Rabu, 17 April 2013

Macam-Macam Tasbih Kristen

Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Salah satu bentuk doa adalah berdzikir yaitu memuji dan mengingat Allah dengan cara mendaraskan doa tasbih dengan mengulang-ulang Nama Tuhan dengan khusyuk, penuh iman dan kasih untuk menyelam dalam hati dan mencapai keheningan batin. Di dalam keheningan batin inilah orang akan menemui Sang Khalik secara pribadi dan mengalami persatuan secara mistika denganNya. Untuk mendaraskan doa-doa ini, biasanya orang menggunakan tasbih.

Di dalam aspek esoterik agama-agama besar dunia, doa-doa tasbih juga digunakan. Sehingga Doa Tasbih adalah sistem doa universal sebab terdapat pada hampir semua agama-agama besar dunia. Inilah tapak-tapak jejak kebenaran universal, yang berasal dan bersumber dari Wahyu Umum Allah.

Para sarjana, berdasarkan riset sejarah, setuju bahwa doa tasbih pertamakali digunakan oleh agama Hindu. Tasbih doa agama Hindu dalam bahasa Sansekerta dinamakan “Japamala” berarti “tasbih pendarasan”, yang menunjuk pada tasbih doa. Orang Hindu mengenal tasbih untuk mendoakan “Doa Nama” untuk memuja-muja Tuhan. Orang Hindu yang saleh berusaha menghafalkan seribu Nama Tuhan dalam bahasa Sansekerta, setiap nama penuh makna dan mengungkapkan salah satu sifat Allah.

Agama Budha mengadopsi dari agama Hindu dalam penggunaan tasbih doa yang juga disebut “Mala” atau “Japamala”.

Dalam agama Yahudi (Yudaisme) tidak digunakan tasbih doa, tetapi menggunakan selendang doa Yahudi yang dikenal sebagai “Tallit” termasuk didalamnya sejumlah simpul yang sudah ditetapkan, Dengan tallit, haruslah kaum Israel “mengingat semua perintah-perintah Tuhan” (Bil. 15:39).

Tasbih Muslim dikenal sebagai “Misbaha” (bhs. Arab), “Tasbeeh” (bhs. Urdu) atau “Tespih” (bhs. Albania, Turki and Bosnia). Al-Qur’an secara berulang-ulang berbicara tentang “dzikir kepada Allah”, dengan mengingat Allah dengan berulang-ulang mendaraskan 99 Nama yang indah dari Allah (Al-Asma Al-Husna). Pendarasan ini sebagai suatu cara bagi mereka yang beriman untuk memperkuat keyakinan mereka, dan menemukan ketenangan ketika sedang dalam kesulitan besar.

Untaian biji-biji manik yang dipakai untuk menghitung dan membantu berkonsentrasi dalam berdoa dan memanjatkan puji-pujian kepada Allah atau tasbih dikenal juga dihampir semua bentuk Kekristenan. Dengan biji tasbih orang menghitung doa-doa atau mengulangi doa yang sama seperti "Tuhan kasihanilah kami", "Salam Maria", dan sebagainya.

Memang doa dengan tasbih sama sekali tidak memerlukan kecerdasan. Doa ini adalah doa bagi orang sederhana. Kesederhanaan di sini khususnya kesederhanaan batin yang dapat dimiliki tidak hanya oleh orang "kecil" tetapi juga oleh orang-orang terkemuka maupun cerdik-cendikiawan. Ada berbagai macam jenis tasbih Kristen. Di bawah ini dibahas secara singkat beberapa jenis tasbih Kristen.

TASBIH KEKRISTENAN ORTHODOX YUNANI


Komboskini Yunani Berbiji 100

Tasbih ini dalam Gereja-Gereja Orthodox dan Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur (Gereja Uniat) dikenal sebagai komboskini, Komboschini, Komboschoinion, Komboschoinia, Komvoschini, Komvoschinon, Komvoschinion, Komvoschinia, Comboschini, atau Chomboschini. Kadang-kadang tasbih ini disebut juga sebagai ”Rosario Byzantin”. Saat ini tasbih Yunani juga tersebar secara luas dan digunakan di Gereja Roma Katolik. Tasbih ini terbuat dari wol hitam atau warna lain yang dipintal dan berbiji 100, ada juga yang lebih pendek, terdiri dari 33 manik-manik. Mungkin untuk mengingat umur Yesus dimuka bumi yaitu 33 tahun. Untuk yang berbiji 100, tidak ada keterangan lebih lanjut mengapa berbiji 100. Komboskini ini biasanya digunakan untuk mendaraskan "Doa Yesus" (”Doa Puja Yesus”; “Yesus Prayer”), suatu doa yang amat sederhana sehingga bisa dipraktekkan setiap orang tetapi juga amat dalam, sehingga mampu membawa kepada doa yang paling murni. Doa Yesus bersandarkan pada nasehat St. Paulus Sang Rasul untuk berdoa tak kunjung putus: “Pray without ceasing” (“berdoalah tak kunjung putus”) (King James Version Bible, Douay-Rheims Bible dan English Standart Version) (I Tes. 5:17) dan juga atas anjuran Tuhan Yesus sendiri pada para muridNya: "Waspadalah dan berdoalah tak henti-hentinya ... ". Rumusan doa ini berdasarkan seruan si buta di Yeriko (Luk. 18:38) dan doa si pemungut cukai (Luk. 18:13), yaitu: "Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah kasihanilah aku orang berdosa ini." Rumusan ini juga bisa diperpendek berupa: "Tuhan kasihanilah kami", "Kyrie Eleison" (Bahasa Yunani), "Ya, Robbu Arham" (Bahasa Arab), dan berbagai bahasa lokal/ daerah lainnya. Bahkan rumusan ini bisa diperpendek dengan hanya menyebut "Nama Yesus" saja. Doa ini seharusnya diulang dengan hening, dengan tidak tergesa-gesa, sementara menarik dan mengeluarkan napas mengikuti rumusan doa ini.

Tradisi doa ini sudah dijumpai pada para Bapa padang gurun (pertapa hermit), yaitu pada tradisi kerahiban di Mesir, Syria, Palestina sejak abad ke-2, walaupun pada mulanya rumusan doa ini tidak sistematis dan sama/seragam. Di Gunung Sinai dan Gunung Athos, para rahib memperkembangkan suatu sistem tafakur yang utuh dan luas dengan doa yang yang sederhana ini, dipraktekkan dengan keheningan yang mutlak. Di situlah hesykhasme, yaitu suatu aliran spiritualitas dan Kekristenan esoteris di Gereja Orthodox yang didasarkan atas hesykhia (keheningan) sebagai sarana untuk menjadi terpusat pada persatuan dengan Allah dalam doa tak kunjung putus, mendapat bentuknya yang definitif dan kemudian tersebar ke semua daerah Orthodox.

Menurut kebiasaan yang berasal dari abad pertengahan, doa Yesus didoakan para rahib dengan memakai tasbih komboskini, yang diserahkan kepada mereka pada profesi mereka. Metode tafakur berdasarkan nama Yesus ini dianggap berasal dari St. Simeon Sang Theolog Baru (949 - 1022). St. Gregorius Palamas (1296 - 1359), Bapa Gereja Agung yang terakhir, menjadi teladan utama dari kaum hesykhas, karena perjuangannya ia memenangkan suatu tempat yang tidak dapat dibantah untuk doa Puja Yesus ini.

Dalam Gereja Latin, Roma Katolik, doa ini tersebar luas berkat buku berjudul: "Kisah seorang peziarah." (The Way of Pilgrim), dalam bahasa Indonesia diterbitkan Kanisius (Seri Sumber Hidup). Sekarang doa ini banyak digunakan oleh Gereja Roma Katolik, Anglikan dan Protestan, walaupun dalam bentuk yang tidak mendalam. Jadi dalam Gereja Timur / Orthodox, sejak pada mulanya tidak pernah dikenal Doa Rosario dengan rumusan doa Salam Maria-nya, seperti yang ada di dalam Gereja Roma Katolik.

TASBIH KEKRISTENAN ORTHODOX RUSIA DAN GEREJA-GEREJA SLAVONIK


Chotki yang Dipintal dari Wol

Orang Rusia menggunakan tasbih yang terdiri dari 33, 50, 100, 101, 103, 150, 300 atau 500 manik-manik atau wol hitam yang dipintal. Selain angka 33 untuk mengingat umur Yesus dimuka bumi yaitu 33 tahun, tidak ada keterangan mengapa angkanya 50, 100, 101, 103, 150, 300 atau 500. Angka 103, terdiri dari 3 biji tasbih pembatas, untuk setiap 25 biji atau variasi jumlah lain. Tasbih doa ini di Gereja Orthodox Rusia digunakan untuk mendaraskan “Doa Yesus” (“Молитва Иисусова” ; “Molitva Iesusova” ; “Yesus Prayer”). Doa Yesus ini merupakan doa batin dalam Gereja Orthodox Rusia yang biasanya didaraskan dengan menggunakan tasbih Orthodox yang dalam bahasa Rusia disebut “Chotki” atau ”Tchotki” (“Чётки“), sedang dalam bahasa Serbia disebut ”Broyanitasa” atau ”Brojanica” dalam bahasa Romania disebut ”Matanie” atau ”Matanii”.

TASBIH ATAU ROSARIO SANTA BRIGITTA

Brigita atau Birgitta adalah seorang wanita suci dari Swedia. Dia hidup sekitar tahun 1300 - 1373. Salah satu dari delapan anaknya ialah Santa Katarina. Tasbihnya terdiri dari 63 butir atau 63 kali Salam Maria. Setelah tujuh kali Salam Maria lalu diselingi satu Credo atau Aku Percaya.
Mengapa 63 ? Menurut ceritera, Santa Maria meninggal pada usia 63 tahun.

TASBIH ATAU ROSARIO ORDO SERVORUM


Tasbih atau Rosario Ordo Servorum

Ordo Servorum adalah Serikat Biarawan imam atau disebut Pengabdi Maria. Tasbih Ordo ini terdiri dari 49 butir, atau 7 X 7 Salam Maria. Setiap tujuh kali Salam Maria lalu diselingi dengan satu kali Bapa Kami. Dasar hitungan tujuh kali tersebut ialah ketujuh duka cita Maria, yang digunakan bahan renungan waktu berdoa rosario.

TASBIH ATAU ROSARIO ROMA KATOLIK


Rosario Roma Katolik

Dikenal juga sebagai rosario. Dalam abad ke XI ada tradisi mendoakan seorang yang meninggal oleh imam-imam dengan doa Nabi Daud yaitu 150 mazmur-mazmur atau psalm. Orang awam lalu berdoa 150 Bapa Kami. Untuk menghitungnya digunakan suatu untaian manik-manik terdiri dari 150 butir. Sedang biarawati di Inggris berdoa 150 Salam Maria. Biasanya 150 mazmur dibagi menjadi tiga bagian menjadi 3 X 50. Pembagian ini diterapkan juga pada Bapa Kami dan Salam Maria, setiap bagian menjadi 50 kali Bapa Kami atau 50 Salam Maria. Perkembangan lebih lanjut ialah doa 50 X Salam Maria itu diselingi oleh Bapa Kami dan Kemuliaan, lalu menjadi 10 Salam Maria, satu kali Bapa Kami dan satu kali Kemuliaan, seperti kita kenal sekarang. Dan doa rosario ini mulai dikenal umum sejak abad ke XVI.

TASBIH ATAU ROSARIO PROTESTAN EPISKOPAL ANGLIKAN


Rosario Angklikan

Tasbih doa Anglikan yang disebut juga ”Rosario Anglikan” digunakan untuk bentuk doa tasbih yang relatif baru, yang merupakan gabungan doa tasbih Doa Yesus dari Orthodox dan doa tasbih Rosario Roma Katolik. Inilah Doa tasbih Anglikan (Anglican Prayer Beads), yaitu bentuk doa kontemplatif dalam gereja Anglikan. Tasbih Anglikan menggunakan tiga puluh tiga manik-manik yang dirancang oleh Rev. Lynn Bauman pada pertengahan tahun1980-an, melalui penyelidikan penuh doa dan penemuan kelompok doa kontemplatif. Jumlah manik 33 menunjukkan jumlah tahun Yesus hidup di bumi.

TASBIH PROTESTAN FRALSARKRANSEN ATAU KRISTUSKRANSEN


Tasbih Frälsarkransen atau Kristuskransen

Tasbih Frälsarkransen adalah tasbih doa yang digunakan oleh gereja Protestan Lutheran. Tasbih ini dirancang oleh Martin Lönnebo, seorang uskup emeritus Lutheran di Swedia, pada pertengahan tahun 1990an.
Ia menamakannya tasbih atau rosario "Frälsarkransen", yang berarti ”Rangkaian bunga Kristus berbentuk lingkaran” ("The Wreath of Christ", nama ini dalam bahasa Norway dan Denmark adalah "Kristuskransen"). Ia ingin menekankan arti dari keheningan dalam doa. Berdoa tidak hanya berbicara dalam kata-kata, tetapi juga hadir di hadapan Allah, dengan tangan dan pendengaran kosong. Hanya hadir. Memandang dan menyentuh dengan menggerakkan/mendorong perlahan manik-manik untuk berkonsentrasi dan mengingat sesuatu yang paling penting di dalam hidup.
Manik-manik "The Wreath of Christ" mempunyai banyak arti, mengandung banyak gambaran dan rahasia. Setiap satu manik menceritakan sesuatu tentang Allah dan tentang kita. Di manik-manik dari doa, orang dapat juga melihat hidup dari Kristus dari Betlehem – melalui Gurun Pasir – ke bukit dari kotbah “jangan kuatir” – melalui perjamuan akhir – menuju salib dan kubur kosong di taman – pagi sukacita kebangkitan.
Manik-manik tasbih Frälsarkransen menggunakan berbagai bentuk dan warna: manik warna keemasan “Allah”, manik-manik berbentuk oval tidak berwarna “Keheningan”, manik-manik - ”Ku” berbentuk mutiara kecil, manik putih “Baptisan”, manik berwarna “Gurun pasir”, manik merah “Pengorbanan”, manik-manik seperti mutiara kecil “Rahasia-rahasiaku”, manik hitam “Kegelapan”, manik putih “Kebangkitan”. Semuanya ada 18 manik-manik.

REFERENSI

1. Christine Huda Dodge. Memahami Segalanya Tentang Islam (The Everything Understanding Islam Book). Karisma Publishing Group. Batam Centre. 2004.

2. Majalah Ave Maria. No. 19. Br. Tethard. Macam-macam Tasbih. Mulanya Sebagai Pengganti Mazmur. Diterbitkan oleh Marian Center Indonesia. Jakarta. Januari 1999.

3. Majalah Ave Maria. No. 22. Dari Soul. Doa Salam Maria. Terdiri dari tiga bagian: Salam Malaikat, kata-kata Elisabeth dan tambahan Gereja. Diterbitkan oleh Marian Center Indonesia. Jakarta. Juli 1999.

4. Mother Alexandra (H.R.H. Princess Ileana of Romania) of the Holy Transfiguration Monastery. Introduction To The Jesus Prayer. Light and Life Publishing Company. Minneapolis, Minnesota 55426. 1997.

5. Anglican Prayer Beads. A Form of Contemplative Prayer: http://www.kingofpeace.org/prayerbeads.htm

6. Frälsarkransen - The Wreath of Christ/Pearls of Life - Lutheran rosary: http://www.rukoushelmet.net/English.htm

7. From Wikipedia, the free encyclopedia: Prayer beads.

(sumber: http://terangdaritimur.blogspot.com/2009/12/macam-macam-tasbih-kristen.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar