (Sebanding Sholat Tahajud dalam Islam namun yang juga bukan sholat wajib bagi Islam) yang dalam Gereja Orthodox ini adalah Peringatan akan Kedatangan Kristus seperti Pencuri di waktu Malam. Yang terakhir adalah sholat sesudah senja yaitu sholat akan tidur: ”….Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku….Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur…” (Mazmur 4:1-9), ini sebanding dengan sholat Isya’ dalam Islam.

Dengan mengetahui sembahyang-sembahyang Gereja Purba yang tetap dipelihara Gereja Timur Orthodox ini, kita melihat korelasi Ibadah Orthodox dengan sholat-sholat Islam itu, sebab Gereja Orthodox telah lebih dahulu ada sebelum Islam lahir.Sedangkan sikap-sikap dalam sholat itu dikatakan oleh Perjanjian Baru sebagai “berdiri” (Markus 11:25), “berlutut dan bersujud” atau “membungkuk dan tersungkur” (Matius 26:39, 14:35, Lukas 22:41, Kisah Rasul 20:36, Wahyu 4:10),” mata terbuka menengadah kelangit” (Yohanes 17:1), serta “menadahkan tangan” (I Timotius 2:8), dan membuat tanda salib dalam saat urutan-urutan tertentu dalam doa itu. Sembahyang ini dimulai dengan doa yang bernama Trisagion, diikuti dengan beberapa Mazmur yang sudah tertentu pada masing-masing waktu, lalu doa-doa tertentu yang sesuai dengan tema dari saatnya, dan diakhiri dengan salam terakhir.

Sedangkan Doa spontan dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dengan cara apa saja asal hormat dan sopan, menggunakan bahasa spontan, dan menghadap kemana saja. Sedangkan untuk Sembahyang yang beraturan itu menghadapnya adalah kearah Timur. Ini disebabkan Kristus adalah penggenapan dari Ka’bah Yahudi (Yohanes 2:19-21), dan Ia sekarang berada di Sorga (Filipi 3:20-21). Ke arah Ka’bah (Bait Allah) yang hidup: Yesus Kristus ini umat Orthodox berkiblat. Padahal kita tidak tahu arah Sorga itu dimana, maka lambang Sorga yaitu Taman Eden yang terletak di sebelah Timur itu yang dijadikan patokan arah simbolis dari Sorga (Kejadian 2:8). Namun ini juga bermakna bahwa ummat Orthodox yang melakukan Sembahyang terus-menerus diingatkan untuk selalu bersiap diri bagi datangnya Hari Penghakiman yang tak pernah terduga, dimana Kristus akan datang sebagai Hakim dan KedatanganNya itu akan “sama seperti kilat memancar DARI SEBELAH TIMUR dan melontarkan cahayanya sampai ke barat” (Matius 24: 27).

XXIII. Puasa

Puasa dalam Gereja Orthodox bukanlah sebagai sarana menumpuk amal atau jasa untuk mendapatkan keselamatan atau sebagai usaha mencari pembenaran ilahi. Puasa adalah disiplin rohani agar rahmat keselamatan di dalam Roh Kudus yang telah diterima secara cuma-cuma dalam iman kepada Kristus itu menjadi realita yang menuntun kepada pengudusan dan perendahan diri di hadirat Allah. Puasa adalah saat menguji iman dan kasih seseorang akan Allah di dalam Kristus. Puasa bukan untuk mencari pahala, karena keselamatan itu kasih karunia dan bukan karena amal-baik manusia. Keselamatan dalam ajaran Iman Kristen Orthodox itu tak berarti sekedar naik Sorga demikian saja, namun lebih dari itu adalah untuk manunggal dalam kehidupan Allah sendiri, yang panunggalan itu tak dapat dicapai oleh perbuatan manusia sendiri, namun melalui Turunnya Kalimatullah ke bumi yang menghancurkan kuasa maut dan menyatakan hidup kekal. Berarti keselamatan itu bukan hasil usaha manusia namun semata-mata karena kasih-karunia Allah di dalam KalimatNya yang Turun ke bumi sebagai daging (Efesus 2:8-10). Dan karya kematian Kalimatullah yang menghancurkan maut serta kebangkitanNya yang menyatakan hidup kekal itu di rayakan terutama dalam Ibadah Perjamuan Kudus sebagai ibadah inti Iman Kristen Orthodox.

Dalam Perjamuan Kudus inilah ummat menerima kasih-karunia penyatuan dengan hidup kekal yang telah dinyatakan oleh kebangkitan Kristus itu. Untuk memperdalam dan memelihara makna penyatuan dengan Kristus serta kasih-karunia yang diterima dalam Perjamuan Kudus ini, maka ibadah-ibadah yang lain dilaksanakan: Sembahyang Tujuh Kali Sehari yang masing-masingnya mempunyai makna Perayaan dari segenap Kehidupan Kristus, Puasa (sebagai disiplin dalam praktek panunggalan dengan kematian Kristus untuk mematikan hawa-nafsu, serta manunggal dengan kebangkitan Kristus guna memunculkan sifat-sifat manusia baru), Taffakur-Dzikir ‘’Doa Yesus’’ sebagai penyatuan Batin dengan Pribadi Yesus Kristus, Membaca Kitab Suci untuk mendapatkan Bimbingan Ilahi mengenal Kristus lebih dalam lagi, dan lain-lain. Maka teranglah bahwa iman Kristen Orthodox tak pernah berbicara mengenai ‘’pahala’’ sebagai upah dari ibadah semacam itu. Karenanya ibadah-ibadah itu tak dimengerti sebagai amal yang mendatangkan ‘pahala’, namun sebagai disiplin rohani dalam memperdalam panunggalan manusia dengan Kristus oleh iman. Dan iman yang demikian inilah iman yang hidup karena ‘’iman tanpa perbuatan itu pada dasarnya mati’’ (Yakobus 2:26). Iman Kristen Orthodox tak mempercayai bahwa perbuatan kesalehan itu yang menyelamatkan manusia. Karena keselamatan itu berarti menyatu dengan Kristus, bukan sebagai upah atau pahala berbuat baik ataupun melaksanakan ibadah. Kristus yang menjadi landasannya dan Kristus pula yang menjadi tujuan akhir dari semua ibadah ini, bukan pada tata-aturan ibadahnya sendiri meskipun sebagai disiplin rohani tata-aturan itu penting, jadi memang jauh berbeda dengan perbuatan kesalehan Taurat yang dimengerti oleh umat Yahudi, atau ketaatan pada hukum syariat dalam pemaham Islam. Demikianlah maka dalam kaitan dengan makna hubungan akidah dan ibadah ini puasa harus dimengerti dalam memahami makna puasa dalam penghayatan Iman Kristen Orthodox. Puasa tak boleh dimengerti dalam dirinya sendiri, namun dalam kaitannya dengan tujuan akhir hidup Kristen: Manunggal dengan Kristus.

Dalam Perjanjian Lama kita menjumpai banyak sekali ajaran tentang puasa ini. Puasa dalam bahasa Ibrani disebut sebagai ‘’sum’’ (sebanding dengan kata ‘’shoum’’ dalam bahasa Arab). Kata ‘’sum’’ (puasa) ini sering digabungkan dengan kata ‘’innah nefesy’’ (‘’merendahkan diri’’) - Imamat 16:29, 31. 23:27, 32, Bilangan 29:7; Yesaya 58:3, Mazmur 35:13- Namun sering juga hanya disebut sebagai ‘’ tidak makan roti dan tidak minum air’’ saja ( Keluaran 34:28). Bentuk dan tujuan puasa itu banyak macamnya. Puasa itu dijalankan oleh ummat Israel dalam persiapan mereka untuk perjumpaan dengan Allah ( Keluaran 34:28; Ulangan 9:9. Daniel 9:3). Puasa dijalankan oleh perorangan kalau mendapatkan masalah yang berat ( II Samuel 12: 16-23; I Raja-raja 21:27; Mazmur 35:13; 69:10). Namun itu juga dilaksanakan oleh seluruh bangsa secara bersama jika menghadapi bahaya peperangan dan penghancuran ( Hakim-hakim 20:26; II Tawarikh 20:3; Ester 4:16; Yunus 3:4-10); pada saat ancaman bencana belalang (Yoel 1 dan 2); untuk mendapatkan keamanan perjalanan para tawanan kembali ke Yerusalem ( Ezra 8:21-23) dan sebagai upacara pendamaian dengan Allah ( Nehemia 9:1); dan akhirnya berkaitan dengan upacara dukacita kematian ( II Samuel 1:12 ). Puasa selalu dilakukan bersama-sama dengan doa ( Yeremia 14:11-12, Nehemia 1:4; Ezra 8:21,23). Puasa biasanya dimulai dari pagi dan berakhir pada sore hari ( Hakim-hakim 20:26; I Samuel 14:24; II Samuel 1:12), meskipun ada kalanya dilakukan puasa total 3 hari 3 malam ( Ester 4:16). Dalam Mazmur 109:24 kesulitan jasmani karena puasa merupakan refleksi kesulitan batin yang dialami oleh yang menjalankan puasa itu. Ada satu puasa yang diwajibkan bagi segenap bangsa Israel yaitu pada saat Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur) - Imamat 16:29-31; 23:27-32; Bilangan 29:7) . Dan sesudah penghancuran Yerusalem (587 ses.Mas.) puasa empat-buah hari-hari puasa ditetapkan sebagai peringatan ( Zakharia 7:3-5; 8:19).

Sering makna puasa yang terdalam sebagai perendahan diri di hadapan Allah ini menjadi tak dimengerti serta diperdangkal oleh manusia , sehingga dianggap hanya sebagai usaha mencari pahala dari amal kesalehan saja. Para nabi berusaha keras menentang pendangkalan makna puasa ini (Yesaya 58:3-7; Yeremia 14:12), namun sering tak digubris. Pada zaman Yesus Kristus orang-orang yang ingin lebih mendalam dalam keagamaannya, terutama kaum Farisi, menjalankan puasa dua kali seminggi (Senin-Kamis) (Lukas 18: 12), demikian juga murid-murid Yohanes menjalankan peraturan yang sama.

Kata ‘’sum’’ dalam bahasa Ibrani Perjanjian Lama ini berbunyi ‘’neestia/ nistia’’ dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru. Karena praktek yang sudah umum diantara bangsa Yahudi mengenai puasa ini, Yesus tidak memberikan rincian mengenai bagaimana harus berpuasa. Dia hanya mengandaikan bahwa orang beriman itu pasti berpuasa, yang disertai dengan sembahyang serta shodaqoh (tsedeqa, Ibrani) (Matius 6: 1-18). Yesus mengatakan: ’’Dan apabila kamu berpuasa...’’ (Matius 6:16). Menunjukkan ada saatnya orang beriman berpuasa (‘’apabila’’), sebagai suatu kemestian ibadah. Dia tak mengatakan: ’’ Jikalau kamu berpuasa ...’’, seolah-olah orang beriman punya pilihan untuk melaksanakan kalau mau, atau tidak melakukan kalau tidak mau. Konteks kepada siapa Dia mengatakan ajaran ini tidak memungkinkan tafsiran yang demikian ini. Memang untuk murid-mridNya Yesus menunjukkan kapan saatnya mereka menjalankan puasa itu, pada saat Dia ditanya oleh orang-orang saat murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa: ’’Mengapa murid-murid murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?’’ (Markus 2:18). Yesus menjelaskan bahwa saat berpuasa bagi murid-muridNya adalah nanti bila ‘’mempelai (Kristus) itu diambil dari mereka (naik ke Sorga)’’ (Markus 2: 20): ‘’PADA SAAT ITULAH MEREKA AKAN BERPUASA’’ Berarti puasa bagi murid Yesus barulah akan dijalankan sesudah Yesus naik ke sorga, oleh karena itu para murid tak diberi rincian aturan bagaimana berpuasa karena aturan puasa itu terkait dengan paripurnanya Karya Keselamatan Yesus yaitu naikNya ke Sorga.

Dengan demikian puasa yang akan dilakukan ummat beriman itu berbeda dengan puasa umat Yahudi, puasa ini akan bersifat Kristus-sentris, sehingga oleh Yesus dikatakan bahwa puasa Kristen itu sebagai ‘’ kain yang belum susut’’ serta ‘’ anggur yang baru’’. Oleh sebab itu tak boleh ditambalkan pada ‘’baju yang tua’’ atau dmasukkan ke dalam ‘’kantong kulit yang tua ‘’ (Markus 2:21-22). Baju tua dan kantong kulit tua ini sistim keagamaan orang Yahudi. Sedangkan ‘’ kantong kulit yang baru’’ itu adalah kehidupan yang berpusatkan pada Kristus. Maka dalam konteks hidup dalam Kristus dan berlandaskan Kristus inilah puasa Kristen itu harus dilakukan. Namun Yesus sendiri juga memberi teladan bagaimana Dia sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam (Matius 4:2). Yesus juga mengajarkan bahwa pada saat mengusir roh-jahat orang perlu berpuasa dan berdoa (Matius 17:21). Dan akhirnya kita melihat bahwa sesuai dengan ajaran Yesus Kristus, Sesudah KenaikanNya ke Sorga para murid Yesus Kristus zaman perdana yaitu Gereja Kristus melaksnakan puasa ini ( Kisah 13:3, 14:23). Demikianlah data-data Alkitab mengenai bagaimana puasa itu dilaksanakan. Dan apa yang sudah dimulai dalam masa Perjanjian Baru ini dilanjutkan secara berkesinambungan dalam kehidupan Gereja sepanjang abad sebagaimana yang masih tetap dipelihara dalam Gereja Orthodox selama hampir 2000 tahun ini.

XXIV. Persepuluhan & Sedekah

Persepuluhan & Sedekah adalah ajaran Kitab Suci mengenai bagaimana kita dapat memuliakan Allah dengan harta milik kita serta bagaimana kita dapat menyucikan harta milik kekayaan kita itu agar bukan menjadi tandingan dan pengganti Allah serta tak menuntun kita kepada kemusyrikan yang mendatangkan murka Allah itu.“Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu” (Amsal 3:9). Karena harta itu juga benda ciptaan milik Allah, maka itupun harus tunduk kepada Allah, maka satu-satunya jalan agar manusia tidak jatuh dalam kemusyrikan melalui harta miliknya, adalah mengabdi dan menghambakan harta tadi kepada Allah dengan menggunakannya untuk kemuliaan Allah.

Dengan cara itu sajalah harta itu menjadi suci dari beban kemusyrikan dan noda pemberhalaan. Sedangkan bagaimana kita memuliakan Allah dengan harta dan menghambakan harta kepada Allah itu dijelaskan demikian: “Ikatlah persahabatan (lakukan perbuatan-perbuatan baik, saleh dan kebajikan semacam persahabatan itu) dengan mempergunakan Mamon (melalui harta kekayaan yang engakau miliki) yang tidak jujur (yang tidak tetap dan selalu berubah keadaannya), supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong (supaya jika harta kekayaan itu sudah tidak berfungsi dan tak kau butuhkan lagi, terutama pada saat kau mati) kamu diterima dalam kemah abadi (Sorgalah sebagai ganti kekayaan itu)” (Lukas 16:9). Beberapa cara “mengikat persahabatan dengan menggunakan Mamon” (berbuat kesalehan, kebajikan, dan kebaikan dengan menggunakan harta kekayaan) itu dijelaskan oleh Almasih demikian: “Juallah segala milikmu (terutama bagi mereka yang terpanggil untuk hidup seratus-persen bagi mengabdi kepada Allah di dalam Kristus, yang dalam praktek Iman Kristen Orthodox sekarang menjadi rahib) dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di Sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena dimana hartamu, disitu juga hatimu berada” (Lukas 12:33-34). Juga dijelaskan lagi oleh Kitab Suci: “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya ... agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya diwaktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (I Timotius 6:17-18). Sedangkan kesukaan memberi dan membagi yaitu bersedekah itu dapat dinyatakan dalam banyak hal, yang oleh Almasih dinyatakan demikian: “Sebab ketika Aku (Sang Raja dan Hakim Kekal: Almasih) lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Aku...Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:-40). Maka dengan cara memberi makan orang yang kelaparan, memberi minum pada orang yang kehausan, memberi tumpangan orang yang terasing, memberi pakaian orang yang telanjang, melawat orang yang sakit, mengunjungi orang yang terpenjara, singkat kata segala perbuatan yang kebajikan untuk kemanusiaan demi mengangkat dan menolong kehinaan si papa dengan menggunakan harta milik kita yang dilandasi iman kepada Kristus. Itu adalah cara kita mengabdikan dan menghambakan harta kita atau milik kita kepada Allah dan memuliakanNya. Karena segala sesuatu yang kita lakukan itu dikatakan oleh Almasih sebagai melakukan untuk Dia sendiri.

Kitab Suci juga mengajarkan bahwa disamping bersedekah dan berbuat baik secara umum kepada “saudara yang paling hina” (segenap manusia papa dan sengsara di dunia ini) terutama juga kita harus memperhatikan saudara-saudara kita sesama kita orang Kristen (“Orthodox”) yang seiman dengan kita, sebagaimana dikatakan: “...selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Galatia 6:10). Memang ada skala prioritas (jenjang yang lebih diutamakan) dalam kita membagikan apa yang kita miliki sebagai bakti kita kepada Allah. Dan sesama kaum beriman itulah prioritas utama, dan kepada kaum berimanpun ada beberapa cara di mana kita dapat mengabdikan harta milik itu kepada Allah. Almasih merujuk kepada praktek-praktek keagamaan yang tak pernah dikecamnya pada dirinya sendiri, namun penyalah-gunaan akan praktek tadi oleh para pelakunya itu mendapat kecaman pedas, yaitu praktek zakat (persepuluhan), sebagaimana dikatakan: “Celakalah kamu hai ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, hai kamu orang orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan yaitu : keadilah dan belas-kasihan dan kesetiaan. Yang satu (persepuluhan) harus dilakukan dan yang lain (keadilan, belas-kasihan dan kesetiaan) jangan diabaikan.” (Matius 23:23). Orang Farisi dan ahli Taurat dikecam karena kemunafikan sikap dalam ibadah mereka dalam hal menegakkan zakat (persepuluhan). Namun Sistem Ibadah itu sendiri dijunjung tinggi oleh Almasih. Dia mengatakan bahwa yang satu yaitu: persepuluhan itu harus dilakukan, namun itu harus disertai dengan semangat yang lain: keadilan, belas-kasihan dan kesetiaan. Disinilah letak keharusan persepuluhan menurut ajaran Almasih yang berbeda dengan praktek-praktek para ahli Taurat dan orang Farisi itu. Kecaman terhadap sikap munafik orang Farisi ini dilanjutkan oleh Almasih dengan memberikan perumpamaan tentang dua orang yang berdoa kepada Allah, yang satu orang Farisi yang membanggakan ketaatan ibadahnya: ”...aku berpuasa dua kali seminggu (yaitu: menurut kebiasaan Yahudi, hari Senin dan hari Kamis), aku memberikan persepuluhan dari segala pengahasilanku” (Lukas 18:12). Dan yang lain pemungut Cukai yang berdosa dan tak dapat berdoa karena malu dan rasa tak berartinya dihadapan Allah, kecuali mengatakan: ”Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13) Dari kedua orang ini Almasih mengatakan ibadah si Pemungut Cukai ini yang diterima Allah, sedangkan si orang Farisi tidak diterima. Yang tak diterima itu bukan Sistem Ibadahnya: Puasa dan Zakat Sepersepuluhan itu, namun sikap pamer, mendabik dada, dan tinggi hatinya; sebagaimana dijelaskan lebih lanjut oleh Almasih: “Sebab barang siapa meninggikan diri (seperti si orang Farisi itu) ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri (seperti si Pemungut Cukai itu), ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14)

Jelas kepada kita bahwa Almasih tidak mengecam puasa maupun zakat sepersepuluhan, namun memberikan penjelasan bagaimana puasa maupun zakat sepersepuluhan itu harus dilakukan, yaitu dengan kerendahan hati. Demikianlah kita mendapat pelajaran bahwa, menurut Almasih zakat dari sepersepuluhan dari penghasilan kita itu adalah sesuatu yang harus dilakukan, namun harus dilakukan dengan segala kerendahan hati, keadilan, belas-kasihan, dan kesetiaan. Demikianlah dengan kita memberi zakat sepersepuluhan dari penghasilan kita, kita telah menyucikan harta milik kita itu dari noda kemusrikan, ketamakan, dan keserakahan. Jadilah harta milik itu suatu berkat yang memuliakan Allah. Sedangkan kepada siapa zakat sepersepuluhan ini harus diberikan, Kitab Suci memberikan beberapa petunjuk :

1. Kepada Pelayan Injil (Rohaniwan Gereja: Episkop, Presbiter, Diakon, yang mengajar, memberitakan dan menggembalakan): “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (Galatia 6:6) “Siapakah yang pernah turut dalam peperangan (dalam perjuangan menegakkan kebenaran Injil melalui pemberitaan dan pengajaran dengan segala macam duka-citanya) atas biayanya sendiri (tanpa mendapat upah dan gaji sebagai biayanya)? Siapakah yang menanam kebun anggur (bekerja menaburkan kebenaran Firman Allah dalam Gereja Kristus) dan tidak memakan buahnya (mendapat upah jerih payahnya yang dilakukan secara fisik dan mental)? atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba (memimpin, menuntun, mengajar dan mengarahkan kehidupan jemaat Gereja) dan yang tidak minum susu domba itu (mendapat kesegaran dan pencukupan kebutuhannya dari hasil kerjanya itu)? untuk kitakah hal ini ditulis, yaitu pembajak (penggarap hati manuusia melalui pengajaran dan penggembalaan) harus membajak (melaksanakan tugas pengajaran dan penggembalaannya) dalam pengharapan dan pengirik (yang mengajarkan penampian mana yang salah dan mana yang benar) harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya. Jadi jika kami (para Rasul, yang diteruskan oleh para rohaniwan: Episkop, Presbiter dan Diakon) telah menaburkan benih rohani (pengajaran Injil dan pelayanan sakramen-sakramen Gereja) bagi kami, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kami? Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani Mezbah, mendapat bahagian mereka dari Mezbah itu? Demikian pulalah Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” (I Korintus 9:7-14)Konteks peryataan dalam surat diatas adalah pertanggung-jawaban yang diberikan Paulus, karena adanya pertanyaan dan keraguan dan kesangsian mereka atas kerasulan Paulus. Di akibatkan adanya ajaran luar yang menyusup ke dalam Gereja Korintus ini. Maka diberikan penjelasan kepada orang Korintus akan hal seorang rasul terutama Rasul Paulus, sebagai pendiri dan pemula jemaah di Korintus itu. Hak itu termasuh hak untuk mendapat pembiayaan hidup bagi rasul tersebut. Karena Paulus tak mau menggunakan hak tersebut, atas pilihan sendiri, maka jemaat Kristen di Korintus lupa akan kewajiban finansialnya kepada guru dan gembala mereka sendiri. Maka jelas bahwa meskipun secara umum dapat dikatakan bahwa zakat sepersepuluhan itu (yang adalah diperuntukkan bagian pada Pelayan Mesbah, dalam Perjanjian Lama: Iman Agung, Imam, Orang Lewi dan dalam Perjanjian Baru : Episkop = Penilik Jemaat, Penatua = Presbiter dan Diakon) dapat diberikan kepada setiap Pelayan Injil yaitu para Rohaniwan Gereja (Episkop, Presbiter, Diakon) sebagai pengganti-lanjut Rasuliah, namun lebih khusus lagi zakat itu diperuntukkan bagi Rohaniwan yang membabtiskan, setiap harinya mengajar, menggembalakan, dan melayani kebutuhan rohani dari jemaat setempat dimana si orang percaya itu tinggal.

2. Mereka yang dalam jalan Memperjuangkan Kebenaran Injil. “...engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara (warga seiman yang mengajarkan Iman Rasuliah/Orthodox), sekalipun mereka adalah orang-orang asing... Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah. Sebab karena NamaNya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang yang tidak mengenal Allah. Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran.” (III Yohanes 1:6-8). Karena hukum sepersepuluhan itu dalam Perjanjian Lama dipersembahkan bagi mereka yang melayani Mezbah (Imam Agung, Imam, dan Orang Lewi) dan dalam I Korintus 9 diatas dikatakan: bahwa pemberitaan Injil itu sejajar dengan Pelayan Mezbah, demikianlah para Pekabar Injil yang keluar berjalan (sebagai Misionaris, atau yang Merasul) untuk memberitakan Iman yang Rasuliah / Orthodox, itupun berhak untuk juga diberikan pertolongan dari zakat sepersepuluhan itu, termasuk disini adalah para Katekis yang telah diberkati dan ditunjuk Episkop, dan yang melakukan tugasnya seratus-persen hanya untuk melayani Gereja, dan tidak mempunyai pekerjaan duniawi lainnya.

3. Kepada saudara seiman yang Miskin dan mendapatkan musibah. Meskipun saudara seiman yang miskin dan terkena musibah itu tidak harus mendapatkan bantuan dari zakat sepersepuluhan ini, namun dari sumbangan sukarela secara pribadi atau sumbangan yang dikumpulkan dalam koordinasi Paroikia (Gereja setempat) dipimpin Presbiter yang dilakukan jemaat secara bersama. Tetapi jika orang ingin mempersembahkan persepuluhannya kepada Gereja dalam konteks penggunaan hak milik bagi pengabdian kepada Allah, maka zakat yang telah dipersembahkan kepada Gereja itu, dapat digunakan melalui koordinasi Paroikia yang dipimpin oleh Presbiter untuk menolong saudara seiman yang miskin dan mendapat musibah, atau menolong orang yang miskin dan papa lainnya. “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat dihadapan Allah,... ialah... mengunjungi yatim-piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka...” (Yakobus 1:27). “hanya kami harus mengingat orang-orang miskin...” (Galatia 2:10). Dan masih banyak lagi ajaran dalam Kitab Suci yang menolong kita bagaimana kita dapat mengabdikan harta milik kita kepada Allah agar kita tidak diperhamba oleh harta milik itu, sehingga akhirnya harta milik itu menjadikan kita manusia-manusia musyrik. Jangan pula disangka bahwa yang wajib mamberi itu hanya orang kaya saja, orang miskinpun harus belajar untuk memberikan sesuatu kepada Allah, karena orang miskinpun dapat memberhalakan kemiskinannya, dari sedikit yang dia punyapun dia dapat jatuh kepada kemusyrikkan. Untuk itulah ada ajaran Kitab Suci yang demikian: “... meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan... mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka , bahkan melampaui kemampuan mereka.” (II Korintus 8:2-3). Demikianlah melalui ajaran Kitab Suci yang jelas ini, kita dapat dibebaskan dari kemusyrikan harta benda, entah kita miskin ataukah kita kaya

XXV. Kerudung & Wanita

Kerudung adalah penutup kepala yang digunakan oleh para wanita Orthodox pada saat mereka beribadah, dan bahkan sering pula dikenakan diluar ibadah. Mengenai cara wanita saleh berpakaian dijelaskan oleh Kitab Suci demikian: ”Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah. Seharusnyalah perempuan itu berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkanya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (I Tim. 2:9-12). Demikian juga dikatakan lagi: ”Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu….Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi….Sebab demikianlkah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menyebut dia tuannya..." (I Petrus 3:1-6). Dari kedua kutipan itu kita lihat ajaran Kitab Suci mengenai bagaimana cara perempuan saleh Atau perempuan kudus berdandan. Mereka tidak boleh terlalu berdandan dengan mewah: emas, mutiara, pakaian-pakaian mahal, damn rambut yang dikepang-kepang. Dandanan mnereka haruslah dandanan batin yang menampakkan diri dalam perbuatan baik. Dan dandanan mereka harus dikaitkan dengan keberadaan mereka sebagai orang yang terikat dengan suami, dan tunduk dan taat kepada suami itu.

Berarti suami memiliki otoritas dan wewenag atas perempuan. Itulah sebabnya perempuan tidak diizinkan mengajar dan tidak diizinkan memerintah suami. Contoh kepatuhan kepada suami itu adalah Sara kepada Abraham. Dalam konteks ketaatan dan ketundukan kepada suami itu “demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan”. Jika Sara adalah contoh dandanan wanita yang tunduk kepada suami, bagaimanakah cara Sara itu berdandan? Kita tidak memiliki data bagaimana cara Sara berdandan, namun karena yang menjadi contoh dandan itu bukan hanya Sara saja tetapi juga “ perempuan-perempuan kudus dahulu”, maka kita dapat melihat contoh lain tentang dandanan perempuan-perempuan kudus dahulu yang masih berada dalam kurun se-zaman dengan Sara, yaitu menantunya: Ribka. Ketika hamba Abraham berhasil membawa Ribka untuk dilamar bagi Ishak tuannya, dibawanyalah perempuan itu untuk menemui Ishak, dan Ishak melihat rombongan utusannya kembali dengan unta-unta, dan pada saat itu ”Ribka juga melayangkan pandangannya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Katanya kepada hamba itu:’ Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?’ Jawab hamba itu:’ Dialah tuanku itu’. Lalu Ribka mengambil TELEKUNGNYA (kerudungnya) dan BERTELEKUNGLAH (berkerudunglah) dia” (Kejadian 24:64-65). Ribka tahu Ishak calon suaminya yang kepadanya ia akan tunduk, maka ia mengenakan “TELEKUNG” atau “KERUDUNG”. Dengan demikian cara perempuan kudus dahulu berdandan dalam konteks ketaatan dan kepatuhan dengan suami adalah dengan mengenakan “KERUDUNG” atau “TELEKUNG”. Pamahaman seperti ini dilanjutkan dalam Perjanjian Baru. Dalam I Timotius 2:10 diatas dandanan wanita Kristen yang meneladani perempuan-perempuan kudus dahulu itu disebut sebagai dandanan “yang layak bagi perempuan yang beribadah” Dengan demikian cara berpakaian bagi perempuan juga ditentukan penggunaannya dalam kaitannya sebagai manusia beribadah. Itulah sebabnya beribadahpun sebaliknya memiliki caranya sendiri bagi perempuan dalam berdandan.

I Korintus 11: 2-15 mengajarkan yang berikut ini tentang pakaian perempuan dalam ibadah. Sama dengan contoh berdandan bagi wanita kudus Perjanjian Lama itu dikaitkan dengan ketaatan dan kepatuhan kepada suami, demikian juga konteks dari pasal ini juga mengkaitkan mengenai penggunaan kerudung itu dengan “ke-kepala-an suami” bagi wanita dalam hubungan rumah tangga. Menurut pasal ini “laki-laki adalah kepala perempuan”. (I Kor. 11:3), sementara Kristus adalah Kepala laki-laki dan Allah adalah Kepala Kristus. Ini disebabkan laki-laki pada awal penciptaannya tidak berasal dari perempuan namun sebaliknya perempuan itu yang berasal dari laki-laki, yaitu dimabil dari tulang iganya (I Kor. 11: 8), juga karena laki-laki tidak diciptakan karena perempuan namun perempuan yang diciptakan karena laki-laki, yaitu untuk menjadi penolong yang sepadan baginya (I Kor. 11:9). Meskipun dalam perkembangan hidup selanjutnya tidak ada laki-laki tanpa perempuan, dan tidak ada perempuan tanpa laki-laki, satu saling membutuhkan yang lain dalam kehidupan ini (I Kor. 11:11). Karena jika awalnya perempuan itu berasal dari laki-laki namun kemudian semua laki-laki itu dilahirkan oleh perempuan (I Kor. 11:12). Namun dalam awal penciptaannya laki-laki irtu yang secara langsung dijadikan Allah tanpa perantaraan manusia , sehingga laki-laki itu “menyinarkan gambaran dan kemuliaan Asllah” (I Kor. 11:7), sementara perempuan, karena ia diciptakan melalui bahan dari tulang iga laki-laki, jadi bukan langsung tanpa perantaraan manusia, maka perempuan itu “ menyinarkan kemuliaan laki-laki”. Demikianlah laki-laki itu memang kepala bagi perempuan, dan perempuan itu hartus taat dan patuh kepada suami dalam hubungan rumah tangga. Demikianlah terdapat suatu hierarkhi fungsi tugas di dalam kehidupan ini. Karena laki-laki itu kepala dari wanita, dan ia secara langsung menyinarkan gambar dan kemuliaan Allah, maka “laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya” (I Kor. 11:7), bahkan itu akan menghina kepalanya jika ia memakai kerudung, terutama kalau ia berdoa dan bernubuat, yaitu beribadah. Karena ibadah itu langsung menghadap Allah, berarti laki-laki tidak memegang kodratnya sebagai yang menyinarkan kemuliaan Allah sebagai kepala jika ia memakai kerudung (I Kor. 11:4), dan dengan demikian menghina kedudukannya serta tidak menghormati Allah yang menjadikannya demikian, justru pada saat menghadapNya ini.

Sebaliknya perempuan, karena memang ia dibawah kewibawaan laki-laki, maka “perempuan itu harus memakai tanda wibawa di kepalanya" (I Kor. 11:10), terutama pada saat ibadah. Itulah sebabnya “ tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia “sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya” yaitu tidak punya mahkota, dengan demikian tidak punya kemuliaan (I Kor. 11: 6). Itulah sebabnya dari pada setengah hati, tidak mau pakai kerudung, padahal itu secara hukum sudah sama seperti perempuan gundul, maka sekalian saja ia harus menggunting rambutnya, yaitu gundul (I Kor. 11:6). Tetapi jika ia tak mau gundul karena merupakan penghinaan baginya “maka haruslah ia menudungi kepalanya” (I Kor. 11:6). Terutama dalam konteks ibadah. Perempuan itu menghadap Allah, dan Allah itu selalu dikelilingi para malaikat, dan para malaikat itu taatnya mutlak dan patuhnya mutlak kepada Allah sebagai Tuan dan Penguasanya, maka perempuan yang menghadap Allah harus meneladan ketaatan dan kepatuhan para malaikat ini, dengan menunjukkan simbol keberadaannya dibawah wibawa laki-laki, itulah sebabnya dikatakan: ”Sebab itu perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat” (I Kor. 11:10). Demikianlah karena Iman Orthodox mengerti adanya hierarkhi dalam kehidupan, baik di Sorga ada hierarkhi antara Allah yang ditaati para malaikat yang masing-masingnya punya jenjang, dalam masyarakat juga ada jenjang antara penguasa dan rakyat, dalam Gereja antara kaum rohaniwan (episkop, presbiter, diakon) dan umat, dan dalam rumah tangga antara suami dan istri dengan suami sebagai kepala, maka taat kepada jenjang hierarkhi dalam kehidupan dan dalam rumah tangga inilah sesuai dengan ajaran Kitab Suci diatas para wanita Orthodox mengenakan kerudung pada saat beribadah, atau boleh juga diluar ibadah seperti contohnya Ribka diatas.

XXVI. Musik Gereja

Hymnologi dari Musik Byzantin dibagi dalam tiga kelompok:
1. Eirmologika yang dinyanyikan dalam ketukan yang cepat: satu suku kata untuk satu noot musik;
2. Stikhirargika yang dinyanyikan dalam ketukan lebih lambat : satu suku kata untuk 1 atau lebih noot musik;
3. Papadika yaitu suatu kidung yang dinyanyikan dalam ketukan lambat : satu suku kata untuk keseluruhan frasa musik. Namun demikian dalam hymnography Gereja kita temukan pengelompokan yang mengatasi kelompok-kelompok musik ini. Satu pengelompokan yang besar adalah “Kontakion - Oikos” Puisi yang panjang, sering dibagi menurut kelompok-kelompok sesuai dengan alfabet Yunani, mengikuti contoh dari Mazmur 119 (dalam bahasa Ibrani), contohnya adalah “Kidung Akatistos”, yaitu kidung yang menjelaskan makna Theologia Inkarnasi dalam kaitannya dengan peranan Maria. Beberapa dari kidung-kidung semacam ini dapat kita jumpai dalam Menaion, Okto-ekhos, serta dalam Kontakion atau Oikos.

Menyertai puisi-puisi semacam itu adalah apa yang disebut sebagai Kidung Kanon, yang memiliki struktur yang berbeda dari apa yang telah kita bahas diatas. Sementara Kontakion dan Oikos memiliki memiliki stanza-stanza yang dipisahkan oleh thema yang berbeda, seperti halnya Kidung Akatistos, Kidung Kanon juga memiliki tema biasanya berjumlah sembilan buah. Kidung Kanon, misalnya Kanon Janasuci Andreas, mempunyai tema yang berurutan. Kidung-kidung Kanon ini dapat diketemukan dalam Kitab Kidung Menaion dan Paraklitiki (Okto-ekhos). Beberapa ciri khasnya adalah:
1.Seloka kedua dari Kidung Kanon sangat jarang dinyanyikan karena sifat isinya yang sangat bersifat negatif dan penuh permohonan tobat.
2. Juga Seloka kesembilan dari Kidung Kanon selalu dikhususkan untuk Sang Theotokos dan peranannya dalam Penjelmaan Kristus sebagai manusia bagi keselamatan manusia dalam tema Theologia tentang keselamatan yang menempati Kidung Kanon tertentu itu.
3. Struktur dari Kidung Kanon itu memiliki urutan, dengan puisi dari kidung pertama yang disebut “Kidung Katabasia” menentukan baik tema isi puisi maupun musiknya, yang menurut pola daripadanya seluruh sisa puisi yang ada di dalam Kidung Kanon itu disusun. Sesuai dengan tema Theologia dari Seloka atau Kidung Kanon itu ayat-ayat kidungan pendek yang berbeda-beda disisipkan, misalnya: “Kemuliaan bagi KebangkitanMu, ya Tuhan”, untuk tema-tema kebangkitan, atau “Ya Pembaptis Sang Kristus bermohonlah bagi kami” untuk suatu Kidung Kanon bagi Yohanes Pembaptis.
4. Dua kidung terakhir dari Seloka selalu didahului dengan Kidung Doxologia: ”Kemuliaan bagi Sang Bapa, Sang Putra, serta Sang Roh Kudus, sekarang dan selalu, serta sepanjang segala abad. Amin”
5. Demikian juga kidung terakhir dari tiap-tiap Seloka selalu mengenai Sang Theotokos, dan kidung yang pertama dari Seloka terakhir selalu mengenai Tritunggal Maha Kudus. Banyak kidung mengikuti struktur itu, karena itu disisipkan ke dalam ayat-ayat kidungan dari Mazmur. Dan sebagaimana orang-orang Yahudi mengakhiri kidungan Mazmur mereka dengan Kidung Doxologia, demikianlah juga sekarang dalam Gereja Orthodox suatu kidung disusun dalam struktur yang seperti itu, disisipkan ke dalam ayat-ayat kidungan dari Mazmur yang diakhiri dengan Doxologia itu. Misalnya sesudah “Ya Tuhan kuberseru padaMU…” dari Mazmur 141:1-2, dari Sembahyang Senja, maka seluruh Mazmur 141 dari Mazmur dinyanyikan. Pada ayat yang kesepuluh dari yang terakhir, maka ditempatkan Kidung yang pertama, Troparion yang pertama ini termasuk dalam kelompok puisi kidungan yang disebut sebagai Stikhera Kidung Apostikha disusun dengan cara yang sama, demikian juga Kidung Kathismata dari Sembahyang Fajar (Matin, Sholatus Satar), stikhera dari Kidung-kidung Ainos, serta Kidung-Kidung Anabatmos yang merupakan refleksi Kidung Ziarah (Aliyah) umat Yahudi ke Bait Allah Yesrusalem, semuanya memiliki susunan dan struktur yang sama., yang merupakan gaung dari suatu Seloka dari Kidung Kanon. Contoh lain dari Kidung Kanon, adalah Kidung Paraklisis baik yang panjang maupun yang pendek. Struktur dari semuanya ini sangat jelas dalam Ibadah Pekan Kudus yang telah kita bahas diatas, dimana seluruh Kidung Kanon dinyanyikan, dan dimana bentuk-bentuk yang lebih purba dari kidung-kidung itu dipelihara utuh.

Kidung yang lain atau Troparion adalah Kidung Pembubaran, yang dikhususkan untuk salah seorang kudus tertentu yang sedang diperingati atau peristiwa dalam Alkitab yang sedang dikenang, serta yang berisi peringatan akan sang Theotokos. Masing-masing orang kudus atau peristiwa Alkitab memiliki Kidung Megalynarion, yaitu kidung singkat yang memiliki irama yang sudah tertentu. Kembali kepada stikhera, kidung sesudah “Kemuliaan bagi Sang Bapa….” berisi pengajaran Theologis yang amat dalam dan kongkrit, karena ini merupakan tulisan kidung yang lebih bersifat bebas, tidak seperti kidung-kidung yang mendahului mereka yang sering dibatasi dengan ketat oleh suatu jumlah suku kata dan irama yang sudah tertentu. Lebih jauh lagi, Kidung Anabatmos itu selalu berisi tema ajaran tentang Tritunggal Kudus atau tentang Roh Kudus. Demikianlah bentuk-bentuk puisi dari kidung-kidung ibadah Gereja Orthodox.

XXVII. Disiplin & Kehidupan Gereja
Disiplin Gereja bisa menjadi perlu untuk mempertahankan kemurnian dan kesucian Gereja dan untuk menghimbau pertobatan dalam diri mereka yang tak menanggapi menasihat dan peringatan saudara-saudara dan saudari-saudari dalam Kristus, dan peringatan Gereja, untuk meninggalkan dosa. Dasar dari disiplin ini adalah Hukum Kanon Gereja baik yang berasal dari Kitab Suci, atau perumusan-perumusan para Bapa Gereja atas prinsip-prinsip Kitab Suci, juga perumusan dari Tujuh Konsili-Konsili Ekumenis dan Konsili-Konsili Lokal yang merumuskan prinsip-prinsip tertentu dari Kitab Suci diterapkan pada situasi kongkrit. Disiplin Gereja sering berpusat disekitar tak diizinkannya seseorang untuk menerima Perjamuan Kudus (pengucilan). Pengucilan hahya terjadi jikalau seseorang mengajarkan bidat atau melakukan suatu dosa tanpa mau bertobat malah menentang ajaran Gereja. Perjanjian Baru mencatat bagaimana Rasul Paulus memerintahkan disiplin pengucilan terhadap seseorang yang tak mau bertobat yang terlibat dalam hubungan sexual dengan isteri dari ayahnya (I Korintus 5:1-5). Rasul Yohanes memperingatkan agar kita tidak menerima ke dalam rumah kita mereka yang secara sengaja menolak kebenaran Kristus (II Yohanes 9,10). Di sepanjang sejarahnya, Gereja Orthodox telah menjalankan disiplin/siasat dengan penuh belas-kasihan jika itu diperlukan, selalu menolong untuk membawa perubahan hati yang diperlukan dan untuk membantu umat Allah untuk menghidupi kehidupan yang murni dan kudus, tak pernah disiplin itu sebagai hukuman.

Apabila orang Kristen meninggalkan hidup ini, mereka tetap merupakan suatu bagian yang amat penting dari Gereja, Tubuh Kristus. Mereka hidup dalam Tuhan dan tidak mengalami kematian lagi (Yohanes 5:24, 11:25) dan nama mereka “ terdaftar di sorga” (Ibrani 12:23). Mereka menyembah Allah (Wahyu 4:10) serta menempati tempat tinggalNya yang Sorgawi (John 14:2). Dalam Ekaristi (Perjamuan Kudus) kita datang “ke kota Allah yang hidup” (Ibrani 12: 22) dan ikut serta dalam persekutuan dengan orang-orang kudus dalam penyembahan kepada Allah (Ibrani 12:22). Mereka adalah “ banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi” (Ibrani 12:1), dan kita berusaha untuk mengikuti teladan mereka untuk “ berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Hebrews 12:1). Menolak dan mengabaikan persekutuan para orang kudus adalah suatu penyangkalan akan fakta bahwa mereka yang meninggal dalam Kristus “sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yohanes 5:24), serta mereka itu “masih hidup walaupun sudah mati” (Yohanes 11:25) dan dengan demikian masih bagian dari GerejaNya yang Kudus. Memohon bantuan doa dari orang-orang kudus itu dihimbau dalam Gereja Orthodox. Mengapa? Sebab kematian jasmani itu bukan suatu kekalahan bagi orang Kristen. Itu adalah suatu jalan masuk yang penuh kemuliaan menuju Sorga. Orang Kristen tak pernah berhenti sebagai bagian dari Gereja pada kematiannya. Dijauhkan Allah dari pemikiran demikian itu, kiranya!!! Tak pula ia itu disingkirkan tanpa perduli lalu bermalas-malasan tiada makna apa-apa sampai hari pengadilan nanti.

Gereja Yang Benar itu terdiri dari semua mereka yang ada di dalam Kristus ----di sorga dan di bumi. Itu tak terbatas dalam keanggotaannya bagi mereka yang hidup diatas bumi ini saja. Mereka yang berada di firdaus dengan Kristus itu hidup sebagai “roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna (Ibrani 12:23), dalam persekutuan dengan Allah, menyembah Allah, melakukan bagian mereka dalam tubuh Kristus. Mereka secara aktif berdoa kepada Allah bagi semua mereka yang ada dalam Gereja – dan barangkali, dan memanglah demikian, berdoa bagi seluruh dunia (Efesus 6:8; Wahyu 8:3). Oleh karena itu kita memohon bantuan doa dari para orang kudus yang telah meninggalkan dunia ini. Agar bersama doa kita mereka mendoakan kita kepada Allah, sama seperti jika kita meminta teman-teman kita yang Kristen di atas bumi ini untuk berdoa bagi kita. Tetapi mereka bukan sebagai pengantara keselamatan kekal, karena hanya ada "satu pengantara saja, manusia Yesus Kristus" (I Timotius 2:5), namun mereka adalah pendoa di hadapan Allah, sebagai sama-sama anggota Tubuh Kristus yang satu.

XXVIII. Suksesi Rasuli, Konsili Gereja & Pengakuan Iman

Suksesi (Sanad) Rasuliah merupakan masalah yang sangat penting sejak abad kedua, bukan hanya sekedar sebagai dogma, tetapi juga penting dan menentukan bagi pemeliharaan iman itu sendiri. Bebarapa guru palsu tertentu muncul diatas panggung sejarah, serta menekankan bahwa mereka adalah wakil-wakil Gereja Kristen yang memiliki wewenang. Menyatakan diri memiliki wewenang dari Allah dengan merujuk kepada wahyu-wahyu khusus tertentu, beberapa dianatara mereka malah mengarang silsilah dari guru-guru yang dianggap memiliki urutan dari Kristus atau dari para Rasul sendiri. Mereka ini disebut kelompok “Gnostik”, dan akhir-akhir mengalami kebangkitan lagi dengan dimunculkannya buku karangan Dan Brown "The Da Vinci Code", juga "Injil Filipus", "Injil Yudas ", dan "Injil Maria Magdalena" yang merupakan tulisan-tulisan kaum Gnostik dari abad ketiga.

Dalam menghadapi mereka ini , Gereja perdana itu menyatakan bahawa ajaran mereka itu adalah ajaran yang bersifat “heterodox” (“heteros = lain, berbeda dalam arti menyimpang; doxa = pengajaran, pendapat) atau “ajaran yang menyimpang, ajaran Gereja yang berasal dari para Rasul itu ajaran yang “Orthodox” (“orthos = lurus, tidak menyimpang, tepaty benar; doxa = pengajaran, pendapat”) yaitu ajaran yang benar. Sejak itu pula nama “Orthodox” untuk menyebut Gereja purba yang “Am” atau “Katolik” yang hanya satu itu digunakan sampai kini oleh Gereja Purba di Timur ini. Untuk membuktikan bahwa ajaran Gereja itulah yang memiliki suksesi atau penggantian lanjut rasuliah dengan silsilah sejarah yang dapat dirunut sampai ke para Rasul itu, Gereja Orthodox di zaman purba itu menekankan adanya suatu penggantian lanjut jabatan rasuliah yang otoritatif yang diteruskan dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya. Mereka mencatat garis silsilah yang sesungguhnya, menunjukkan bagaimana rohaniwannya itu ditahbiskan oleh mereka yang dipilih oleh para pengganti-lanjut (suksesor) dari para Rasul yang dipilih oleh Kristus Sendiri. Sampai kinipun Pengantian-Lanjut Rasuliah itu masih merupakan syarat sah dan tidaknya seseorang sebagai Rohaniwan Gereja dalam Gereja Orthodox.

Penggantian-Lanjut Rasuliah (Suksesi Rasuliah/Suksesi Apostolik) adalah suatu faktor yang tak dapat digantikan dalam menjaga keutuhan Gereja. Mereka yang berada dalam garis penggantian ini bertanggung jawab kepadanya, dan bertanggung-jawab untuk memastikan bahwa semua pengajaran dan praktek dalam Gereja itu sesuai dengan dasar-dasar Rasuliahnya. Hanya sekedar keyakinan pribadi bahwa pengajaran seseorang itu itu tepat tak pernah dianggap sebagai bukti cukup akan ketepatan. Pada masa kini, para pengecam ajaran suksesi apostolik ini adalah mereka yang berdiri diluar suksesi/penggantian-lanjut menyejarah (historis) ini dan berusaha untuk mencari suatu jati-diri hanya dengan Gereja awal saja. Mermbengkaknya jumlah aliran-aliran dan denominasi-denominasi dalam keKristenan di dunia itu, dapat di rujuk sebagian besarnya diakibatkan oleh penolakan akan suksesi rasuliah / penggantian-lanjut rasuliah ini.

Pada zaman para Rasul Konsili (Sidang Segenap Gereja) terjadi akibat dari suatu konflik yang bersifat monumental (dicatat dalam Kisah 15) dalam Gereja zaman dini. Konflik itu adalah mengenai legalisme, yaitu usaha dari sebagian orang Yahudi dalam Gereja untuk mempertahankan pelaksanaan syariah-syariah Agama Yahudi oleh umat Kristen, sebagai sarana keselamatan. Karena Iman Kristen itu bukan ajaran perorangan yang bersifat individu namun milik segenap Komunitas Tubuh Kristus: Gereja, maka jalan yang diambil adalah musyawarah. Dimana dikatakan "Lalu bersidanglah (mengadakan musyawarah dalam Konsili) rasul-rasul dan penatua-penatua (para Presbiter) untuk membicarakan persoalan itu” (Kisah 15:6). Sidang Besar atau Konsili ini diadakan di Yerusalem, inilah yang menjadi pola Rasuliah yang tetap dijadikan patokan bagi pemanggilan konsili (musyawarah, sinode) dalam zaman-zaman berikutnya bagi menyelesaikan masalah-masalah, baik yang bersifat dogmatis, moral maupun administratif, jika hal itu muncul.

Sudah ada ratusan konsili semacam itu – lokal dan regional – selama berabad-abad dalam Sejarah Gereja Orthodox. Yang amat penting dari semua Konsili itu adalah 7 Konsili (Konsili I tahun 325, Konsili II tahun 381, Konsili ke III tahun 431, Konsili ke IV tahun 451, Konsili ke V tahun 553, Konsili ke VI tahun 680-681, Konsili ke VII tahun 787) yang disebut sebagai “Ekumenis/Umum/Universal”, yaitu, yang dianggap berlaku bagi segenap Gereja. Sadar bahwa Allah telah berbicara melalui Konsili-Konsili Ekumenis, karena menurut Kisah 15:28 hasil keputusan Konsili semacam itu adalah "keputusan Roh Kudus dan keputusan kami", maka Gereja Orthodox khususnya melihat kepada rumusan-rumusan ajaran dari ke 7 Konsili itu, khususnya mengenai Tritunggal Maha Kudus dan Mengenai KeIlahi-Manusiaan Kristus, bagi pengajaran yang memiliki wewenang dalam hal iman dan praktek Gereja, serta ketetapan-ketetapan yang dihasilkannya sebagai bagian dari Hukum Kanon. Dan Kitab Hukum Kanon yang menjadi landasan administrasi dan disiplin Gereja Orthodox namanya adalah "Pedalion" (Kemudi), karena isi Kitab ini merupakan aturan-aturan bagi mengemudikan jalannya Gereja sebagai bahtera keselamatan, dalam mengarungi pasang-surut gelombang dunia sepanjang segala zaman. Karena semua isi dari Kitab "Pedalion" yang amat tebal itu diambil dari prinsip-prinsip Alkitab dan ajaran Rasuliah

Pengakuan Iman berasal dari bahasa Latin “credo” atau bahasa Arab “asyhadu” artinya “Aku percaya” atau “Aku bersaksi”. Dari zaman yang sangat dini dari sejarah Gereja, pengakuan-pengakuan iman atau syahadat-syahadat telah merupakan pengakuan-pengakuan yang hidup dari apa yang dipercayai umat Kristen dan bukan hanya sekedar pernyataan resmi Gereja yang bersifat akademis saja. Pengkuan Iman-Pengakuan Iman semacam itu muncul sedini Perjanjian Baru itu sendiri, dimana, misalnya, Rasul Paulus mengutip suatu Kredo untuk mengingatkan Timotius, “ Dia (Allah, yaitu “Firman Allah”) yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” (I Timotius 3:16). Kredo-kredo atau syahadat-syahadat itu disahkan oleh Konsili-Konsili Gereja, biasanya untuk memberikan suatu pernyataan kebenaran dalam bentuk ringkas dan padat dalam menghadapi serbuan ajaran bidat.

Syahadat atau Pengakuan Iman yang paling penting dalam Dunia Kristen adalah “Pengakuan Iman/Syahadat Nikea”, hasil dari dari dua Konsili Ekumenis (tahun 325 dan tahun 381) pada abad ke 4. Dirumuskan ditengah-tengah pertikaian yang melibatkan hidup-dan-mati, itu mengandung esensi dari pengajaran Perjanjian Baru mengenai Tritunggal Maha Kudus, bagi menjaga kebenaran yang memberi-hidup itu untui melawan mereka yang yang akan mengubah dzat-hakekat dan kodrat Allah itu sendiri serta menurunkan Yesus Kristus ke dalam derajat seorang makhluk tercipta saja, bukannya “Firman Allah” yang bersifat “Allah” (Yohanes 1:1), yang menjelma dalam daging (Yohanes 1:14). Pengakuan Iman atau Syahadat itu memberikan kita suatu tafsir yang pasti mengenai Kitab Suci melawan mereka yang akan merusaknya bagi mendukung pola-pola pemikiran keagamaan mereka sendiri. Disebut sebagai “Simbol Iman” dan diakui dengan ucapan dalam banyak ibadah-ibadah Gereja, Syahadat/Pengakuan Iman Nikea terus-menerus mengingatkan umat Kristen Orthodox akan apa yang ia percayai secara pribadi itu, supaya tetap berada dalam jalur dan rel yang lurus. Sedangkan bunyi dari Syahadat itu adalah sebagai berikut:
1. Aku percaya, pada satu Allah, Sang Bapa yang Maha Kuasa Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan maupun yang tak kelihatan.
2. Dan pada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah, yang diperanakkan dari Sang Bapa sebelum segala zaman. Terang yang keluar dari Terang, Allah sejati yang keluar dari Allah sejati, yang diperanakkan dan bukan diciptakan, satu dzat hakekat dengan Sang Bapa, yang melaluiNya segala sesuatu diciptakan.
3. Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, telah turun dari Sorga, dan menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang Perawan Maryam, serta menjadi manusia.
4. Telah disalibkan bagi keselamatan kita, dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, Dia menderita sengsara dan dikuburkan.
5. Dan telah bangkit lagi pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci.
6. Dan telah naik ke Sorga, serta duduk disebelah kanan Sang Bapa.
7. Serta Dia akan datang lagi di dalam kemuliaan untuk menghakimi orang hidup maupun orang mati; yang kerajaanNya tak akan ada akhirnya.
8. Dan aku percaya pada Sang Roh Kudus, Tuhan, Sang Pemberi-Hidup, Yang keluar dari Sang Bapa, Yang bersama dengan Sang Bapa dan Sang Putra disembah dan dimuliakan, yang berbicara melalui para Nabi.
9. Aku percaya pada Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.
10. Aku mengakui Satu Baptisan bagi penghapusan dosa-dosa.
11. Aku menunggu akan kebangkitan orang-orang mati.
12. Serta kehidupan zaman yang akan datang. Amin.

XXIX. Karunia Roh Kudus

Ketika Gereja yang muda itu sedang akan muncul, Allah mencurahkan RohNya yang Kudus ketas para Rasul dan pengikut-pemngikut mereka, mengaruniakan kepada mereka karunia-karunia Roh untuk membangun Gereja dan untuk melayani satu sama lain. Diantara karunia-karunia Roh yang khas yang disebut dalam Perjanjian Baru adalah: rasul, nabi, pekabar Injil, gembala, pengajar, kesembuhan, pertolongan, pelayanan, ma’ruifat/pengetahuan, hikmat, karunia klidah/bahasa roh, pentafsiran karunia lidah/bahasa roh. Karunia-karunia ini dan karunia-karunia Roh yang lain diakui dan dikenal serta diajarkan dalam Gereja Orthodox. Kebutuhan untuk hal itu bervariasi dari waktu ke waktu. Karunia-karunia Roh itu paling jelas nampak dalam kehidupan liturgis dan sakramental Gereja

XXX. Eskatologi, Sorga & Neraka

Ditengah ributnya pendapat yang bersifat duga-duga diantara kelompok tertentu dalam dunia Kristen sekitar masalah Kedatangan Kristus yang Kedua dan bagaimana itu akan terjadi, adalah sangat menghiburkan untuk mengetahui bahwa pengajaran Gereja Orthodox itu bersifat mendasar. Umat Kristen Orthodox mengakui dengan keyakinan bahwa Yesus Kristus “ akan dfatang lagi untuk menghakimi orang hidup mauun orang mati” dan bahwa “KerajaanNya tak akan ada akhirnya”Pemberitaan Orthodox tidak berusaha untuk meramalkan jadwal nubuat Allah, tetapi menghimbau umat Kristen untuk membuat hidup mereka teratur agar mereka boleh yakin di hadiratNya apabila Ia datang lagi (I Yohanes 2:28).

Sorga adalah dimana Takhta Allah itu ada, ini mengatasai waktu dan ruang. Disitulah bersemayamnya para Malaikat Allah, maupun para Orang Kudus yang telah melewati kehidupan dunia ini. Kita berdoa: ” Bapa kami, yang ada di dalam sorga….” Meskipun Umat Kristen itu hidup di dunia ini, mereka itu warga dari Kerajaan Sorga (Filipi 3:20), dan kerajaan itu adalah rumah yang sejati. Tetapi Sorga bukanlah hanya untuk masa yang akan datang saja. Tak pula itu suatu tempat yang amat jauh berjarak triliunan tahun cahaya jauhnya di dalam suatu gugus planet yang “entah jauhnya luar biasa”. Bagi orang Orthodox, Sorga adalah bagian dari kehidupan dan ibadah Kristen. Arsitektur dari bangunan Gedung Gereja Orthodox itu sendiri dirancang sedemikian sehingga bangunan itu sendiri ikut serta dalam realita Sorga. Perjamuan Kudus adalah ibadah Sorgawi, Sorga diatas bumi. Rasul Paulus mengajarkan bahwa kita telah dibangkitkan bersama Kristus dan ditempatkan di Sorga (Efesus 2:6), "teman sewarga dengan orang-orang kudus dan anggota-anggota dari keluarga Allah" (Efesus 2:19). Pada akhir zaman , suatu langit yang baru dan bumi yng baru akan dinyatakan (Wahyu 21:1).

Meskipun Neraka sangat tidak populer bagi orang-orang modern, namun Neraka itu nyata. Gereja Orthodox memahami Neraka sebagai siksa kekal akibat manusia menolak hadirat kasih Allah yang berwujud api energi ilahi yang tak tercipta. Bagi orang yang menanggapi kasih Allah itu maka api energi ilahi itu menjadi sarana pemuliaan, namun bagi orang yang menolak kasih ilahi itu, maka api energi ilahi yang sama itu berdampak membakar dan memberi siksa. Jadi yang menyiksa dalam Neraka itu bukan Allah tetapi si manusia itu sendiri yang hatinya tak memiliki kasih kepada Allah, sehingga kasih Allah itu dirasakan sebagai hadirat yang menyiksa dan menyakitkan.

Sang Kristus pernah mengatakan: "Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung, daripada dengan utuh kedua tanganmu, dibuang ke dalam Neraka, ke dalam api yang terpadamkan. Di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. " (Markus 9:43-44). Dia menantang para agamawan yang munafik dengan pertanyaan: "Bagaimana mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman Neraka?” (Matius 23:33). JawabanNya adalah: "…Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:17). Akan ada hari penghakiman dan ada saat hukuman penyiksaan bagi mereka yang telah mengeraskan hatinya melawan Allah. Tidak akan membuat perbedaan bagaimana kita menghidupi hidup kita sekarang ini. Mereka yang karena kehendak bebasnya sendiri menolak rahmat/anugerah dan belas-kasihan Allah harus untuk selama-lamanya menanggung akibat-akibat dari pilihan tadi.

(http://monachoscorner.weebly.com/iman-kristen-orthodox-3.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar