Jumat, 22 Februari 2013

Hari-Hari Ibadah


I. Hari Sabat & Hari Tuhan

Berdasarkan Tradisi Rasuli, hari Minggu disebut juga sebagai Hari Tuhan, yaitu memperingati tentang karya kehidupan Kristus di bumi secara utuh, mulai dari kelahiranNya, khotbahNya, kematian dan kebangkitanNya; inilah peringatan Paskah “kecil” yang dilakukan oleh Gereja Orthodox setiap Minggunya. Oleh karena itu umat Kristen beribadah pada hari Minggu, yaitu hari pertama dalam satu Minggu sebagaimana hal ini disaksikan oleh Kitab Suci.

Kis 20:7
7. Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.

Dalam Kis 20:7 disebutkan frase tentang “memecah roti” dan “berbicara dengan saudara-saudara di situ”, ini merupakan dua bentuk ibadah yang mengacu pada pelaksanaan Liturgi Komuni (Ekaristi/Perjamuan Kudus) dan Liturgi Sabda, dengan demikian memang Kitab Suci memberikan fakta bahwa persekutuan Kristen Perdana dilakukan pada hari Minggu.

Kitab Suci telah mencatat bahwa hari Sabat adalah bayangan dari Kristus saja,

Kol 2:16-17
16. Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;
17. semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.

Sehingga dalam Gereja Kristen, aturan Hukum Taurat harus ditinjau berdasarkan dan berpusatkan pada Kristus (Kristosentris) dan tak lagi dimaknai sebagai suatu hari peringatan Yahudi. Hal ini bersesuaian dengan keputusan Roh Kudus dan Sidang Para Rasul di Yerusalem (Kis 15) bahwa kepada umat Kristen tidak ditanggungkan beban Hukum Taurat secara Yahudi.

Kis 15:10,28
10. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?
28. Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini.

Dengan demikian jika kita sedang berusaha meletakkan kuk Hukum Taurat secara Yahudi kepada umat Kristen maka kita sedang mencobai Allah dan menolak keputusan Roh Kudus.

Selanjutnya, Kitab Didakhe yang ditulis pada masa Gereja Perdana (sekitar 80 AD) dan berisi tentang Tata Ajaran 12 Rasul mengenai kehidupan berGereja juga menyatakan:

1. Persekutuan Kristiani di Hari Tuhan. Namun pada setiap hari milik Tuhan, berkumpulah bersama, pecahlah roti, dan saling berterima kasihlah setelah kamu mengakui kesalahanmu, sehingga korbanmu dapat disucikan.
[Didakhe 14:1. 80AD]

Para Bapa Gereja mencatat bahwa ibadah Gereja Perdana berlangsung pada Hari Tuhan (Minggu) ini, antara lain sebagai berikut:

1. If, therefore, those who were brought up in the ancient order of things have come to the possession of a new hope, no longer observing the Sabbath, but living in the observance of the Lord's Day.
Translate:
1. Sebab jika mereka yang dibesarkan dalam hal aturan kuno telah datang untuk memiliki suatu harapan yang baru, tidak lagi menjalankan Sabat, melainkan hidup dalam menjalankan Hari Tuhan.
[Js.Ignatius Antiokhia.107 AD.Surat Magnesia 9:1]

1915. …But Sunday is the day on which we all hold our common assembly, because it is the first day on which God, having wrought a change in the darkness and matter, made the world; and Jesus Christ our Saviour on the same day rose from the dead.
Translate:
1915. …Namun hari Minggu adalah hari dimana kita semua biasa menetapkan persekutuan, karena itulah hari pertama yang mana Allah telah membuat suatu perubahan dalam kegelapan dan materi, dengan menciptakan dunia; dan Yesus Kristus, Juruselamat kita, pada hari yang sama bangkit dari kematian.
[Js.Yustinus Martir.145 AD.Apologetika Pertama 67:1915]

Hari Tuhan (Minggu) adalah hari pertama dalam satu Minggu ataupun juga hari kedelapan (setelah hari Sabat/Sabtu yang artinya bagi orang Ibrani adalah hari yang ketujuh). Dengan demikian sebagai hari pertama maka hari Minggu adalah hari penciptaan, suatu penciptaan hal-hal yang baru sebagaimana pernyataan Tuhan sendiri,

Why 21:5
5. Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."

Melalui ibadah hari Minggu maka kita dipersatukan dengan suatu hari penciptaan yang baru dimana kita menanggalkan manusia lama kita dan mengambil rupa dalam manusia baru dalam Kristus. Sebagai hari kedelapan, Hari Tuhan berkaitan dengan hari akhir Kerajaan Allah, angka delapan memiliki simbolis yang amat penting dalam kehidupan Yahudi dan Kristen, yaitu menandakan “setelah penggenapan ataupun kesempurnaan”, itulah Kerajaan Allah dan dunia yang akan datang. Juga hari kedelapan memiliki hubungan yang erat dengan ciptaan yang baru sebagaimana makna hari pertama, yaitu Kristus (dan juga orang Yahudi) telah disunatkan pada hari yang kedelapan dengan maksud menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia yang baru, karena kita tahu bahwa sunat Yahudi adalah sejajar dengan baptisan air Kristen (Kol 2:11-12).

Kol 2:11-12
11. Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa,
12. karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.

Demikianlah hal ini ditegaskan kembali dalam Surat Rasul Barnabas (bukan Injil Barnabas),

226. Ye perceive how He speaks: Your present Sabbaths are not acceptable to Me, but that is which I have made, when, giving rest to all things, I shall make a beginning of the eighth day, that is, a beginning of another world. Wherefore, also, we keep the eighth day with joyfulness, the day also on which Jesus rose again from the dead.
Translate:
226. Engkau melihat bagaimana Dia berbicara: Sabatmu yang sekarang tidak berkenan bagiKu, namun inilah yang telah Kulakukan, yaitu ketika memberikan istirahat kepada segala sesuatu, Aku akan membuat permulaan dari hari yang kedelapan itu suatu permulaan dunia yang lain. Karenanya juga kami menjaga hari kedelapan dengan sukacita, yaitu hari dimana Yesus juga bangkit kembali dari kematian.
[Rasul Barnabas.70 AD.Surat Barnabas 15:226]

Beberapa tahun-tahun diatas (semua tahun dibawah tahun 300 AD) telah lebih dari cukup untuk mematahkan asumsi keliru yang dilontarkan secara serampangan dengan menyatakan bahwa ibadah hari Minggu baru ditetapkan atau diubah dari hari Sabtu (Sabat) kepada hari Minggu mulai zaman Kaisar Konstantinus (321 AD).

II. Ketujuh Hari Raya Yahudi

Telah kita tinjau sebelumnya bahwa dalam Kol 20:7 tercantum juga “hari-hari raya” yang tentu mengacu pada hari raya Yahudi (Im 23), dan semuanya berkenaan dengan Kristus sebagai wujud dari bayangan tersebut. Adapun hari-hari raya tersebut adalah sebagai berikut:

01. Hari Sabat
Bagi Gereja Orthodox, hari Sabat (Sabtu) tetap dihormati namun bukan sebagai hari ibadah raya sebagaimana umat Yahudi merayakannya, melainkan sebagai hari persiapan (bagi roh, jiwa dan tubuh kita) dalam menyongsong Kristus pada hari Minggu, oleh karena itu pada hari Sabat (Sabtu) seluruh kegiatan puasa Gereja diakhiri pada pukul 12 siang.

02. Hari Paskah
Bagi umat Yahudi, yang dimaksud Paskah adalah mengenang peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir dengan cara menyembelih domba sesuai aturan yang ditetapkan.

Bagi umat Kristen, yang dimaksud Paskah adalah mengenang peristiwa kebangkitan Kristus yang mengeluarkan kita dari dosa dengan cara penyaliban dan kematianNya. Jadi Paskah secara khusus memang memperingati kebangkitan Kristus, namun tak melupakan ataupun menghapuskan peringatan kematianNya (dan bahkan seluruh kehidupan dan karyaNya di bumi).

03. Hari Roti Tak Beragi
Bagi umat Yahudi, hari raya Roti Tak Beragi jatuh sehari setelah Paskah dan berlangsung selama 7 hari, diperingati dengan memakan roti tanpa ragi.

Bagi umat Kristen, 7 hari setelah Paskah jatuh pada peringatan Minggu Js.Thomas, dimana Tradisi Rasuli menyatakan bahwa Kristus menemui Rasul Thomas seminggu setelah kebangkitanNya. Dalam Minggu ini kita diingatkan bahwa meskipun kita belum melihat Kristus secara lahiriah menyentuh kita, namun Roh Kudus telah menyentuh hati kita sehingga kita dapat percaya kepadaNya dan juga merupakan peringatan bagi umat Kristen yang baru dibaptis air, meninggalkan manusia lamanya dan menjadi manusia baru dalam Kristus, membuang ragi lama sehingga kita menjadi adonan yang baru tanpa ragi kejahatan dalam Kristus.

1Kor 5:7-8
7. Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.
8. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.

04. Hari Pentakosta
Bagi umat Yahudi, hari raya Pentakosta dilakukan dengan cara membawa dua roti unjukan, mempersembahkan korban sajian bagi Tuhan.

Bagi umat Kristen, hari raya Pentakosta dilakukan sebagai peringatan akan turunNya Roh Kudus kepada Para Rasul di Yerusalem saat mereka sedang bersekutu (Kis 2).

05. Hari Peniupan Serunai
Bagi umat Yahudi, hari raya Peniupan Serunai dilakukan dengan meniupkan Serunai.

Bagi umat Kristen, hari raya Peniupan Serunai merupakan bayangan dari Pesta Tahun Baru Gereja (jatuh tepat bulan ketujuh Tisyri, dalam kalender modern September s/d Oktober). Bunyi Serunai dalam hati (bukan secara lahiriah) kita mengingatkan supaya kita mawas diri (karena dalam Perjanjian Lama, Serunai/Sangkakala seringkali digunakan dalam pemberitahuan perang) atas apa yang telah terjadi pada tahun –tahun yang lalu dalam kehidupan berGereja dan merupakan peneguhan kembali komitmen manusia kepada Yesus Kristus.

06. Hari Pendamaian
Bagi umat Yahudi, hari raya Pendamaian jatuh 9 hari setelah hari raya Peniupan Serunai, dilakukan dengan merayakan pertobatan dan mendamaikan diri dengan Allah.

 Bagi umat Kristen, 9 hari setelah Pesta Tahun Baru Gereja adalah Pesta Kelahiran Js.Yohanes Pembaptis, dengan demikian kita merayakan Sang Nabi Yang Mulia, Sang Pembuka Jalan dan Sang Perintis kepada pertobatan dan pendamaian dengan Allah.

07. Hari Pondok Daun (Tabernakel)
Bagi umat Yahudi, hari raya Pondok Daun bertujuan untuk mengenang perjalanan umat Israel di Padang Gurun, disebut juga Hari Raya Tabernakel karena merupakan peringatan bahwa selama di Padang Gurun, Allah telah menyertai bangsa Israel melalui Tabernakel yang mereka bawa.

Bagi umat Kristen, hari raya Pondok Daun merupakan bayangan dari Pesta Kelahiran Sang Theotokos (Bunda Maria) yang juga jatuh pada bulan ketujuh Tisyri, karena ia (Bunda Maria) adalah Tabernakel Allah Yang Kudus, dimana Allah turun kedalam rahimnya dan menjelma dalam bentuk Insani, dengan mengenang kelahiran Sang Theotokos maka kita sedang mengenang awal persiapan penyertaan Allah bagi keselamatan umat manusia sebagaimana Tabernakel tersebut dipersiapkan.

Demikianlah seluruh hari-hari raya Yahudi dimaknai secara Kristosentris dalam kehidupan Kristen, sebab semuanya itu hanyalah bayangan saja dari wujud yang sebenarnya, yaitu Kristus. Kiranya Allah membimbing kita dalam kepenuhan iman dan kebenaran yang sekali dan selamanya telah disampaikan kepada Gereja Orthodox.

(sumber : http://monachoscorner.weebly.com/hari-hari-ibadah.html )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar