Sabtu, 23 Februari 2013

Puasa Dalam Gereja Orthodox




Puasa dalam Gereja Orthodox bukanlah sebagai sarana menumpuk amal atau jasa untuk mendapatkan keselamatan. Puasa adalah disiplin rohani agar rahmat keselamatan di dalam Roh Kudus yang telah diterima secara cuma-cuma dalam iman kepada Sang Firman / Almasih (Kristus) itu menjadi realita yang menuntun kepada pengudusan dan perendahan diri di hadirat Allah. Puasa adalah saat menguji iman dan kasih seseorang akan Allah di dalam Kristus. Puasa bukan untuk mencari pahala, karena keselamatan itu bisa didapatkan manusia karena kasih karunia Allah semata dan bukan karena hitung-hitungan amal-baik manusia. Keselamatan dalam ajaran Iman Kristen Orthodox itu tak berarti sekedar naik sorga demikian saja, namun lebih dari itu adalah untuk manunggal dalam kehidupan Allah sendiri (manunggaling kawulo Gusti), yang panunggalan itu tak dapat diraih oleh perbuatan manusia sendiri, namun melalui Nuzul-Nya Kalimatullah (Sang Firman) yang menghancurkan kuasa maut dan menyatakan hidup kekal. Berarti keselamatan itu bukan hasil usaha manusia namun semata-mata karena kasih-karunia Allah di dalam Kalimat-Nya yang Nuzul sebagai daging (manusia) (Efesus 2:8-10). Dan karya kematian Kalimatullah ”Sang Firman” yang menghancurkan maut serta kebangkitan-Nya yang menyatakan hidup kekal itu dirayakan terutama dalam Ibadah Perjamuan Kudus (”Holly Qurbonno”) sebagai ibadah inti Iman Gereja Orthodox. Dalam Perjamuan Kudus inilah umat menerima kasih-karunia penyatuan dengan hidup kekal yang telah dinyatakan oleh kebangkitan Kristus itu.

Untuk memperdalam dan memelihara keselamatan dalam Kristus serta kasih-karunia yang diterima dalam Perjamuan Kudus ini, maka ada berbagai macam cara yang bisa dilakukan dalam bentuk berbagai ibadah seperti :

- Sembahyang Harian (Sholat) yang masing-masing tertib waktunya mempunyai makna Perayaan dari segenap Kehidupan Kristus (Sang Firman) sebagai manusia,

- Selain itu ada Puasa (sebagai disiplin dalam praktek panunggalan dengan kesengsaraan dan kematian Kristus ”Kalimatullah” untuk mematikan hawa-nafsu, serta manunggal dengan kebangkitan Kristus guna memunculkan sifat-sifat manusia baru,

- Taffakur-Dzikir ‘’Doa Yesus’’ sebagai penyatuan Batin dengan Pribadi Isa Almasih (Yesus Kristus),

- Mengaji / Membaca Kitab Suci untuk mendapatkan bimbingan Ilahi mengenal Kristus lebih dalam lagi, dan lain-lain.

Maka teranglah bahwa iman Kristen Orthodox tak pernah berbicara mengenai ‘’pahala’’ sebagai upah dari ibadah semacam itu. Karenanya ibadah-ibadah itu tak dimengerti sebagai amal yang mendatangkan ”pahala”, namun sebagai disiplin rohani dalam memperdalam panunggalan manusia dengan Kristus oleh iman. Dan iman yang demikian inilah iman yang hidup karena ‘’iman tanpa perbuatan itu pada dasarnya mati’’ (Yakobus 2:26). Iman Kristen Orthodox tak mempercayai bahwa perbuatan kesalehan itu yang menyelamatkan manusia. Karena keselamatan itu berarti menyatu dengan Kristus, bukan sebagai upah atau pahala berbuat baik ataupun melaksanakan ibadah.

Sang Firman ”Kristus” yang menjadi landasannya dan Kristus pula yang menjadi tujuan akhir dari semua ibadah ini, bukan pada tata-aturan ibadahnya sendiri meskipun sebagai disiplin rohani tata-aturan itu penting, jadi memang jauh berbeda dengan perbuatan kesalehan Taurat yang dimengerti oleh ummat Agama Samawi lainnya, atau ketaatan pada hukum syariat dalam pemaham Agama Samawi lainnya pula. Demikianlah maka dalam kaitan dengan makna hubungan akidah dan ibadah ini puasa harus dimengerti dalam memahami makna puasa dalam penghayatan Iman Kristen Orthodox. Puasa tak boleh dimengerti dalam dirinya sendiri, namun dalam kaitannya dengan tujuan akhir hidup Kristen yang Orthodox yaitu: Manunggal dengan Almasih (Manunggaling Kawulo Gusti).

Puasa Dalam Alkitab Al-Muqaddas - Perjanjian Lama



Dalam Perjanjian Lama kita menjumpai banyak sekali ajaran tentang puasa ini. Puasa dalam bahasa Ibrani disebut sebagai ‘’sum’’ (sebanding dengan kata ‘’shoum’’ dalam bahasa Arab). Kata ‘’sum’’ (puasa) ini sering digabungkan dengan kata ‘’innah nefesy’’ (‘’merendahkan diri’’) - Imamat 16:29, 31; 23:27, 32; Bilangan 29:7; Yesaya 58:3; Mazmur 35:13). Namun sering juga hanya disebut sebagai ”tidak makan roti dan tidak minum air’’ saja (Keluaran 34:28).

Bentuk dan tujuan puasa itu banyak macamnya. Puasa itu dijalankan oleh ummat Israel dalam persiapan mereka untuk perjumpaan dengan Allah (Keluaran 34:28; Ulangan 9:9; Daniel 9:3). Puasa dijalankan oleh perorangan kalau mendapatkan masalah yang berat (II Samuel 12: 16-23; I Raja-raja 21:27; Mazmur 35:13; 69:10). Namun itu juga dilaksanakan oleh seluruh bangsa secara bersama jika menghadapi bahaya peperangan dan penghancuran (Hakim-hakim 20:26; II Tawarikh 20:3; Ester 4:16; Yunus 3:4-10), pada saat ancaman bencana belalang (Yoel 1 dan 2), untuk mendapatkan keamanan perjalanan para tawanan kembali ke Yerusalem (Ezra 8:21-23) dan sebagai upacara pendamaian dengan Allah (Nehemia 9:1), dan akhirnya berkaitan dengan upacara dukacita kematian (II Samuel 1:12). Puasa selalu dilakukan bersama-sama dengan doa (Yeremia 14:11-12; Nehemia 1:4; Ezra 8:21, 23). Puasa biasanya dimulai dari pagi dan berakhir pada sore hari (Hakim-hakim 20:26; I Samuel 14:24; II Samuel 1:12), meskipun ada kalanya dilakukan puasa total 3 hari 3 malam (Ester 4:16). Dalam Mazmur 109:24 kesulitan jasmani karena puasa merupakan refleksi kesulitan batin yang dialami oleh yang menjalankan puasa itu. Ada satu puasa yang diwajibkan bagi segenap bangsa Israel yaitu pada saat Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur) - Imamat 16:29-31; 23:27-32; Bilangan 29:7). Dan sesudah penghancuran Yerusalem (587 ses. Mas.) puasa empat-buah hari-hari puasa ditetapkan sebagai peringatan (Zakharia 7:3-5; 8:19).

Sering makna puasa yang terdalam sebagai perendahan diri di hadapan Allah ini menjadi tak dimengerti serta diperdangkal oleh manusia, sehingga dianggap hanya sebagai usaha mencari pahala dari amal kesalehan saja. Para nabi berusaha keras menentang pendangkalan makna puasa ini (Yesaya 58:3-7; Yeremia 14:12), namun sering tak digubris. Pada zaman Sayidina Isa Almasih (Yesus Kristus) orang-orang yang ingin lebih mendalam dalam keagamaannya, terutama kaum Farisi, menjalankan puasa dua kali seminggu (Senin-Kamis) (Lukas 18: 12), demikian juga murid-murid Yohanes menjalankan peraturan yang sama.



Puasa Dalam Alkitab Al-Muqaddas - Perjanjian Baru



Kata ‘’sum’’ dalam bahasa Ibrani Perjanjian Lama ini berbunyi ‘’neesteia/nistia’’ (Yunani: νηστειαν) dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru. Karena praktek yang sudah umum di antara bangsa Yahudi mengenai puasa ini, Yesus tidak memberikan rincian mengenai bagaimana harus berpuasa. Dia hanya mengandaikan bahwa orang beriman itu pasti berpuasa, yang disertai dengan sembahyang serta shodaqoh (”tsedeqa”, Ibrani) (Matius 6:1-18). Yesus mengatakan: ’’Dan apabila kamu berpuasa...’’ (Matius 6:16). Menunjukkan ada saatnya orang beriman berpuasa (‘’apabila’’), sebagai suatu kemestian ibadah. Dia tak mengatakan: ’’Jikalau kamu berpuasa ...’’, seolah-olah orang beriman punya pilihan untuk melaksanakan kalau mau, atau tidak melakukan kalau tidak mau. Konteks kepada siapa Dia mengatakan ajaran ini tidak memungkinkan tafsiran yang demikian ini. Memang untuk murid-muridNya Yesus menunjukkan kapan saatnya mereka menjalankan puasa itu, pada saat Dia ditanya oleh orang-orang saat murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa: ’’Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?’’ (Markus 2:18). Yesus menjelaskan bahwa saat berpuasa bagi murid-muridNya adalah nanti bila ‘’mempelai (Kristus) itu diambil dari mereka (naik ke Sorga)’’ (Markus 2:20): ‘’PADA SAAT ITULAH MEREKA AKAN BERPUASA’’. Berarti puasa bagi murid KRISTUS barulah akan dijalankan sesudah KRISTUS naik ke sorga, oleh karena itu para murid tak diberi rincian aturan bagaimana berpuasa karena aturan puasa itu terkait dengan paripurnanya Karya Keselamatan Yesus yaitu naikNya ke Sorga.

Dengan demikian puasa yang akan dilakukan ummat beriman itu berbeda dengan puasa ummat Yahudi, puasa ini akan bersifat Kristus-sentris, sehingga oleh Yesus dikatakan bahwa puasa Kristen itu sebagai ‘’kain yang belum susut’’ serta ‘’anggur yang baru’’. Oleh sebab itu tak boleh ditambalkan pada ‘’baju yang tua’’ atau dimasukkan ke dalam ‘’kantong kulit yang tua‘’ (Markus 2:21-22). ”Baju tua” dan ”kantong kulit tua” ini ”keagamaan orang Yahudi”. Sedangkan ‘’kantong kulit yang baru’’ itu adalah ”kehidupan yang berpusatkan pada Kristus”. Maka dalam konteks hidup dalam Kristus dan berlandaskan Kristus inilah puasa Kristen itu harus dilakukan. Namun Yesus sendiri juga memberi teladan bagaimana Dia sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam (Matius 4:2). Yesus juga mengajarkan bahwa pada saat mengusir roh-jahat, orang perlu berpuasa dan berdoa (Matius 17:21). Dan akhirnya kita melihat bahwa sesuai dengan ajaran Yesus Kristus, sesudah KenaikanNya ke sorga para murid Yesus Kristus zaman perdana yaitu Gereja Kristus melaksanakan puasa ini (Kisah 13:3; 14:23). Demikianlah data-data Alkitab mengenai bagaimana puasa itu dilaksanakan. Dan apa yang sudah dimulai dalam masa Perjanjian Baru ini dilanjutkan secara berkesinambungan dalam kehidupan Gereja sepanjang abad sebagaimana yang masih tetap dipelihara dalam Gereja-gereja Orthodox selama hampir 2000 tahun ini.



Puasa Dalam Gereja Perdana dan Gereja Orthodox Masakini



Praktek ibadah puasa dalam Gereja Perdana dapat kita jumpai dalam suatu dokumen purba yang bernama Didachē tōn dōdeka apostolōn (Διδαχὴ τῶν δώδεκα ἀποστόλων) atau ‘’Pengajaran Rasul-Rasul’’ dalam kaitannya dengan persiapan baptisan dan puasa harian. Mengenai persiapan baptisan dikatakan demikian:



’’Dan sebelum baptisan, baik yang membaptis maupun yang akan dibaptis haruslah berpuasa, bersama dengan orang-orang lain yang dapat ikut serta. Dan harus dipastikan bahwa orang yang akan dibaptis berpuasa selama satu atau dua hari sebelumnya‘’

(Didachē tōn dōdeka apostolōn 7:4)



Inilah praktek yang mana tetap dijalankan dalam Gereja Orthodox masakini. Dan mengenai puasa harian dikatakan:



’’Tetapi janganlah sampai puasamu itu jatuh pada hari-hari yang sama dengan kaum munafik (‘’kaum Farisi, lih. Mat. 6:16, pen.), yang berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Namun hendaknya engkau berpuasa pada hari Rabu dan Jum’at’’

(Didachē tōn dōdeka apostolōn 8:1)



Praktek puasa harian: Rabu (sebagai peringatan hari Yesus Kristus dikhianati Yudas) dan Jum’at (sebagai peringatan hari Penyaliban Yesus Kristus) inipun tetap dipraktekkan oleh Gereja-gereja Orthodox masakini.



a. Puasa Agung Catur Dasa



Jika dalam Perjanjian Lama, Allah mewajibkan bangsa Israel untuk berpuasa pada hari Raya Pendamaian dimana korban penghapus dosa disembelih, ummat Kristen perdana memaknai bahwa: ’’Anak Domba Paskah kita juga telah disembelih‘’ (I Kor.5:7), karena Kristus itulah ‘’Anak Domba Allah yang mengangkut/menghapus dosa-dosa dunia’’ (Yohanes 1:29) sebagaimana domba sembelihan pada Hari Raya Pendamaian itu juga menghapus/mengangkut dosa-dosa ummat Israel lama. Demikianlah sejak zaman Gereja Perdana, Hari Pengorbanan Anak Domba Allah yaitu Hari Paskah itu telah menjadi Hari Raya terbesar bagi Ummat Kristen Perdana. Terutama pada saat Masa Sengsara Yesus selama satu minggu penuh sampai Hari Paskah itu sendiri, ummat Kristen Perdana melakukan Puasa. Karena pada saat Paskah itu ummat Kristen mengalami perjumpaan dengan Yang Ilahi oleh Kebangkitan Kristus, maka sebagaimana Musa ketika akan berjumpa dengan Yang Ilahi itu menjalankan puasa 40 hari 40 malam (Keluaran 34:28), dan Yesus Kristus sendiri sebelum menjalankan tugas ke-MesiasanNya untuk menyatakan Yang Ilahi pada UmmatNya juga telah berpuasa 40 hari 40 malam (Matius 4:2), maka puasa 40 hari itupun telah menjadi praktek Gereja sejak zaman purba untuk menyongsong Paskah, perjumpaan dengan Yang Ilahi melalui Kebangkitan Kristus.

Dalam prakteknya masa Puasa 40 hari sebelum Paskah ini dalam Gereja Orthodox ini disebut sebagai: ‘’Tessarakosti’’ (Empat puluh) dan dalam bahasa Inggris ‘’Lent’’ yang di dalam Gereja Orthodox di Indonesia disebut sebagai ‘’Puasa Agung Catur Dasa’’. Gereja Roma Katolik dan Protestan arus utama di Indonesia menyebutnya sebagai ”Puasa Pra-Paskah”, meskipun tanggal pelaksanaannya berbeda, karena perbedaan kalender yang digunakan. Gereja Orthodox menggunakan Kalender yang lebih tua yaitu Kalender Yulian, sedangkan Gereja Roma Katolik dan Protestan menggunakan Kalender Gregorian atau Kalender umum yang sekarang kita pakai di Indonesia ini.



b. Puasa-puasa Lain



Disamping puasa agung, ini masih ada beberapa puasa lain dalam Gereja-gereja Orthodox disamping puasa harian Rabu dan Jum’at, yaitu sore hari sebelum tanggal 6/19 Januari peringatan pembaptisan Kristus (Ephiphani), menjelang Natal dari 15/28 November sampai dengan 24 Desember/6 Januari yang bersifat tarak artinya tak berpuasa penuh hanya pantang makanan yang berasal dari binatang hidup, dan lain-lain.

Disamping itu ada hari-hari dilarang puasa karena sifat pesta dan gembira pada hari itu, misalnya dari masa Natal sampai Theofani, seminggu sesudah Paskah, dan lain-lain. Demikianlah melalui puasa ini makna Karya Kristus dihayati lebih mendalam lagi, sebagai disiplin untuk makin manunggal dengan kasih-karunia Kematian dan Kebangkitan Kristus. Demikianlah makna Ibadah Puasa itu dimengerti dan dilaksanakan dalam Gereja Orthodox.



PRAKET PUASA AGUNG CATUR DASA



Puasa Agung Catur Dasa itu sendiri dibagi dalam tiga bagian:



MINGGU PERSIAPAN sebelum puasa yang terdiri dari :



1. Minggu Orang Farisi dan Pemungut Cukai untuk mengingatkan bahwa Puasa yang akan dijalankan itu bukanlah usaha mencari pembenaran tetapi sebagai perendahan diri di hadapan Allah.



2. Minggu Anak Hilang untuk mengingatkan bahwa puasa yang akan dijalankan itu adalah untuk menyadari dosa-dosa dan kembali kepada Allah.



3. Minggu Penghakiman Akhir untuk mengingatkan bahwa puasa ini adalah sebagai usaha untuk sadar bahwa setiap perbuatan manusia itu akan dipertanggung-jawabkan serta untuk mempertajam rasa tanggung jawab sosial kepada sesama.



4. Minggu Pengampunan Dosa untuk mengingat bahwa oleh dosa-dosa kita telah terbuang dari hadirat Allah dan puasa kali ini adalah untuk menyadarkan diri untuk kembali kepada yang Ilahi. Pada hari inilah diadakan saling maaf-memaafkan yang sering disertai dengan isakan tangisan mengharukan. Karena hatinya ingin suci dari benci sebelum menjalankan puasa esok pagi hari Seninnya.



MASA PUASA CATUR DASA yang terdiri dari :



1. Minggu Orthodoxia memperingati kemenangan atas Gerakan Ikonoklasme untuk mengingatkan bahwa puasa yang sudah berjalan selama satu minggu ini adalah untuk mengembalikan fitrah manusia yaitu ikon (gambar) Allah yang kabur karena dosa dengan menyatu dengan kebangkitan Kristus di Hari Paskah.



2. Minggu Gregorius Palamas mengingat kemenangan Hesykhasme yang menegaskan bahwa kembali kepada Fitrah Gambar Allah itu tak mungkin terjadi tanpa rahmat ilahi, yaitu Energi Ilahi yang memuliakan manusia.



3. Minggu Salib untuk mengingatkan bahwa dalam puasa ini rahmat atau kasih-karunia pemulihan Kodrat itu tak mungkin terjadi tanpa kerelaan menyalibkan kehendak hawa nafsu dosa.



4. Minggu Yuhana (Yohanes) Klimakus untuk mengingatkan bahwa melalui penyaliban diri untuk mencapai pemulihan gambar di dalam Kristus itu tak dapat dilakukan sekaligus namun melalui tahapan-tahapan seperti tangga (klimaks).



5. Minggu Maryam dari Mesir untuk mengingatkan bahwa dosa yang bagaimanapun yang telah dilakukan melalui kasih-karunia Allah dalam Kristus akan mendapatkan pengudusan.



Selama masa puasa ini diadakan Sembahyang sore setiap hari sebanding dengan ”Sholat Tarawih”. Dan selama puasa ini ummat tidak makan apapun, kecuali pada hari berbuka sekali saja sore hari, Dan makanannya adalah vegetarian artinya tanpa makanan dari binatang, kecuali hari Sabtu dan Minggu diijinkan makan ikan, untuk mengingatkan bahwa tujuan puasa ini adalah menuju kepada fitrah seperti Adam sebelum jatuh dalam dosa, dimana pada saat itu dia hanya diberi makanan dari sayur-sayuran dan buah-buahan saja (Kejadian 1:29), dan hubungan suami-isteri tidak dilakukan selama masa puasa ini (I Kor. 7:5).



PEKAN KUDUS yang terdiri dari :



Sabtu Lazarus, peringatan kebangkitan Lazarus, Minggu Palem, Senin Kudus. Selasa Kudus, Rabu Kudus dimana diadakan Pengurapan bagi Kesembuhan Orang Sakit, Kamis Kudus peringatan pembasuhan Kaki murid-murid, ulang-tahun penetapan Perjamuan Kudus. Sorenya diadakan Arak-arakan Salib sebagai peringatan penyaliban Kristus, Jum’at Agung dibacakan 12 bacaan Injil mengenai sengsara Kristus, arak-arakan replika Keranda penguburan Kristus, dan Sabtu Kudus diadakan Ibadah Kidung dukacita di depan Keranda Kristus, malam harinya peringatan Kebangkitan Kristus dimana seluruh Gereja dipergelap dan akhirnya lilin dipasang pada segenap jemaat. Lalu dilanjutkan Liturgi Paskah sampai pagi hari. Demikianlah Hari raya Paskah pagi itu merupakan hari Kemenangan Kristus atas Dosa, Maut dan Iblis, dan pada saat itulah sering diadakan Baptisan untuk menyatu dengan kemenangan Kristus, serta dipulihkan kembali kepada Fitrah melalui kebangkitan.



Ditulis kembali oleh :

Arethas Wahyu

Sumber :

- Arkhimandrit Fr. Daniel B.D.Byantoro. Ph.D

- Presbyter Rm. Kyrill J.S.L.

(sumber: http://www.facebook.com/notes/komunitas-orthodox-indonesia-gregorius-palamas/puasa-dalam-gereja-orthodox/540867339280881)

2 komentar:

  1. Tata laksana atau teknis dari masing2 puasa bagaimana? apa memang tidak makan sama sekali atau seperti muslim?

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus