Minggu, 09 Desember 2012

Kristologi Gereja Orthodox Timur


Kristologi Gereja Orthodox Timur
[by: Fr.Daniel Byantoro]

Picture

Date: 22 September 2006

Sumber Ajaran Iman Kristen Orthodox
a) Berita Rasuliah
Sebagai Gereja yang secara langsung didirikan Kristus yang lahirnya sebagai akibat langsung dari “Peristiwa Yesus Kristus” oleh karya para Rasul di zaman Gereja Perdana itu , sumber ajaran dari Iman Kristen Orthodox itu bertumpu langsung dari “pemberitaan para Rasul” mengenai peristiwa Yesus Kristus itu terutama peristiwa kematian dan kebangkitanNya.

Pemberitaan Rasul-rasul itu pada awalnya disampaikan dalam bentuk ajaran lisan karena Kitab Suci Perjanjian Baru belum dituliskan apalagi dikanonkan. Kemudian sebagian dari pemberitaan lisan rasuliah itu mulai dituliskan bagi kebutuhan paguyuban-paguyuban Gereja yang telah mereka dirikan (misalnya di Korintus, Tesalonika, Galatia, Efesus, dan lain-lain, yang gereja-gereja purba ini masih ada sampai sekarang dalam wujud Gereja Orthodox itu). Tentu saja gereja-gereja itu telah ada lebih dulu sebelum dituliskannya ajaran-ajaran Rasuliah itu, sebab jika tidak demikian tak mungkin Surat Roma ditulis atau Surat Korintus ditulis jika Gereja Roma atau Gereja Korintus tidak ada terlebih dahulu. Jadi Gereja telah ada lebih dulu sebelum Kitab Suci Perjanjian Baru itu ada. Ajaran Rasuliah yang dituliskan itu mengambil bentuk surat-surat kiriman maupun tulisan-tulisan Injil dan Kisah sejarah karya Roh Kudus dalam Gereja oleh kegiatan para Rasul itu. Selanjutnya melalui bimbingan Roh Kudus tulisan-tulisan Rasuliah itu dikanonkan atau dipakemkan dan sekarang kita kenal sebagai Kitab Suci Perjanjian Baru. Dan Kitab Perjanjian Baru ini kemudian disatukan dengan Kitab Suci Perjanjian Lama, yang diwarisi Gereja Orthodox Purba itu dari umat Yahudi dalam bentuk terjemahan bahasa Yunani yang disebut sebagai “Septuaginta”.

b) Dua Bentuk Ajaran Rasuliah
Ajaran Rasuliah yang memiliki dua bentuk: Lisan dan Tertulis inilah yang dipegang Gereja Orthodox sampai kini, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasul Paulus sendiri:” Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. “ ( II Tesalonika 2:15). Ajaran Rasuliah yang satu namun memiliki dua bentuk: “Lisan” dan “Tertulis” ini merupakan sumber ajaran dan keyakinan serta praktek hidup dari Gereja Orthodox. Ajaran Yang Tertulis harus dimengerti dalam lingkup ajaran lisan, dan Ajaran Lisan harus diuji kebenarannya dari Ajaran yang Tertulis. Dengan kata lain Ajaran Tertulis dan Ajaran Lisan tidak boleh saling bertentangan, namun saling mendukung dan saling menjelaskan.

c) Bentuk-Bentuk Ajaran Lisan
Jika ajaran Tertulis itu akhirnya terpakemkan dalam bentuk Kitab Suci Perjanjian Baru yang kemudian disatukan dengan Peranjian Lama, ajaran Lisan itu akhirnya juga direkam dalam beberapa bentuk, yaitu:
1) Teks Ibadah-ibadah dan Sakramen yang berisi pernyataan theologis yang berasal dari jaman purba namun tetap dipraktekkan Gereja Orthodox sampai kini.
2) Teks Kidung-Kidung Gereja yang juga berasal dari jaman purba dan tetap dinyanyikan dalam Gereja Orthodox sampai kini yang isinya juga mengungkapkan macam-macam kebenaran Injil dan theologia.
3) Rumusan-rumusan Kristologis dari ke-Tujuh Konsili Ekumenis Gereja Orthodox Purba yaitu:
a) Konsili Ekumenis Pertama pada tahun 325 Masehi di Nikea dalam melawan Arianisme yang menentang keilahian Kristus,
b) Kedua pada tahun 381 Masehi di Konstantinopel dalam melawan Makedonianisme yang menentang ke-ilahian Roh Kudus,
c) Ketiga pada tahun 431 Masehi di Efesus dalam melawan “Nestorianisme” yang menentang Kristus hanya memiliki “satu Pribadi” sehingga menolak menyebut Maria sebagai Theotokos,
d) Keempat pada tahun 451 di Kalsedon dalam melawan ajaran “Monophysitisme” yang mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki “satu kodrat” saja yaitu kodrat ilahi, sedangkan kodrat manusiaNya ditelan oleh kodrat ilahi ini,
e) Kelima pada tahun 553 Masehi yang menegaskan ulang makna Kristus itu “Satu Pribadi” dalam “Dua Kodrat” yang tak campur-baur, tak kacau-balau, tak terbagi-bagi serta tak terpisah-pisahkan. Dan “Kedua Kodrat” itu manunggal dalam “Satu Pribadi”.
f) Keenam pada tahun 680-681 Masehi dalam melawan ajaran “Monothelitisme” yang menentang bahwa Kristus memiliki “Dua Kehendak” yaitu kehendak manusia dan kehendak ilahi, dengan kehendak manusiaNya takluk mutlak pada kehendak ilahiNya. Monothelitisme mengajarkan Kristus hanya memiliki kehendak ilahi saja.
g) Ketujuh atau Terakhir pada tahun 787 Masehi dalam melawan ajaran “Ikonoklasme” yang menentang ke-sungguh-an dari kemanusiaan Kristus dalam Inkarnasi-Nya yang memiliki daging dan darah, sehingga dapat dilukiskan dalam bentuk gambar atau “ikon”. Ikonoklasme menolak ikon-ikon dan dianggap sebagai berhala. Gereja Orthodox menegaskan ikon-ikon sebagai bukti kesungguhan jasmani Kristus sehingga dapat digambar, jadi tak ada sangkut pautnya dengan berhala.

Semua ajaran yang dilawan dalam Konsili itu memang bertentangan dengan ajaran Rasuliah, dan Konsili-Konsili berusaha membentengi ajaran Rasuliah itu dengan melawan apa yang salah dari ajaran yang dilawannya itu serta merumuskan apa yang benar sesuai dengan ajaran lisan para rasul yang selama itu dipelihara oleh Gereja, sebagaimana yang diteguhkan oleh Ajaran Tertulis para Rasul dalam Perjanjian Baru. Selama Zaman Konsili-Konsili Ekumenis yang semuanya dilaksanakan di wilayah Gereja Timur ini, Gereja Barat yang berpusat di Roma masih bersatu dengan Gereja Timur. Berbeda dengan Gereja Barat yang hanya memiliki satu pusat di Roma saja, Gereja Timur memiliki empat pusat yaitu di: Konstantinopel ( Istambul, Turki sekarang), Alexandria-Mesir, Antiokhia-Syria, dan Yerusalem. Masing-masing pusat Gereja ini dipimpin oleh seorang Patriarkh atau Paus (untuk Gereja Roma dan Alexandria). Pada zaman itu ketika Gereja Timur sedang jaya-jayanya dalam masalah theologis dan dalam kehidupan ekklesiologisnya, Gereja Barat sedang berada dalam apa yang disebut sebagai “Zaman Kegelapan”.

Ketika Gereja Barat akhirnya berpisah dari Gereja Timur pada tahun 1054, kemudian Gereja Barat ini lebih dikenal sebagai Gereja Roma Katolik sedangkan Gereja Timur dikenal sebagai Gereja Orthodox Timur. Pada tahun 1517 Gereja Barat yang telah memisah dari Gereja Timur itu mengalami perpecahan dengan timbulnya Gerakan Reformasi Protestan yang kini telah melahirkan tidak kurang dari 3300 denominasi (data di USA). Gereja Orthodox Timur itu meskipun satu dan sama dalam ajaran dan praktek-prakteknya di seluruh dunia tetapi itu terdiri dari macam-macam wilayah administrasi dan ekspresi-ekspresi budaya lokal yang berbeda-beda, yaitu: Gereja Orthodox Yunani, Gereja Orthodox Rusia, Gereja Orthodox Serbia, Gereja Orthodox Romania, Gereja Orthodox Antiokhia-Syria, Gereja Orthodox Indonesia dan lain-lain.

4) Definisi Pengakuan Iman Gereja yang merupakan ringkasan ajaran yang intinya berasal dari apa yang diterimanya dari para Rasul, dalam bentuk perumusan Pengakuan Iman, yang dirumuskan dalam Konsili Pertama di Nikea tahun 325 Masehi dan Konsili Ekumenis Kedua di Konstantinopel pada tahun 381 Masehi di Konstantinopel, yang terkenal sebagai “Pengakuan Iman Nikea”.
5) Tulisan-tulisan para Bapa Gereja yang menjabarkan ajaran-ajaran para Rasul baik yang tertulis dalam Kitab Suci Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama maupun yang lisan yang dirumuskan dan didefinisikan dalam Konsili-Konsili Ekumenis maupun dalam Pengakuan Iman Nikea. Bapa-Bapa Gereja yang penting dalam pembahasan Kristologis dan Tritunggal Maha Kudus adalah: Ireneus dari Lyons, Athanasius dari Alexandria, Kyrillos dari Alexandria, Gregorius dari Nyssa, Gregorius dari Nazianzus, Basilius Agung, Yohanes Khrisostomos, Paus Leo dari Roma, dan lain-lainnya.
6) Seni ikonografi, arsitektur bangunan gedung gereja, symbol-symbol dalam ibadah yang semuanhya diwarisi Gereja Orthodox dari jaman Purba yang isinya merupakan ekspresi iman dan doktrin yang diterima Gereja dari zaman para Rasul,
7) Kisah kehidupan para orang Kudus sepanjang zaman yang dikumpulkan dalam kitab yang disebut sebagai “Synaxarion” yang hidup dan ajaran mereka memberikan contoh kongkrit bagaimana ajaran Rasuliah itu dihidupi dalam kehidupan nyata.

Demikianlah kita lihat bahwa Ajaran Lisan yang akhirnya mengambil bentuk yang telah kita bahas diatas itu menjadi lingkup yang di dalamnya Ajaran Tertulis Rasuliah yang berbentuk Kitab Suci itu harus dipahami dan dimengerti, karena keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu Ajaran Rasuliah yang satu. Dan ajaran Rasuliah yang satu inilah yang disebut dalam Gereja Orthodox sebagai “Paradosis Kudus” atau “Tradisi Suci”. Jadi “Paradosis Kudus” yang berbentuk delapan hal termasuk Kitab Suci, dengan Kitab Suci ini sebagai bentuknya yang paling utama dan paling tinggi itu, adalah sumber dari ajaran, doktrin, theologia, dan praktek Iman Kristen Orthodox Timur ini. Dengan demikian jika ajaran, doktrin, theologia serta praktek Protestanisme itu bersumber hanya dari “Kitab Suci saja” tanpa tradisi meskipun akhirnya masing-masing denominasi punya tradisinya sendiri-sendiri, sedangkan Roma Katolikisme sumbernya adalah “Kitab Suci dan Tradisi”, Gereja Orthodox sumber ajarannya adalah Ajaran Rasuliah yang satu, yaitu “Paradosis Kudus” yang Kitab Suci itu termasuk didalamnya sebagai ekspresi Paradosis Kudus yang terpuncak, yang diilhami oleh Roh Kudus.

Kebangkitan Kristus sebagai Inti Berita Rasuliah
Bahwa “kebangkitan” Kristus itu merupakan pemberitaan inti para Rasul itu dinyatakan oleh ajaran tertulis dari Rasul-rasul itu sendiri yang akhirnya dikanonkan dalam wujud Kitab Suci itu, demikian: ”Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang ……. untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kisah Rasul 1:21-22), “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kisah Rasul 2:32), “…. Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.” (Kisah 3:15), “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Rasul Paulus mencirikan peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai hal “yang sangat penting” (en protois = yang pertama sekali). Karena melalui kebangkitanNya ini Gereja Orthodox berdasarkan ajaran Rasuliah itu melihat keunikan Pribadi dan Karya Kristus, dan melalui keunikan Pribadi dan Karya Kristus itu Gereja Orthodox memahami siapa Allah itu sehingga sampai kepada pemahaman tentang sifat Tritunggal dari Allah yang Esa itu. Itulah sebabnya dalam Gereja Orthodox hari raya terbesar adalah Paskah, sebab jika Kristus tidak bangkit maka manusia tak akan mengerti tentang kebenaran Allah dan tak akan ada penebusan dan keselamatan bagi dirinya.

Melalui kacamata Pribadi dan Karya Kristus itu pula Gereja Orthodox memahami tentang makna ciptaan, serta kodrat manusia, dan tujuan diciptakannya manusia itu oleh Allah, serta keselamatan yang disediakan Allah bagi manusia. Pendek kata Yesus Kristus itu menjadi kacamata dalam Gereja Orthodox memahami realita secara vertikal yang menyangkut realita ilahi dan alam roh yang tak nampak mata, serta realita horizontal yang menyangkut alam tercipta, kodrat manusia, keberadaan manusia saat ini, serta tujuan manusia diciptakan. Dengan kata lain Kristus adalah “penyataan” (Wahyu) Allah (Lukas 2:32) yang mengungkapkan kebenaran mengenai Yang Ilahi dan Yang Makhluk. Kristus adalah dasar dalam Gereja Orthodox memahami semua ajarannya, sebagaimana yang dikatakan: ”Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (I Korintus 3:11). Kristus adalah titik berangkat, dan laju perjalanan serta tujuan akhir dari theologia Orthodox. Dengan kata lain Kristus adalah awal, pertengahan dan akhir dari ajaran dan theologia Orthodox.

Implikasi dari Kebangkitan Kristus

a) Dalam Kaitannya dengan Pemahaman kita akan Allah

Melalui kebangkitanNya Kristus membuktikan diriNya sebagai yang tak takluk kepada maut, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus demikian:”Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.” (Roma 6:9). Maut tak berkuasa atas Kristus yang dibuktikan oleh kebangkitanNya itu karena pada dasarnya Kristus tak memiliki maut pada diriNya sendiri, sebagaimana dikatakan:”Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." (Yohanes 10:17-18). Kematian Kristus itu bukan terpaksa , karena nyawa-Nya “Tidak seorang pun mengambilnya dari pada” Nya, namun “Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri”, sebab Kristus “berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” Dengan demikian Kristus mati bukan karena “harus“ mati sebagaimana layaknya manusia-manusia lainnya yang memang harus mati karena kuasa dosa yang diam didalamnya (Roma 5:12), namun Kristus mati karena Ia ”berkehendak” untuk mati bagi tujuan mengalahkan kematian itu melalui kebangkitanNya. Jadi seandainya Kristus “berkehendak” untuk tidak matipun maka Iapun pasti tidak akan mati. Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya Kristus tak memiliki kematian. Padahal yang tak memiliki kematian itu adalah Allah saja, sebagaimana dikatakan: ”… Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, …” ( I Timotius 6:15-16). Jika satu-satunya yang tidak takluk kepada maut adalah Allah, sedangkan Kristus terbukti tidak takluk kepada maut oleh kebangkitanNya dan oleh pernyataanNya diatas itu, maka jelaslah bahwa Kristus itu adalah berkodrat Allah.

Yang menjadi masalahnya adalah bahwa selama hidupNya Kristus mengajarkan akan adanya Allah yang Esa (Markus 12:29, Yohanes 17:3) yang Ia sebutNya sebagai “Bapa” (Yohanes 17:1, 8:42) dan Ia sendiri mengakui bahwa Allah yang Esa ini adalah “Allah”-Nya dan “Bapa”-Nya (Yohanes 20:17) dan DiriNya adalah “yang diutus” oleh Allah Yang Esa ini (Yohanes 17:3) serta “Anak” dari “Bapa” ini (Yohanes 17:1). Adakah dua Allah jika demikian? Tentunya tidak, sebab Kristus dengan tegas mengajarkan bahwa Allah itu hanya satu meskipun kebangkitanNya membuktikan bahwa diriNya adalah Allah. Bukti kebangkitan yang menegaskan keberadaan Kristus sebagai Allah namun demikian ajaran tentang ke-Esa-an Allah itu tak dilanggar meskipun Yesus itu terbukti sebagai Allah ini, dapat kita lihat dari beberapa pernyataan Kristus yang menyatakan bahwa Ia telah ada sebagai “Anak-Mu” ( Yohanes 17:1) “di hadirat-Mu sebelum dunia ada” (Yohanes 17:5). Dengan demikian Kristus itu “pra-ada” bersama Allah atau “di hadirat” Allah sebelum diciptakannya alam semesta. Dan juga Ia mengatakan bahwa Ia “keluar …. dari Allah” (Yohanes 8:42), yang menunjukkan bahwa Ia tadinya berada “di dalam Allah”. Jadi sebelum dunia ada Kristus yang tadinya belum berwujud manusia itu berada satu di dalam diri Allah. Dengan demikian meskipun Kristus itu Allah, namun karena keberadaanNya secara kekal adalah “satu di dalam” Allah, maka jelas tidak ada dua Allah, yang berarti ke-Esa-an Allah jelas tak terlanggar. Jadi pemahaman tentang ke-Esa-an Allah dari kacamata kebangkitan Kristus ini mengharuskan kita berbicara tentang hubungan Kristus sebagai Allah dengan keberadaan Allah yang Esa yang diajarkanNya itu, dengan kata lain kita diharuskan berbicara tentang Tritunggal Maha Kudus. Ini karena Kristus juga berbicara tentang Roh Kebenaran yang “keluar dari” Bapa (Yohanes 15:26), yang menunjukkan bahwa tadinya Roh Kebenaran yang tak lain adalah Roh Kudus itu berada “di dalam” Allah juga. Dengan kata lain Allah itu memang Esa yaitu “Bapa” (I Korintus 8:6), namun di dalam DiriNya Yang Esa itu bersemayam Kristus yang non-manusiawi sebagai “Anak” (dibawah nanti kita akan bahas makna kata “Anak” bagi Kristus yang “pra-ada” sejak kekal secara non-manusiawi, di dalam Diri Allah ini) dan bersemayam juga “Roh Kudus” itu sejak kekal sebelum dunia ada. Dengan demikian Allah itu tetap Esa, meskipun Kristus telah dibuktikan sebagai Allah, dan ajaran Tritunggal itu sendiri bukan berbicara mengenai jumlah Allah, namun berbicara mengenai apa yang ada “di dalam Diri” Allah Yang Esa itu.

Namun karena kali ini yang kita bahas adalah masalah Kristologi, kita tak akan membahas secara mendalam mengenai Tritunggal Maha Kudus itu, karena hal itu membutuhkan waktu tersendiri dan makalah pembahasan tersendiri pula.

b) Dalam Kaitannya dengan Pemahaman kita akan Ciptaan, Terutama Manusia
Kebangkitan Kristus dari antara orang mati, dinyatakan oleh Kitab Suci sebagai “telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (II Timotius 1:10) juga sebagai : ”memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14). Ini berarti bahwa maut itu bukan sesuatu yang alamiah pada diri manusia, karena Kristus harus datang untuk “mematahkan” maut itu dan juga “memusnahkan” Iblis yang berkuasa atas maut ini. Dengan dipatahkannya maut serta dimusnahkannya penguasanya, maka Kristus “mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” yang terbukti dari tubuh-Nya yang telah bangkit , dan “sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” ( Roma 6:9). Tubuh Kristus yang telah bangkit dari kematian itu hidup terus, dan bahkan dibawa ke sorga berwujud “Tubuh Yang Mulia” (Filipi 3:21). Jadi dengan bangkitNya Tubuh Jasmani Kristus yang kemudian tak dapat mati lagi, dimana maut tak berkuasa lagi atas tubuh itu, malah sekarang menjadi Tubuh yang Mulia di sorga, Kristus jelas telah “mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa”. Ini berarti bahwa sebenarnya maut atau kematian itu adalah sesuatu yang asing dari kodrat manusia. Maut adalah sesuatu yang bukan bagian kodrat asli manusia ketika Allah menciptakannya. Hidup kekal dalam kemuliaan Allah, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Tubuh Yang Mulia dari Kristus yang telah naik ke sorga itulah seharusnya keberadaan manusia dalam rencana Allah ketika manusia diciptakan. Dengan kata lain manusia diciptakan untuk hidup kekal, bukan untuk mati. Jadi keadaan manusia yang dapat mati ini dilihat dari kacamata dipatahkannya dan dimusnahkannya kematian itu oleh Kristus melalui kebangkitanNya, adalah merupakan “penyimpangan”, “kemeseletan dari sasaran” aslinya, dengan kata lain keadaan “hamartia” (“meleset dari sasaran”, “dosa”). Jadi maut itu adalah “benalu” yang menempel pada kodrat manusia, malah maut itu disebut sebagai “musuh terakhir” (I Korintus 15:26). Dengan demikian manusia itu berada dalam keadaan “hamartia” dan bukti “hamartia” itu dinyatakan dalam kenyataan bahwa manusia dapat mati. Siapapun yang dapat mati berarti dalam belengu dan kuasa “hamartia” (dosa) ini. Hal ini dinyatakan demikian oleh Kitab Suci: ”Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga (masuknya) maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12). Karena hanya Kristus saja yang telah mengalahkan maut dan mendatangkan hidup kekal oleh kebangkitanNya dan kenaikanNya ke sorga, maka jelaslah Kristus adalah pelepas manusia dari kuasa maut dan “hamartia” dan pemulih manusia kepada kodrat aslinya sebagaimana yang dimaksud Allah ketika menciptakannya, yaitu kodrat hidup kekal, ambil bagian dalam “kodrat ilahi” (II Petrus 1:4). Dari kacamata kebangkitan Kristus ini maka jelas kita dapat melihat bahwa sebenarnya manusia diciptakan bukan untuk dapat mati, namun untuk hidup kekal, tetapi manusia telah jatuh kepada keberadaan hamartia sehingga mengalami mati, dan tujuan akhir manusia yang percaya kepada Kristus dengan kedatangan Kristus yang mendatangkan hidup kekal itu adalah agar manusia manunggal dengan Kristus untuk mencapai kembali kodrat aslinya, yaitu “ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi” (II Petrus 1:4), yaitu “menjadi sama seperti Dia” (I Yohanes 3:2). Inilah tujuan akhir keselamatan di dalam Kristus. Tujuan akhir keselamatan untuk “menjadi sama seperti Dia” dan “ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi” inilah yang dalam ajaran Iman Kristen Orthodox disebut sebagai “pengilahian” atau “theosis”.

Meskipun oleh kebangkitanNya terbukti Kristus itu “pra-ada” sebagai Allah, namun kematianNya dan kebangkitanNya itu terjadi melalui tubuh jasmani, ini berarti bahwa jika Kristus adalah Allah, maka Ia adalah Allah yang telah “mengenakan jasad manusia”, atau “Inkarnasi”. Sedangkan tujuan pengenaan jasad jasmani atau “inkarnasi” ini adalah untuk memusnahkan maut dan kelapukan serta dosa. Karena tubuh jasmani manusia itu terkait dengan semua unsur kimiawi dari alam jasmani lainnya yang ada disekitar manusia, maka dengan dikenakannya yang jasmani oleh Allah yang berinkarnasi ini, berarti segenap unsur jasmani yang diciptakan Allah ini ikut mengalami penebusan, karena telah diambil dan dikenakan oleh Allah dalam “Inkarnasi”-Nya. Itulah sebabnya pada saat pemulihan manusia untuk “ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi” yaitu menjadi “sama seperti Dia” dalam kemuliaan pada hari kebangkitan nanti, alam semesta juga “akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” itu (Roma 8:21). Pemulihan manusia oleh kebangkitan Kristus itu terbukti menjadi pemulihan alam semesta juga, sehingga makhluk atau segenap ciptaan itu tak akan lagi “ditaklukkan kepada kesia-siaan” yaitu takluk kepada kelapukan dan kehancuran (Roma 8:20) serta tak akan lagi berada di dalam “perbudakan kebinasaan” yaitu perbudakan kematian dan kemusnahan (Roma 8:21), sebaliknya segenap ciptaan akan “masuk ke dalam kemerdekaan” yang akan dimiliki anak-anak Allah dalam kemuliaan itu. Dengan demikian seluruh alam semesta akan diubah menjadi langit baru dan bumi baru sebagaimana yang dikatakan: ”Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran” (II Petrus 3:12-13). Karena anak-anak Allah yang bangkit itu nanti memiliki tubuh yang berbeda dari tubuh yang dimilikinya sekarang, maka keberadaan dimana mereka akan ada itupun harus berbeda pula, itulah sebabnya perlunya ada langit baru dan bumi baru bagi mereka yang akan bangkit mengalami “theosis” itu.

Selanjutnya karena kematian dan kebangkitan Kristus itu telah ”memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14); padahal Iblis itu adalah salah seorang penghulu malaikat yang telah jatuh: Lucifer; maka secara hakiki Kristus telah menaklukkan alam malaikat pula, baik itu malaikat yang telah jatuh menjadi Iblis dan roh-roh jahat atau malaikat pilihan (I Timotius 5:21) yang tidak terjatuh. Itulah sebabnya ketika Kristus dimuliakan disebelah kanan Bapa sebagai akibat dari kebangkitanNya itu dikatakan Kitab Suci bahwa Allah: ”… membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan (yang disebut sebagai “pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan” ini adalah nama-nama jenjang hirarkhi dalam alam malaikat, bdk Efesus 6:12) dan tiap-tiap nama yang dapat disebut,…” (Efesus 1:20-21), serta :”…. kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya” (I Petrus 3:21c-22).

Dengan demikian kebangkitan Yesus Kristus itu memang amatlah dahsyat, karena itu mempunyai implikasi dan dampak yang luas di dalam cara kita memahami Allah, manusia dan tujuan hidupnya, keberadaan alam ciptaan baik yang kelihatan di alam semesta ini, maupun yang tak kelihatan dalam dunia malaikat pilihan yang mulia di sorga maupun dunia malaikat yang jatuh dibawah kekuasaan Lucifer, Si Iblis.

Dengan kata lain seluruh ciptaan “yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan” (Kolose 1:16) akan disatukan Allah di dalam Kristus sebagai Kepalanya yang penggenapannya akan terjadi di akhir zaman nanti, sebagaimana dikatakan: ”… persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi” (Efesus 1:10). Kata “mempersatukan…sebagai Kepala” itu dalam bahasa Yunaninya adalah “anakefalaiosis” yang juga berarti “rekapitulasi”, artinya Kristus telah me “rekapitulasi” seluruh ciptaan yang disorga maupun yang dibumi di dalam diriNya, sehingga Ia menjadi “poros” dari seluruh alam ciptaan ini. Artinya seluruh alam ciptaan baik yang kelihatan di bumi ini maupun yang tak kelihatan di sorga sana itu “tersimpul” di dalam Diri Kristus. Kebenaran tentang Kristus sebagai “rekapitulasi” seluruh ciptaan inilah yang digaris-bawahi dengan tajam oleh Bapa Suci Ireneus dari Lyons. Hal Kristus sebagai “poros” segala ciptaan ini dikatakan demikian oleh Kitab Suci: ”Ia ada terlebih dahulu (karena sejak kekal Ia berada di dalam Diri Allah) dari segala sesuatu (dari segenap alam ciptaan yang kelihatan maupun yang tak kelihatan) dan segala sesuatu (segenap alam ciptaan yang kelihatan maupun yang tak kelihatan) ada (Yunani: “synesthiken” dari kata “syn” = “bersama dengan” ……..) di dalam Dia.” (Kolose 1:17). Dengan kata lain seluruh alam ciptaan ini dapat berdiri tegak dan ada karena mereka ditopang Kristus sebagai poros dan inti keberadaan mereka, tanpa ada Kristus yang menjadi “poros” ciptaan ini, maka segala sesuatu yang ada ini akan musnah tak berbekas. Hal itu ditegaskan pula dalam Ibrani 1:3, demikian: ”Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan”. “Segala Yang Ada” atau “Segala Sesuatu” yaitu “Sagung Dumadi” ini ada karena Kristus.Jadi Kristus itu sebenarnya penggenapan dari kerinduan manusia akan rahasia apa yang oleh tradisi spiritual Jawa disebut sebagai “Sangkan Paraning Dumadi” (Asal dan Tujuan dari Segenap Ciptaan).

Untuk itu jelaslah bahwa Kristus itu bukan hanya sekedar Juru Selamat pribadi dari perorangan yang sifatnya individualistis dan emosionil saja, namun lebih daripada itu Dia adalah juga “Sang Kristus yang Bersifat Kosmis” (“The Cosmic Christ”) yang merangkul dan menopang segenap “Dumadi” (“Kosmos”) di dalam diriNya yang Maha Dahsyat itu, dengan DiriNya sendiri sebagai inti terdalam yang menunjang keberadaan dan adanya “Kosmos” itu sendiri.

c) Kristus Yesus sebagai “Tuhan”

Dalam kaitannya dengan kebangkitan dan pengangkatanNya dalam kemuliaan di sorga sebagai “Kristus Kosmik”/“The Cosmic Christ” adalah perlu kita memahami penegasan Perjanjian Baru bahwa Kristus adalah “Tuhan”, yang juga dinyatakan oleh Pengakuan Iman Nikea dalam butirnya yang kedua yang berisi pengakuan yang berbunyi: ”Dan kepada Satu Tuhan Yesus Kristus…”.

Banyak orang salah mengerti akan makna gelar ini, karena mereka langsung menganggap bahwa arti gelar Tuhan bagi Yesus itu artinya langsung berarti Allah. Padahal menurut Perjanjian Baru sebutan Allah itu dikenakan kepada Sang Bapa dan Tuhan itu kepada Yesus Kristus. Jadi sebutan “Allah” (“Theos”) bagi Sang Bapa, itu dibedakan penggunaanya dengan sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) bagi Yesus Kristus dalam Kitab Suci. Sehingga “Tuhan Yesus” maknanya bukan “Allah Yesus” namun “Sang Penguasa Yesus”. Hal ini dibuktikan dalam penggunaannya dalam ayat-ayat berikut ini :”…Yesus adalah Tuhan….Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati…” (Roma 10:9-10), “ Allah, yang membangkitkan Tuhan….” (I Kor.6:14) “…satu Allah saja, yaitu Bapa,…..satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus…” (I Kor.8:6), dan masih banyak yang lain lagi. Jadi kata “Tuhan” (Kyrios) disini tak langsung menunjuk kepada makna “Allah” (“Theos”). Itulah sebabnya ayat-ayat diatas jelas membedakan “Allah” yaitu “Bapa” dengan “Tuhan” yaitu Yesus Kristus, yang dibangkitkan oleh “Allah” atau “Bapa” ini.

Kata “Tuhan”(“Kyrios”) yang digunakan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru itu mempunyai 3 latar-belakang:
1. Kata ini menterjemahkan kata “YHWH” (sering dibaca Yehuwah atau Yahweh) sebagai Nama Allah sendiri dalam Alkitab Ibrani. Orang Yahudi menganggap kata ini sangat suci sekali sehingga takut untuk mengucapkannya, sebagai gantinya setiap ada kata “YHWH” ini mereka baca dengan bunyi “Adonay” (“Tuhanku”). Pada waktu Akitab Ibrani diterjemahkan oleh ummat Yahudi ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta), maka setiap kali ada kata “YHWH” bunyi bacaannya “Adonay” (Yunaninya: Kyrios) itulah yang ditulis dalam terjemahan. Maka “Kyrios” bermakna Nama Allah sendiri. Dan dengan mengikuti tradisi ini maka terjemahan Perjanjian Lama bahasa Indonesia selalu menulis “TUHAN” ( dengan huruf besar semua untuk terjemahan bahasa Ibrani YHWH tadi)
2. Kata Kyrios dalam makna harafiahnya menunjuk kepada sebutan penghormatan, kepenguasaan atau kepada sesuatu yang dipertuan. Pada saat Yesus hidup diatas dunia ini kata “Kyrios” yang digunakan orang-orang sezamanNya untuk menyapa Dia itu seyogyanya dimengerti sebagai sebutan penghormatan saja: ”Tuan, Pak, Mister, Sir”, dan memanglah demikian maknanya.
3. Namun ketika Yesus telah dimuliakan, sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) untuk Yesus ini mempunyai makna sebagai “Penguasa” atau “Yang Dipertuan” yaitu “Sang Junjungan Agung Yang Maha Kuasa”.

Karena sebutan Tuhan bagi Yesus Kristus itu terkait dengan pengangkatan Kristus ke sorga dalam kemuliaan sebagai akibat kebangkitanNya, maka makna itu terkait dengan makna ke 3. Kitab Suci mengatakan demikian:”….Allah sangat meninggikan Dia (yaitu: melalui pengangkatanNya dalam kemuliaan di sorga sebagai akibat kebangkitanNya) dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (yaitu nama gelar sebagai “Tuhan” atau “Sang Penguasa Mutlak”) , supaya dalam nama Yesus (dalam keberadaanNya sebagai Sang Penguasa Mutlak atau “Tuhan” itu) bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Filipi 2:9-11). Bahwa Sang Kristus dikaruniakan “kuasa mutlak” oleh Allah (Bapa) atas “segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” dikatakan sendiri oleh Sang Kristus demikian: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18). Menurut ayat ini kepada Sang Kristus telah “diberikan…” berarti ada yang “memberikan”, dan yang memberikan kepada Sang Kristus ini pastilah Allah (Bapa) sebagaimana yang telah kita lihat diatas. Sedangkan yang diberikan kepada Kristus oleh Allah (Bapa) ini adalah “segala kuasa” dengan kata lain “nama di atas segala nama”. Artinya Kristus diangkat dalam kemuliaan oleh Allah sebagai “Penguasa Mutlak” atas “sorga dan bumi” yaitu atas “seluruh kosmos” dan atas segenap ciptaan yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, yaitu atas “segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi”. Dan kebenaran akan pelimpahan segala kuasa oleh Allah (Bapa) kepada Kristus itu dinyatakan lagi dalam beberapa ayat Kitab Suci yang demikian: ”Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku..” (Matius 11:27), “Bapa … telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak” (Yohanes 5:22), “…Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada” (Ibrani 1:2), dan lain-lain.

Sejak kapan Yesus menerima “penyerahan”, “pengaruniaan” atau “pemberian” atas “langit dan bumi” , atas “segala yang ada” atau atas “segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” termasuk “penghakiman” atasnya itu? Atau dengan kata lain sejak kapan Ia menerima gelar “Tuhan” atau “Sang Penguasa Mutlak” ini? Menurut Matius 28:18 yang telah kita kutip diatas itu jelas sejak kebangkitanNya. Dalam ayat diatas itu Kristus mengatakan bahwa kepadaNya telah “diberikan” oleh Allah “SEGALA KUASA” “di sorga dan di bumi”.

Karena Allah itulah yang memberikan “SEGALA KUASA” di sorga dan di bumi tersebut kepada Yesus yang telah bangkit ini, maka Allah pulalah yang mengangkat Yesus menjadi “Penguasa Mutlak” atau “Tuhan” atas sorga dan bumi ini. Inilah yang dikatakan dalam Kisah 2:36:” Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah kamu salibkan itu, menjadi Tuhan…”. Yesus diangkat sebagai Penguasa Mutlak atau “Kyrios” (“Tuhan”) ini memiliki tiga tujuan:
a. Untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Adam yang terakhir yang telah memulihkan kepenguasaan Adam atas alam, yang hilang karena kejatuhan.
b.Untuk menunjukkan bahwa Yesus yang manusia itu sungguh-sungguh Firman Allah yang menjelma sebagai manusia. Karena Allah selalu melaksanakan kepenguasaanNya atas alam melalui Firman-Nya, sekarang kuasa yang sama atau keTuhanan Allah yang sama dan hanya satu itu, dilaksanakan melalui manusia Yesus Kristus, sehingga Yesus disebut Tuhan, dengan demikian Yesus tetaplah Firman Allah yang satu dan yang sama, karena melalui Firman Allah itu Allah melaksanakan kuasa KetuhananNya sendiri. Dengan demikian baik Allah maupun FirmanNya tak berubah, baik dalam hakekatNya maupun dalam hubunganNya, meskipun Kalimat itu telah nuzul sebagai manusia.
c. Untuk tujuan keselamatan manusia, karena dengan kuasa mutlak sebagai “Penguasa” atau “Tuhan” ini Yesus Kristus akan mengubah tubuh manusia yang hina ini sehingga menjadi serupa dengan TubuhNya yang mulia pada Hari Kebangkitan nanti (Filipi 3:20-21).

Jadi gelar “Tuhan” bagi Yesus bukanlah dalam makna “Ilah” yaitu berhala yang diangkat sebagai sekutu Allah, sebagaimana yang sering kita dengar ketika saudara-saudara Muslim mengucapkan “La Ilaha illallah “ , “Tiada Ilah/Tuhan selain Allah”. Sebab Ilah artinya makhluk yang didewakan dan disejajarkan dengan Allah, padahal, Tuhan bagi Yesus adalah gelar yang dikaruniakan Allah sendiri, terhadap “FirmanNya” sendiri yang dimuliakan setelah menjelma menjadi manusia.

Jika demikian bagaimana kita harus memahami Kristus ini? Allah Yang Esa itukah Dia? Sama dan identik dengan “Bapa”kah Dia? Manusiakah Dia? Setengah Allah, setengah Manusiakah Dia? Allah-Manusia yang bercampur jadi satukah Dia? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dijawab dalam rumusan-rumusan Tujuh Konsili Ekumenis Gereja Orthodox Purba itu. Dan rumusan Ketujuh Konsili Ekumenis ini, terutama yang tertuang dalam Pengakuan Iman Nikea dari Konsili Ekumenis yang pertama tahun 325 Masehi dan dijabarkan lebih lanjut oleh Keenam Konsili berikutnya itu ternyata tetap relevan sampai kini, dan itu menjadi landasan yang tak pernah diubah dalam Gereja Orthodox memahami tentang Kristus.

Mengenai Pribadi Yesus Kristus

Rumusan-rumusan Kristologis baik dalam Pengakuan Iman Nikea maupun dalam enam Konsili Ekumenis yang lain itu dilakukan oleh Gereja Orthodox di zaman purba itu bukan bertujuan untuk memuaskan rasa keingin-tahuan intelektual saja. Bukan pula itu dilakukan demi untuk spekulasi filsafat. Pula bukan hanya sekedar demi kepentingan akademis saja. Lebih-lebih itu bukan dilakukan demi tujuan politik seperti yang dituduhkan oleh Dan Brown dalam bukunya yang bikin heboh “The Da Vinci Code” itu. Namun rumusan-rumusan tersebut dilakukan demi untuk memagari ajaran Rasuliah yang hendak diselewengkan oleh kaum bidat, dan demi untuk menjaga utuh keselamatan manusia di dalam Kristus yang dilandasi oleh karya KebangkitanNya itu. Dengan demikian rumusan Kristologis adalah untuk tujuan Soteriologis, untuk tujuan keselamatan manusia.

Itulah sebabnya ketika Arkhimandrit Arius dari Alexandria mengajarkan bahwa Kristus itu hanya sekedar ciptaan meskipun diciptakan sebagai makhluk roh sebelum adanya dunia, Bapa Suci Athanasius yang saat itu masih menjabat diaken dan kemudian menjadi Paus dan Pariarkh Gereja Alexandria menentang mati-matian pada saat diadakannya Konsili Nikea untuk melawan ajaran Arianisme itu. Menurut Bapa Suci Athanasius, jikalau Kristus hanya sekedar ciptaan, maka Dia itu memiliki awal, meskipun jika awalnya itu sebelum ada dunia sebagaimana yang diajarkan Arius dan sekarang ajaran itu dibangkitkan lagi oleh Saksi-Saksi Yehuwah. Jikalau Kristus memiliki awal, maka Dia itu bukan kekal dan tidak memiliki kekekalan. Padahal Kitab Suci mengajarkan bahwa barangsiapa yang percaya Kristus akan memiliki hidup kekal. Jika benar demikian bagaimana Kristus dapat memberi hidup kekal itu jika Ia sendiri tidak kekal. Karena Ia memiliki awal, jadi tidak memiliki kekekalan. Orang tak akan dapat memberikan sesuatu apa yang ia sendiri tak memilikinya. Kalau Kristus bukan kekal dan tak memiliki kekekalan, maka pasti Ia tak dapat memberikan hidup kekal, sehingga mereka yang percaya kepada Kristus tetap tak diselamatkan karena Kristus tak akan dapat memberikan hidup kekal yang Ia sendiri tak memilikinya itu. Hanya kalau Kristus memiliki kekekalan saja Ia dapat memberikan hidup kekal. Padahal yang memiliki kekekalan itu adalah Allah, maka jika Kristus dapat memberi hidup kekal, Ia sendiri harus memiliki kekekalan, dan kalau Ia memiliki kekekalan maka Ia adalah Allah. Jadi keselamatan manusialah, dan bukan spekulasi filsafat, atau pembahasan akademis, ataupun pula tujuan politik yang menyebabkan diadakannya Konsili Nikea serta dirumuskannya Pengakuan Iman itu. Itulah sebabnya Pengakuan Iman Nikea yang menegaskan tentang Ke-Ilahi-an Kristus harus dimengerti dari kacamata keinginan Gereja untuk membentengi ajaran Rasuliah yang membawa kepada keselamatan manusia itu dari para penyesat yang ingin menyelewengkannya. Sedangkan butir Pengakuan Iman Nikea mengenai Kristus itu terdapat dalam butir 2 dan 3 yang demikian bunyinya:
”2) Dan pada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah, yang diperanakkan dari Sang Bapa sebelum segala zaman. Terang yang keluar dari terang, Allah sejati yang keluar dari Allah sejati, yang diperanakkan dan bukan diciptakan, satu dzat-hakekat dengan Sang Bapa, yang melaluiNya segala sesuatu diciptakan.
3) Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, telah turun dari sorga, dan menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang Perawan Maryam, serta menjadi manusia.”

a) KeilahianNya sebagai Firman Allah

Diatas telah kita bahas bahwa Kebangkitan Kristus membuktikan Dia itu berkodrat Allah. Juga telah kita bahas bahwa Kristus itu “pra-ada” mendahului adanya dunia, dan bahwa Kristus itu menyatakan diriNya sebagai Anak dari Allah, Bapa, Yang Esa. Namun Ia juga menyatakan diri sebagai yang “telah keluar dari Allah”, yang berarti Ia sebenarnya berada satu di dalam diri Allah. Sebagai apakah Kristus itu berada satu di dalam Allah, Bapa, dalam kekekalan itu? Jawabannya dapat kita baca dalam beberapa bagian dari Kitab Suci demikian: ” …..Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.” (Ibrani 1:2). Menurut ayat ini Allah menjadikan alam semesta oleh atau melalui “Anak-Nya”. Padahal jika kita perhatikan dalam kisah penciptaan dalam Kejadian 1:3,6,9,11,14,20,24,26,29, semua karya Allah dalam menciptakan segala sesuatu selalu dikatakan dengan ekspresi “berfirmanlah Allah”. Ini berarti menurut Kitab Kejadian Allah menjadikan alam semesta itu oleh atau melalui “Firman”Nya yang bersemayam dan keluar dari dalam Diri Allah sendiri. Jika Ibrani 1:2 mengatakan bahwa Allah telah menjadikan alam semesta “oleh Dia” yaitu oleh “AnakNya”, maka tak ada kesimpulan lain dapat kita ambil kecuali bahwa yang dimaksud dengan “Anak” Allah dalam Surat Ibrani ini adalah “Firman” Allah dari Kitab Kejadian itu. Dengan kata lain “Anak Allah” itu maksudnya adalah “Firman Allah”. Kesimpulan ini diteguhkan oleh perkataan Kitab Suci lainnya, yang berbunyi:” Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan (yaitu: berada satu di dalam) Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yohanes 1:1-3), serta “Firman itu …….. sebagai Anak Tunggal Bapa….(Yohanes 1:14). Menurut ayat-ayat ini “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” yaitu “oleh/melalui Firman”, jadi sesuai dengan apa yang kita jumpai dalam Kejadian 1:3,6,9,11,14,20,24,26,29, itu. Seandainya Firman itu tidak ada maka “tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” artinya semua ciptaan ini tak akan pernah ada jikalau Firman itu tidak ada. Inilah yang dikatakan dalam Pengakuan Iman Nikea: “yang melaluiNya segala sesuatu diciptakan”. Jadi Firman itu adalah sumber mutlak dari adanya ciptaan, yang melalui atau oleh-Nya Allah menjadikan alam semesta. Sedangkan dalam ayat berikutnya Firman itu disebut sebagai “Anak Tunggal Bapa”, jadi tidak salah kesimpulan kita bahwa yang dimaksud dengan “Anak Allah” itu adalah “Firman Allah”.

Firman atau “Kata-Kata” adalah akal-pikiran yang dilahirkan dalam bentuk kalimat yang memiliki arti atau makna, sedangkan akal-pikiran adalah kata-kata yang belum dilahirkan. Jadi Firman dan Akal-Pikiran itu sebenarnya identik. Itulah sebabnya kata “Firman” itu dalam bahasa Yunaninya adalah “Logos” yang daripadanya kita dapatkan kata “Logika” yang artinya “akal-pikiran”. Akal-Pikiran seseorang itu berada satu di dalam orang yang bersangkutan, demikian juga “Logos”Nya Allah itu haruslah “berada satu di dalam” Allah, dengan kata lain “Firman itu bersama-sama dengan Allah”. (Yohanes 1:1) Dengan demikian Kristus berada satu di dalam Allah secara kekal dalam wujud non-manusiawi itu sebagai “Firman Allah” sendiri.

Karena Firman atau Logos itu sama dengan “Akal-Pikiran” yang keberadaannya ada di dalam si pemilik pikiran, maka jika Kristus itu adalah penjelmaan dari Logos-Nya Allah, pastilah Ia sebagai Logos itu berada satu di dalam Allah. Dengan kata lain Allah mengandung “Firman”-Nya sendiri di dalam kedalaman hakekat DiriNya. Karena Firman Allah yang dikandung dalam hakekat Allah itu diekspresikan keluar atau dilahirkan dari dalam Diri Allah sejak sebelum adanya dunia, maka Firman itu disebut sebagai “Anak Allah”. Inilah yang dinyatakan dalam Pengakuan Iman Nikea mengenai Tuhan Yesus Kristus sebagai “Anak Tunggal Allah, yang diperanakkan dari Sang Bapa sebelum segala Zaman” itu.

Karena Allah itu hanya satu maka FirmanNya juga hanya satu. Padahal Firman Allah yang satu ini disebut sebagai “Anak Allah”. Anak yang cuma satu itu memang disebut sebagai “Anak Tunggal”, itulah sebabnya “Firman Allah yang hanya satu” itu disebut sebagai “Anak Tunggal Allah” (Yohanes 1:14,18, 3:16).

Dan karena Allah adalah Terang (I Yohanes 1:5) dan Kristus sebagai Firman Allah berkodrat identik dengan Allah (Bapa) maka Firman Allah ini juga disamping berkodrat “Allah Sejati” atau “Allah yang Benar” (I Yohanes 5: 20) juga bersifat “Terang” (Yohanes 8:12), yang “keluar dari” (Yohanes 8:42) Allah Yang Sejati atau Allah Yang Benar (Yohanes 17:3) itu. Inilah yang dikatakan dalam Pengakuan Iman Nikea mengenai Anak Allah/Firman Allah sebagai “Terang yang Keluar dari Terang, Allah Sejati yang Keluar dari Allah Sejati” itu.

Karena Firman Allah itu adalah merupakan keberadaan yang ada dalam Allah secara kekal, berarti Firman Allah itu bukan diciptakan, karena melaluiNya justru Allah menciptakan alam semesta. Dan sebagai Firman yang secara kekal dikandung di dalam Essensi Allah serta diekpresikan keluar dari Allah, yaitu dilahirkan oleh Allah, maka Firman itu memang bukan diciptakan Allah tetapi diperanakkan atau “diekspresikan keluar” oleh Allah. Karena apa yang diciptakan seseorang itu kodratnya tidak sama dengan yang menciptakan, sedangkan apa yang diperanakkan atau dilahirkan seseorang itu kodratnya identik dengan yang melahirkan. Dan Firman Allah itu kodratNya identik dengan Allah dan keluarNya dari dalam Allah sendiri, itulah sebabnya dikatakan bahwa Ia “diperanakkan” dari Sang Bapa. Itulah sebabnya dikatakan oleh Pengakuan Iman Nikea bahwa Anak Allah itu sebagai “Yang Diperanakkan dan Bukan Diciptakan”.

Juga karena Firman Allah itu berada satu di dalam Diri Allah, maka Ia juga ambil bagian dalam Essensi Ilahi yang sama dari Allah Yang Esa itu, yang di dalamNya itu Firman Allah berada, dengan kata lain Firman Allah itu adalah berkodrat “Allah” sebagaimana dikatakan “..dan Firman itu adalah Allah”. (Yohanes 1:1) Essensi atau “Dzat Hakekat” Firman itu satu dan sama dengan Essensi atau “Dzat Hakekat” Bapa, Allah yang Esa, karena Firman itu berada satu di dalam Allah itu, sebagaimana dikatakan:” Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30), yaitu satu dalam Esensi IlahiNya. Ini terbukti dari reaksi orang-orang Yahudi atas pernyataan Yesus dalam perikop kisah ini:”… Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.”. Yesus dianggap menyamakan diri dengan Allah yaitu memiliki sifat dan Essensi (Dzat Hakekat) ke-Allah-an karena Ia menganggap bahwa diriNya itu adalah “satu” dengan Bapa. “Satu” dengan Bapa disini bukan berarti Yesus itu identik dengan Bapa atau Yesus dan Bapa itu sama saja. Yesus memang bukan Bapa dan berbeda dari Bapa, karena Ia mengatakan “Bapa lebih besar dari pada Aku” (Yohanes 14:28) yaitu lebih besar karena Bapa adalah sebagai “Sumber” yang daripadaNya Ia keluar dan diperanakkan sebagai FirmanNya. Namun Essensi (Dzat-Hakekat) Ilahi yang dimiliki Bapa itu satu dengan Essensi Ilahi yang dimilikiNya karena Ia sebagai Firman Allah itu berada satu di dalam diri Allah. Yesus memang bukan Bapa karena Dia itu Anak, artinya Yesus itu bukan Allah Bapa karena Dia itu adalah “Firman Allah”, meskipun dalam Dzat-HakekatNya Dia itu satu dan identik dengan Dzat-Hakekat Sang Bapa itu sendiri. Itulah pula yang dinyatakan oleh Pengakuan Iman Nikea, bahwa Anak Allah itu sebagai yang “satu dzat-hakekat dengan Sang Bapa”.

Demikianlah dengan jelas kita melihat bahwa Ajaran Rasuliah yang menjadi sumber keyakinan dan ajaran Iman Kristen Orthodox baik yang tertulis dalam Kitab Suci maupun yang lisan yang dituangkan dalam Pengakuan Iman atau bentuk-bentuk paradosis lisan lainnya itu menegaskan bahwa memang Yesus itu adalah berkodrat Allah, karena Dia adalah “Firman Allah” (Yohanes 1:1). Inilah yang diimani Gereja Orthodox dari jaman Purba sampai kini.

b) Satu Hypostasis dari Firman Allah

Selanjutnya hal yang amat perlu dimengerti adalah bahwa meskipun kita menganalogikan antara Logos dan Akal pikiran Allah, dengan kata-kata dan akal pikiran manusia, namun satu hal yang harus disadari adalah “Logos/Firman” Allah itu memiliki perbedaan yang amat besar dengan “kata-kata” manusia. Ini disebabkan Allah tak dapat disamakan dengan manusia, sebagaimana dikatakan : ” Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: "Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Siapakah seperti Aku?.....” (Yesaya 44:6-7), dan “Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?” (Yesaya 46:5) dan jawabannya adalah : ” … ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau…” (II Samuel 7:22). Itulah sebabnya hakekat Firman Allah itu tidak sama dan tidak seperti serta tak sebanding dan tak seumpama dengan “kata-kata” dan “akal-pikiran” manusia. Yang bisa diumpamakan dengan kata-kata manusia bukanlah hakekat Firman itu sendiri namun sifat hubungan antara Firman Allah dengan Allah dibanding dengan sifat hubungan kata-kata manusia dengan si manusia pemilik kata-kata itu.

Letak perbedaan secara hakiki antara Firman Allah dengan kata-kata manusia adalah, bahwa pertama, Firman Allah itu kekal tanpa awal dan tidak diciptakan, sedangkan kata-kata manusia itu tidak kekal dan memiliki awal. Yang kedua, dan ini yang terpenting, adalah kata-kata manusia itu hanya berwujud kalimat-kalimat mati yang tak punya kehidupan ataupun kesadaran pada dirinya sendiri meskipun membentuk perkataan yang memiliki makna dan arti. Sedangkan Firman Allah itu oleh Kitab Suci disebut sebagai “Firman Hidup” (I Yohanes 1:1), dan “Dalam Dia (Firman) ada hidup” (Yohanes 1:4) serta: ”… Anak (Firman) mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yohanes 5:26). Jika ada orang beranggapan mengenai Firman Allah yang tak memiliki hidup maka itu adalah Firman yang mati, berarti menyamakan Firman Allah dengan kata-kata manusia yang memang mati dan tak memiliki kehidupan, yang berarti menjadikan Allah seperti, seumpama, sama dengan, dan sebanding dengan manusia. Hal ini bertentangan dengan Kitab Suci, dan dapat menuntun kepada hujat.

Karena Firman itu “Hidup”, yang di “dalam Dia itu ada Hidup” serta “mempunyai Hidup”, maka jelas Firman itu memiliki “kesadaran” dan “ego”. Inilah perbedaan mendasar antara hakikat Firman Allah dengan kata-kata manusia. Sebab kata-kata manusia tidak memiliki “kesadaran” atau “ego” pada dirinya, sebab kata-kata manusia itu mati. Bahwa “Firman Allah” itu memiliki “ego” dan “kesadaran” dikatakan oleh Firman itu sendiri dalam penjelmaanNya sebagai manusia demikian: ”Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada” (Yohanes 17:5) serta: ” Ya Bapa, ……Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan” (Yohanes 17:24). Dalam ayat-ayat ini Kristus mengatakan tentang keberadaanNya pada saat “sebelum dunia ada” atau “sebelum dunia dijadikan”. Ini berarti berbicara mengenai ketika Ia masih dalam kekekalan dalam wujud Firman murni. Yaitu sebelum “diutus” (Yohanes 17:3, Galatia 4:4) turun dari sorga ke bumi (Yohanes 3:13, 6:38,41-42,50-51,58) masuk ke dalam rahim wanita: Maria Sang Perawan (Galatia 4:4) mengambil kemanusiaan atau “mengambil rupa seorang hamba” darinya, serta “menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7) yaitu mengenakan Tubuh Manusia.

Dalam pernyataanNya akan keberadaanNya dalam kekekalan sebagai Firman ini, Kristus mengatakan sebagai “Aku” yang ada dihadirat Bapa, serta “ingat” yaitu “sadar” bahwa si “Aku” ini memiliki kemuliaan. Bukan hanya itu saja, Kristus juga “sadar” bahwa dalam kekekalan itu Bapa “mengasihi” diriNya yang dicirikan sebagai “Aku”. Dengan demikian jelas dalam kekekalan di hadirat atau di dalam Diri Sang Bapa itu Firman Allah ini memiliki “kesadaran”, “Aku” (“Ego”) dan dapat “mengalami kasih”. Karena Firman itu memiliki “Kesadran” maka Ia memiliki “Ego” dan “Mengalami Kasih” yang diterimaNya dari Allah yang juga memiliki “titik kesadaran”Nya sendiri. “Titik Kesadaran” dan “Ego” dalam diri Firman inilah yang membuktikan bahwa Firman itu riil dan mempunyai realita nyata yang membedakannya dari Sang Bapa, meskipun Firman itu berada satu di dalam Diri Sang Bapa. Keberadaan “realita nyata” yang memiliki “titik kesadaran” inilah yang dalam bahasa theologia disebut sebagai “Hypostasis” atau sering dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Pribadi”. Karena Firman Allah memiliki “Aku” yaitu “ego” yang satu, ini berarti bahwa Firman Allah itu hanya memiliki satu “Hyposatasis” saja.

Demikianlah maka di dalam Diri Allah Yang Esa itu terdapat “Tiga “Titik Kesadaran” atau “Tiga Hypostasis” yaitu: ” Titik Kesadaran” atau “Hypostasis” pertama yaitu Allah Yang Esa itu sendiri sebagai sumber asal dan terlahirnya Firman atau Anak dan “keluar”Nya Roh Allah atau Roh Kudus, sehingga “Hypostasis” pertama ini disebut Bapa.

Dan “Titik Kesadaran” atau “Hypostasis “ kedua yaitu Firman dari Allah Yang Esa ini yang bersemayam dalam Bapa namun yang juga diperanakkan atau “dinyatakan keluar” oleh Bapa ini, sehingga disebut “Anak” yang melaluiNya Allah mewahyukan DiriNya dan menciptakan alam semesta.

Dan “Titik Kesadaran” atau “Hypostasis” ketiga yaitu Roh atau “Prinsip Hidup dan Kuasa” yang Kudus dari Allah Yang Esa itu sendiri, yang bersemayam dalam Bapa. Namun yang juga “dialirkan keluar” (Yohanes 15:26) oleh Bapa sebagai “Roh Allah" yang memberi hidup yang melaluiNya pe-Wahyu-an Diri Allah dalam FirmanNya itu disampaikan kepada manusia dan melaluiNya Allah mengalirkan kehidupan kepada segenap ciptaanNya dan menyalurkan kasih-karunia keselamatan dan karunia-karunia rohani akibat dari karya FirmanNya yang menjelma kepada GerejaNya. Sehingga dalam diri Allah Yang Esa itu terdapat aliran kasih yang kekal dari Hypostasis pertama (Bapa) kepada Hypostasis kedua (Firman/Anak) (Yohanes 17:24) dan sebaliknya. Sedangkan aliran kasih dari Bapa kepada Firman dan sebaliknya itu dicurahkan oleh Hypostasis Ketiga (Roh Allah/Roh Kudus), karena memang fungsi Hypostasis Ketiga adalah mencurahkan kasih dari Hypostasis pertama ini (Roma 5:5). Jadi dari kekekalan Allah itu adalah “kasih” (I Yohanes 4:8) karena dalam diriNya Yang Esa itu terdapat aliran kasih tanpa henti oleh hypostasis-hypostasisnya ini.

c) Hubungan Antara Kemanusiaan dan Keilahian dari Firman Allah Yang Menjelma

Diatas telah kita bahas bahwa meskipun Yesus Kristus oleh kebangkitanNya terbukti berkodrat “Allah”, karena Dia itu adalah “Firman Allah”, namun karena Ia berwujud manusia, maka Dia adalah Firman Allah yang menjelma. Artinya Ia adalah Firman Allah yang “menjadi manusia” atau “menjadi daging” (Yohanes 1:14). Ia adalah Firman Allah yang “diutus” (Yohanes 17:3, Galatia 4:4) turun dari sorga ke bumi (Yohanes 3:13, 6:38,41-42,50-51,58) oleh akibat tindakan dan gerak kasih kekal yang ada di dalam diri Allah yang kita sebut diatas tadi. Dan pada saat turunNya dari sorga itu Ia masuk ke dalam rahim wanita: Maria Sang Perawan (Galatia 4:4). Oleh kuasa Roh Kudus (Matius 1:18) Ia mengambil kemanusiaan atau “mengambil rupa seorang hamba” dari rahimnya sehingga Ia disebut sebagai “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42), serta “menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7) yaitu mengenakan Tubuh Manusia, bagi keselamatan manusia. Itulah yang dikatakan Pengakuan Iman Nikea butir kedua yang telah kita kutip diatas: ”Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, telah turun dari sorga, dan menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang Perawan Maryam, serta menjadi manusia.”

Yang mengambil kemanusiaan dari Perawan Maryam ini adalah “Hypostasis” yang satu dari Firman Allah itu. Dengan demikian Ia tetap tak kehilangan sifat IlahiNya yang sempurna dan kekal itu, meskipun Ia telah mengenakan tubuh jasmaniah yang diambilNya dari rahim Sang perawan Maryam. Sehingga Maryam disebut sebagai “Ibu Tuhan” (Lukas 1:43) atau “Bunda Allah” (“Theotokos”) , artinya Maryam mengandung seorang bayi yang tetap berkodrat Allah meskipun telah memiliki dirinya sebagai IbuNya dan bayi itu sebagai Anaknya, yaitu Firman yang telah mengenakan tubuh manusia itu tetap berkodrat Allah baik semasa belum dikandung, semasa dalam kandungan, maupun sesudah dilahirkan Maryam. Hal ini dikatakan Kitab Suci demikian: “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,” (Kolose 1:19), dan “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9). Karena dalam “Dia” yaitu dalam “Hypostasis” atau “Pribadi” yang Satu dari Firman Allah yang Menjelma itu diam atau berdiam “ seluruh kepenuhan Allah” atau “seluruh kepenuhan ke-Allahan”, maka jelas Yesus Kristus atau Firman Allah yang menjelma ini tetap memiliki “kodrat ilahi” sebagai Allah yang sempurna atau “Allah yang benar” ( I Yohanes 5:20). Karena meskipun Firman itu telah turun ke dunia dan mengambil Tubuh Jasmani dalam Inkarnasi-Nya, namun Ia tak pernah meninggalkan kesatuanNya di dalam diri Sang Bapa. Karena Allah dapat hadir dimana-mana, maka Firman Allah yang berkodrat “Allah” itupun dapat hadir sekaligus dalam Tubuh PenjelmaanNya sebagai Manusia Yesus Kristus, maupun dalam kesatuanNya di dalam Diri Allah sebagai Firman yang kekal. Allah tak mengalami perubahan apapun ketika FirmanNya menjadi manusia ini. Allah tetap Esa dan tetap memiliki Firman dan RohNya yang kekal dalam diriNya, meskipun Firman itu tekah diutusNya untuk mengambil Tubuh Jasmani Manusia.

Selanjutnya dikatakan bahwa “seluruh kepenuhan ke-Allahan” atau “seluruh kepenuhan Allah” ini “berdiam secara jasmaniah” di dalam Dia yaitu di dalam Yesus Kristus, Sang Firman Menjelma itu. Keberadaan “jasmaniah” dari Yesus Kristus itu dikatakan oleh Kitab Suci demikian: ”…. anak-anak (yaitu: manusia) itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (Ibrani 2:14), juga “…dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya (yaitu: umat manusia)…”(Ibrani 2:17), serta: ”…. , sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15), “…. mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa…” (Roma 8:3). Berdasarkan ayat-ayat ini keberadaan jasmaniah Kristus itu adalah “sama dengan” segenap manusia, serta Ia “mendapat bagian dalam keadaan” manusia, karena “dalam segala hal (termasuk tubuh, jiwa, roh, emosi, perasaan, kehendak, pikiran, dan sebagainya) Ia harus disamakan dengan” manusia. Demikian pula sebagai manusia “sama dengan kita, Ia telah dicobai,” dan “serupa dengan daging yang dikuasai dosa” meskipun Ia tak berbuat dosa. Artinya sifat jasmaniah Kristus atau sifat kemanusiaan Kristus itu sepenuh-penuhnya tidak ada bedanya dengan manusia siapapun yang ada dalam alam ini, bahkan Iapun mengalami pencobaan, meskipun Ia tak pernah jatuh dalam pencobaan itu sehingga Ia tak pernah berdosa. Dengan kata lain Kristus memiliki “kodrat manusiawi” sebagai Anak Maryam yang memiliki kemanusiaan yang sempurna. Kristus adalah manusia sejati sama seperti kita semua, kecuali dosa.

Data-data Alkitab ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus, sebagai Firman Allah Yang Menjelma itu memiliki “Kodrat Ilahi” sebagai Allah yang sempurna, dan “Kodrat Manusiawi” sebagai Manusia yang sempurna. Yesus Kristus memiliki Dua Kodrat yang sempurna masing-masing sifatnya.

Hubungan antara Dua Kodrat itu dinyatakan dengan jelas dalam Kolose 2:9 yang telah kita kutip diatas: “Sebab dalam Dialah (Satu Pribadi / satu Hypostasis) berdiam secara jasmaniah (Kodrat Manusiawi) seluruh kepenuhan ke-Allahan (Kodrat Ilahi)”. Jadi Kristus itu memiliki “Dua Kodrat” (Ilahi dan Manusiawi) dalam “Satu Hypostasis”. Kodrat Ilahi-Nya tidak berubah jadi Kodrat Manusiawi, dan Kodrat Manusiawi-Nya tidak berubah jadi Kodrat Ilahi, masing-masing sifat kodrat-kodrat itu dijaga kesempurnaan dan keutuhannya secara tak campur-baur ataupun kacau-balau, namun keduanya di”manunggalkan” dalam “Satu Hypostasis/Pribadi” yang kekal dari Firman Allah itu secara tak dapat dipisah-pisah ataupun dibagi-bagi. Kebenaran Kitab Suci yang demikian inilah yang ditegaskan dalam rumusan Konsili Ekumenis yang Keempat dari Gereja Orthodox Purba pada tahun 451 Masehi di Khalsedonia itu.

Hanya dengan memiliki keberadaan yang demikian ini sajalah Yesus Kristus itu dapat menyelamatkan manusia. Dengan kodrat kemanusiaan kita yang diambilNya dari Maryam itu di “manunggalkan” dengan Hypostasis-Nya yang satu itu, maka kodrat kemanusiaan Kristus itu juga dirembesi oleh kekekalan dari “kodrat ilahiNya” yang merupakan sifat asli dari “Hypostasis”Nya yang satu itu. Sehingga dengan dirembesi oleh sifat kekal dari kodrat ilahiNya, maka kuasa kematian yang ada didalam kodrat kemanusiaanNya itu dapat dimusnahkan. Itulah sebabnya Kristus berkehendak untuk mati (Yohanes 10: 17-18) melalui raga manusiaNya yang memang dapat mati jika Ia kehendaki, agar oleh kematianNya diatas Salib itu Ia dapat menghancurkan kuasa maut itu (Ibrani 2:14), melalui kebangkitan oleh kuasa kekekalan yang ada dalam “kodrat ilahi”Nya. Dengan kuasa maut telah disingkirkan oleh “kodrat Ilahi”Nya melalui kebangkitan, maka Tubuh yang telah bangkit itu betul-betul diresapi oleh kekekalan dari “kodrat ilahi” itu sehingga menjadi “Tubuh Yang Mulia” (Filipi 3:21) yang sebelum kebangkitan secara sekilas telah dinampakkan pada saat Kristus dimuliakan diatas gunung. Dimana Sinar Ke-Ilahi-an Kristus memancar dan menembus serta bersinar melalui tubuh jasmaninya, sehingga “…. wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang” (Matius 17:2). Demikianlah Kodrat Ilahi Kristus itu betul-betul meresapi dan merembesi Kodrat Manusiawi-Nya. Dengan demikian melalui Penjelmaan Kristus ini apa yang dalam tradisi spiritual Jawa disebut sebagai “Manunggaling Kawula lan Gusti” (“Menyatunya antara Hamba dan Tuhan”) atau menurut tradisi spiritualitas Barat disebut “Unio Mystica” (“Panunggalan Mistika”) telah tercapai secara historis dan kongkrit, bukannya secara spekulatif, subyektif dan emosional seperti yang dipraktekkan dalam aliran-aliran spiritualitas tradisional atau gerakan-gerakan mistikisme yang selalu ada dalam setiap agama itu. Karena Kodrat Manusiawi Kristus yang pernah hidup dalam sejarah secara kongkrit sebagai “Kawula”/”Hamba” itu telah dimanunggalkan dengan Kodrat Ilahi-Nya sebagai “Gusti/Tuhan” secara tak dapat dibagi-bagi maupun dipisah-pisahkan lagi. Kristus adalah kunci dari kerinduan manusia akan “Manunggaling Kawula lan Gusti” atau Panuggalan antara Manusia dengan Yang Ilahi. Karena dalam Kodrat Ilahi-Nya itu Kristus adalah satu dzat-hakekat dengan Bapa, artinya satu dzat-hakekat dengan Allah, namun dalam Kodrat Manusiawi-Nya itu Kristus itu satu hakekat dengan Maryam, berarti satu hakekat dengan segenap manusia. Dengan demikian Kristus telah menjadi jembatan yang menyatukan realita ilahi dengan keberadaan manusia, dengan kata lain Kristus teah menjadi satu-satunya “Perantara antara Allah dan Manusia” ( I Timotius 2:5).

Perembesan dan peresapan “Kodrat Ilahi” ke dalam “Kodrat Manusiawi” Kristus akibat panunggalan dalam “satu Hypostasis” itu digambarkan oleh Bapa Suci Kyrillos Patriarkh dari Alexandria penentang keras Nestorianisme pada Konsili Ekumenis ketiga tahun 431 itu, sebagai bersatunya nyala api dengan besi yang dipanasi seorang pandai besi. Dimana merah membaranya api dan sifat panasnya yang membakar itu bersatu dengan bentuk dan zat padat besi yang dipanasi. Bentuk besi maupun zat serta kepadatan besi yang dipanasi tetap utuh tak berubah namun itu menyatu dengan merah menyalanya serta panas dan sifat membakarnya api. Besinya tak berubah jadi api, demikian juga apinya tak berubah jadi besi, namun besi bersifat api, dan api mengikuti bentuk besi tanpa dapat dipisah-pisah atau dibagi-bagi, namun masing-masing kodrat api dan kodrat besi itu tetap terjaga keutuhannya secara tidak campur-baur dan tidak kacau-balau. Dengan demikian yang ada sekarang bukan besi dan api secara terpisah, namun hanya ada besi yang bersifat api, atau api yang mengambil bentuk besi yang sedemikian menyatunya sehingga tak dapat dipisahkan ataupun dibagi meskipun tetap dapat dibedakan masing-masing sifatnya.

Demikianlah “Kodrat Ilahi” Kristus yang bersifat api itu (Ibrani 12:29) tanpa berubah sifat ke-Ilahi-anNya telah menyatu/manunggal dalam “Satu Hypostasis” dengan “Kodrat Manusia”-Nya tanpa menghilangkan sifat-sifat manusiawiNya , namun merembesi dan meresapi “Kodrat Manusiawi” itu dengan sifat-sifat dari Kodrat IlahiNya. Dengan demikian dalam Kristus sekarang dimungkinkan bagi manusia untuk secara langsung manunggal dengan Allah secara nyata dan kongkrit bagi mengambil-bagian dalam kekekalan, kemuliaan, serta sifat-sifat dan kodrat ilahi , sehingga manusia lepas dari kuasa maut, dosa dan Iblis. Dan inilah yang dimaksud dengan keselamatan itu. Hal itu dikatakan demikian oleh Kitab Suci: ”… Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi…” (II Petrus 1:4), serta :”….Setiap orang yang lahir dari Allah, …. benih ilahi tetap ada di dalam dia….” (I Yohanes 3:9)

Dalam Kristus manusia dapat secara kongkrit bukan saja untuk mendekati namun bahkan untuk menyatu dan manunggal dengan Allah itu sendiri. Kristus yang kelihatannya menghalangi pendekatan manusia kepada Allah secara langsung karena seolah-olah menghambat hubungan langsung manusia kepada Allah karena harus menjadi pengantara, justru menjamin bukan saja sifat langsung dari hubungan itu namun bahkan memanunggalkan manusia secara langsung dengan Allah, karena dalam Kristus “Kodrat Manusia” itu telah manunggal dan bersinggungan secara langsung dengan “Kodrat Ilahi”. Kristus mendekatkan Allah kepada manusia, dan menjamin hubungan langsung manusia itu dengan Allah. Itulah sebabnya mengapa Bapa Suci Athanasius Patriarkh dari Alexandria itu dengan keras melawan Arkhimandrit Arius yang juga dari Alexandria yang menolak kekekalan dan ke-Ilahi-an Kristus dalam Konsili Ekumenis Pertama di Nikea tahun 325 Masehi itu. Bapa Suci Athanasius menegaskan bahwa Kristus itu betul-betul Ilahi yaitu “Allah Sejati” karena Ia adalah Firman Allah yang berada satu di dalam diri Allah secara kekal, sehingga Ia itu “satu dzat-hakekat dengan Sang Bapa”. Karena jika Kristus bukan Allah Sejati, maka Ia tak dapat merembeskan dan menyalurkan sifat-sifat Kodrat Ilahi kedalam kemanusiaanNya bagi mengalahkan dosa, maut dan Iblis yang mencengkeram kemanusiaan itu melalui Penyaliban dan KebangkitanNya, serta mendatangkan hidup kekal bagi manusia. Dalam wujud manusiawi Kristus yang jasmaniah itu “seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kolose 2:9) secara kongkrit mendekat secara langsung kepada manusia, bahkan manunggal dengan kodrat manusiawi kita itu. Sehingga manusia dapat ambil bagian dalam “kodrat ilahi” dan “menjadi sama seperti Dia” (I Yohanes 3:2). Karena fakta inilah maka Athanasius dengan beraninya dapat berkata “Allah menjadi manusia, agar manusia dapat menjadi ‘allah’ “ artinya dapat menjadi “seperti Allah” karena “menjadi sama seperti Dia” akibat dari “ikut ambil bagian dalam kodrat Ilahi” itu. “Anak Allah menjadi Anak Manusia, supaya anak-anak manusia dapat menjadi anak-anak Allah” “Firman telah menjadi daging, agar manusia yang berkodrat daging, dapat menjadi seperti Dia yang berkodrat Firman” “Yang dari Sorga menjadi makhluk di bumi, agar makhluk-makhluk di bumi dapat menjadi warga-warga sorga”. “Yang Roh telah menjadi makhluk yang jasmani, agar makhluk yang jasmani ini menjadi seperti Dia yang bersifat roh”.

Mereka yang ingin menyembah dan mendekati Allah “secara langsung” tanpa perantaraan Kristus tak mendapat jaminan darimanapun bahwa mereka dapat bersinggungan langsung apalagi manunggal dengan Allah itu. Karena ada “jurang pemisah yang menganga lebar” antara “Kodrat Ilahi” dari Allah Yang Maha Agung dan Maha Luhur itu, dengan keberadaan manusiawinya yang tercipta, berdosa dan papa ini. Kecongkakan manusia saja yang menolak kepengantaraan Kristus ini, karena ia menyangka bahwa ia dapat secara pantas dan layak mampu mendekati Allah tanpa Allah terlebih dahulu mendekatkan Kodrat Ilahi-Nya itu kepada manusia. Orang yang demikian itu boleh saja “merasa” dapat mendekati Allah secara langsung, namun masalahnya bukan “rasa” tetapi fakta kongkrit yang menyejarah, dan fakta kongkritnya adalah bahwa jurang menganga yang memisahkan dirinya dengan Allah itu masih ada. Karena orang yang demikian ini tak memiliki landasan kongkrit yang menunjukkan bahwa Allah pernah manunggal dengan Kodrat Manusia. Orang yang demikian ini masih terpisah dengan Allah oleh dosa-dosanya yang dibuktikan oleh keberadaannya yang dapat mati itu. Keterpisahan dengan Allah inilah keadaan “tak diselamatkan” itu.

Itulah sebabnya mengapa Bapa Suci Kyrillos Patriarkh dari Alexandria pada Konsili Ekumenis Ketiga tahun 431 Masehi di Efesus itu menentang habis-habisan ajaran Nestorianisme yang menolak menyebut Bunda Maryam sebagai “Theotokos” (“Theos = Allah” , “tokos” = dia yang memberikan kelahiran”), yaitu Ibu Tuhan (Lukas 1:43) . Dalam Lukas 1:43 ini kata “Tuhan” dari ucapan Elisabet yang memberi salam kepada Maryam yang sedang mengandung ini perlu dimengerti dalam arti Yahweh/YHWH yaitu “Allah”, sebab seorang bayi tak mungkin disebut sebagai “Kyrios” dalam arti “Pak, Tuan”, dan sebagai yang belum bangkit dan belum dimuliakan itu, si bayi yang masih dikandung Maryam itu belum diangkat sebagai “Kyrios”, yaitu ”Tuhan” dalam arti “Penguasa Mutlak”.

Nestorius hanya rela menyebut Maryam sebagai “Anthropotokos” (Dia yang memberi kelahiran kepada Manusia), atau yang paling tinggi “Khristotokos” (Dia yang memberi kelahiran kepada Kristus) saja. Bagi Bapa Suci Kyrillos masalahnya bukan terletak pada Bunda Maryamnya, namun terletak pada Dia yang menyebabkan Maryam itu dapat disebut Bunda atau “Ibu”, yaitu terletak pada “Bayi” yang dilahirkannya. Bayi yang dikandung dan dilahirkan Maryam itu memiliki “Kodrat Ilahi” atau tidak? Dengan kata lain Anak dari “Sang Ibu” ini manusia yang berkodrat “Allah” atau bukan? Kalau Maryam hanya melahirkan manusia saja, sejak kapan Anak Maryam ini berubah jadi Allah? Jika Anak Maryam ini baru kemudian bertumbuh dan berkembang menjadi Allah, bukankah ini ajaran berhala yang mempercayai bahwa manusia dapat melebur dan menjadi Allah? Dalam theologia Islam faham seperti ini disebut “ittihad” yang diajarkan oleh sebagaian aliran Tassawuf, namun oleh sebagian umat Muslim ditolak, dan yang oleh Iman Kristen Orthodox ditolak mentah-mentah. Manusia tak pernah menjadi Allah, dan Allah tak pernah berubah jadi manusia. Itulah sebabnya dalam Inkarnasi Firman Allahpun ditegaskan bahwa Kodrat Ilahi tidak berubah jadi Kodrat Manusiawi, dan Kodrat Manusiawi tidak berubah jadi Kodrat Ilahi, meskipun keduanya dimanunggalkan secara tak terpisah dalam “Satu Hypostasis”.

Ataukah Anak Maryam ini kemudian di “tempati” Allah, seperti seorang yang “dirasuk” roh jahat? Faham manusia “ditempati” Allah seperti ini dalam theologia Islam disebut sebagai “hulul” yang oleh sebagian umat Muslim ditolak, yang juga ditolak oleh Iman Kristen Orthodox. Jika demikian halnya maka “Pribadi/Hypostasis” dari Allah yang menempati, dan “pribadi” dari si manusia Yesus, Anak Maryam yang ditempati itu jelas berbeda dan terpisah. Jika begitu Firman itu tidak “menjadi manusia” (Yohanes 1:14), namun Firman itu hanya “menempati/merasuk/menyusupi manusia”. Nestorianisme yang ditentang Bapa Suci Kyrillos itu mengajarkan bahwa Kristus memiliki “Dua Pribadi/Hypostasis” dan “Dua Kodrat”, karena Allah hanya “menempati” Kristus, yang bermakna ini bukannya Kristus itu memiliki “Hypostasis dari Firman Allah” yang berkodrat “Allah” sebagai PenjelmaanNya menjadi manusia. Itulah sebabnya menurut Nestorianisme ini Pribadi Anak Maryam, dan Hypostasis Allah itu tetap berbeda, dan itulah pula sebabnya Maryam tak dapat disebut “Theotokos”. Menolak menyebut Maryam sebagai “Theotokos” memang menolak bahwa Anak yang dikandung dan dilahirkan Maryam memiliki “Hypostasis Ilahi”. Kelihatannya Al-Qur’an dipengaruhi oleh faham Nestorianisme ini dalam pemahamannya tentang Kristus, Nabi Isa. Karena disatu pihak Al-Qur’an mengatakan bahwa Isa itu adalah “Kalimat min Hu” - “Kalimat daripada-Nya/Allah” (Surah Al-Imran 3:45) atau “Kalimatuhu” – Kalimat-Nya/ Allah” yang “alqoha ila Maryam” (ditumpahkan kepada Maryam) (Surah An-Nissa 4 : 171), namun di pihak lain mengatakan bahwa Isa itu hanya manusia biasa saja yang dibuktikan dengan kebiasaannya memakan makanan (Surah Al-Maidah 5: 75) dan menolak keilahian Isa (Surah Al-Maidah 5:72) meskipun dalam makna yang berbeda dari yang dimengerti mengenai ke-ilahi-an Yesus Kristus itu oleh Iman Kristen Orthodox. Jadi jika kita menggunakan istilah Iman Kristen Orthodox ajaran ini dapat dikatakan bahwa karena “Pribadi Yesus” menurut Al-Qur’an hanya bersifat sebagai sekedar manusia biasa saja, maka itu berbeda dengan “Hypostasis Firman”, meskipun manusia Yesus ini terjadi dari “Kalimat Allah yang ditumpahkan kepada Maryam”. “Hypostasis” Isa berbeda dengan “Hypostasis” Kalimat. Dan hampir mendekati seperti inilah inti ajaran Nestorianisme itu.

Jika faham Nestorianisme ini kita ikuti maka tidak pernah terjadi panunggalan “Kodrat Ilahi” dan “Kodrat Manusiawi” dalam “Satu Hypostasis” ketika Maryam melahirkan “Sang Bayi” itu. Maka Allah dan Manusia masih tetap terpisah dan tidak ada perubahan apapun ketika Kristus lahir dalam kaitannya dengan hubungan antara Allah dan manusia. Dan karena faham Nestorianisme ini menjadikan Firman tidak “menjadi” manusia, maka berarti tidak ada kodrat manusiawi yang dirembesi kodrat ilahi bagi mendatangkan kekekalan itu ketika Kristus lahir, berarti tidak ada “keselamatan”. Usaha mendekati Allah secara “langsung” dengan masih adanya jurang pemisah yang masih menganga karena dosa, tanpa adanya Kristus sebagai Penjelmaan Firman Allah yang bukan saja mendekatkan Allah secara langsung kepada manusia, dan sebagai jembatan yang menutupi jurang itu, adalah suatu ketidak-mungkinan bagi mendapatkan “keselamatan”.

Itulah sebabnya Bapa Suci Kyrillos menegaskan bahwa Kristus itu adalah “mia physis ton Theon Logon sesarkomenee” (“Satu Kodrat dari Firman Allah Yang Menjadi daging”), dimana pada saat zaman Bapa Suci Kyrillos di abad keempat ini kata “physis” bisa berarti “Kodrat” dan bisa berarti “Hypostasis/Pribadi”. Dan Konsili Keempat di Khalsedon pada tahun 451 Masehi itu menegaskan bahwa yang dimaksud Physis oleh Bapa Suci Kyrillos itu harus dimengerti sebagai “Hypostasis”. Artinya dalam Kristus tidak ada dua “Physis” dalam arti “Hypostasis” yang berbeda dan terpisah-pisah seperti yang dikatakan ajaran Nestorianisme itu, yang ada adalah “Mia Physis”, satu Kodrat atau “Satu Hypostasis”.

Namun ajaran Bapa Suci Kyrillos ini kemudian ternyata ditafsirkan secara ekstrim oleh seorang rahib Yunani bernama Eutykhes. Dimana Eutykhes memahami kata “mia physis” (“satu kodrat”) sebagai “mono physis” (“satu-satunya kodrat”), sehingga ajaran Eutykhes ini terkenal sebagai ajaran Monophysitisme. Menurut Eutykhes kalau Kristus itu memiliki “satu kodrat” (“mia phyisis”) maka “satu-satunya kodrat” (“mono physis”) yang Ia miliki hanyalah Kodrat Ilahi saja, karena Kodrat Ilahi-Nya itu lebih berkuasa dan lebih dahsyat, lebih agung dan lebih luhur, sehingga “kodrat manusiawi” Nya itu luluh melebur dan ditelan oleh kodrat ilahiNya. Inilah yang dalam theologia Islam disebut sebagai “ittihad” yaitu luluh dan melebur satunya manusia kepada Allah, yang diajarkan dalam aliran Tassawuf yang mengajarkan faham“Wahdatul Wujud” (“Satunya segala Yang Ada”), namun ditolak oleh sebagian umat Islam, yang juga ditolak oleh Iman Kristen Orthodox seperti yang telah kita katakan diatas.

Eutykhes salah mengerti ajaran Bapa Suci Kyrillos. Karena Bapa Suci Kyrillos mengatakan memang Sang Kristus itu “mia Physis” namun Dia itu tetap “ton Theon Logon” (dari kata “ho Logos tou Theou” = Firman Allah) yang berarti memang memiliki “Kodrat Ilahi”, yang telah “Sesarkomenee” (dari kata “sarx” = daging, “menjadi daging”) yang berarti memiliki sifat jasmani atau “Kodrat Manusia”. Namun “Kodrat Ilahi” dan “Kodrat Manusiawi ini adalah merupakan “Mia Physis” artinya menyatu dalam satu “Physis” atau menyatu dalam satu “Hypostasis” secara tak dapat dipisah ataupun dibagi-bagi dan karena begitu menyatunya maka disebut “satu” (“mia”), tapi bukan “satu-satunya” (“monos”).

Jika pemahaman Eutikhianisme atau Monophysitisme ini benar yang terjadi adalah jurang pemisah antara Allah dan manusia itu terbuka lagi, karena tidak ada penengah lagi antara Allah dan manusia, karena Kristus tak memiliki kodrat manusia lagi. Sehingga manusia tak dapat manunggal dengan Kristus, karena manusia hanya dapat manunggal dengan sesama kodrat manusiawi saja, dan itu berakibat manusia tak dapat manunggal dengan kodrat ilahi. Jadi Kristus memang harus tetap memiliki Kodrat Manusiawi yang telah dimuliakan yaitu Tubuh Mulia di Sorga (Filipi 3:21). Karena Kristus memiliki Kodrat Manusiawi, maka manusia dapat manunggal dengan Kristus. Karena Kodrat Manusia Kristus manunggal dengan Kodrat IlahiNya dalam “Satu Hypostasis” sehingga Tubuh ManusiaNya menjadi Tubuh Mulia di sorga, maka dengan manunggal pada Kodrat Manusiawi Kristus itu manusia dapat manunggal dengan Kodrat IlahiNya, dengan demikian dapat “ikut ambil bagian dalam kodrat Ilahi”, sehingga “diselamatkan”. Itulah sebabnya ajaran Monophysitisme ditolak Gereja Orthodox karena itu memusnahkan keselamatan yang telah dilaksanakan Kristus melalui TubuhNya ketika Ia mati disalibkan dan bangkit dari kematian.

Juga Monophysitisme ini ditolak Gereja Orthodox, karena jika Kristus hanya memiliki Kodrat Ilahi saja, disamping panunggalan secara langsung tak mungkin bisa dilakukan, juga seandainya mungkinpun, jika manusia akan manunggal dengan Kristus, maka manusia akan langsung manunggal dengan Kodrat dan Essensi IlahiNya, maka manusia akan lebur dan musnah dalam Essensi (Dzat Hakikat) Ilahi, sehingga manusia hilang sifat manusiawinya , langsung menjadi “Allah” sama seperti yang diajarkan oleh Agama Hindu. Padahal menurut Alkitab manusia tak akan mungkin dan tak akan pernah bisa menjadi Allah, dan Allahpun tak akan mungkin berubah jadi manusia. Bahkan Inkarnasi Kristus bukan berarti bahwa Allah berubah menjadi manusia, atau manusia diangkat menjadi Allah. Dengan demikian sama seperti penolakannya terhadap Nestorianisme, penolakan Gereja Orthodox terhadap Monophysitisme inipun landasannya adalah keselamatan manusia yang dipertaruhkan.

Namun panunggalan manusia dengan Allah ini tak terjadi secara otomatis karena harus membutuhkan respons iman dan ketaatan dari si manusia tersebut. Itulah sebabnya Gereja Orthodox Purba ini dalam Konsili Ekumenis ke-Enam pada tahun 680-681 menolak ajaran Monothelitisme (“mono” = satu-satunya, “thelima” = kehendak) yang mengajarkan bahwa Kristus hanya mempunyai “Satu Kehendak”, yaitu “Kehendak Ilahi” saja. Ajaran ini ditolak Gereja karena disamping ajaran ini merupakan “Monophysitisme” tersembunyi karena mengajarkan bahwa kehendak Kristus satu-satunya adalah “Kehendak Ilahi”, sehingga tidak memiliki “Kehendak Manusiawi”. Yang dengan begitu kemanusiaanNya tidak lengkap dan sempurna, karena “Kehendak Manusia”nya tidak ada. Juga karena Kristus itui merupakan “prototype” manusia sehingga apapun yang ada dalam Kristus itu merupakan “pola” dari segenap kemanusiaan seluruh alam ini. Itu disebabkan karena sebagai “Firman/Anak Allah” yang menyatakan Allah (Yohanes 1:18, Yohanes 14:9) Kristus adalah “Gambar/Ikon Allah” yang asli dan sejati yang ada sejak kekal di dalam Allah (Kolose 1:15, Ibrani 1:3, II Korintus 4:4). Juga sebagai “Firman Allah” yang berada satu di dalam diri Allah, dan memiliki kodrat yang sama dengan Allah, maka Kristus adalah “Rupa Allah” (Filipi 2: 6). Padahal manusia diciptakan “menurut” GAMBAR dan RUPA Allah (Kejadian 1:26-27), dan Gambar serta Rupa Allah yang sejati itu adalah “Firman Allah” (Yesus Kristus), berarti manusia diciptakan dengan Firman Allah atau Kristus Yesus itu sebagai polanya. Jika Firman Allah yang menjadi “pola” manusia itu tak sempurna kodrat dan keberadaanNya maka dampaknya akan luar biasa sekali bagi manusia dan bai keselamatannya. Itulah sebabnya Gereja Orthodox purba menegaskan bahwa Kristus memiliki “Dua Kehendak” yaityu : Ilahi dan Manusiawi. Jikalau “Kehendak Manusiawi” Kristus tidak ada, maka kehendak manusia itu belum pernah dimanunggalkan dengan “Kodrat Ilahi” Kristus, berarti belum mengalami kesembuhan dari dosa. Apa yang belum diambil Kristus dalam InkarnasiNya itu berarti belum disembuhkan. Ini berarti karya keselamatan Kristus tidak sempurna, karena ada bagian dari “Kodrat Manusia” yaitu “perangkat batiniah” manusianya yaitu: “kehendak”nya, yang belum pernah disentuh dan dimanunggalkan dengan “Kodrat Ilahi” Kristus. Agar keselamatan dalam Kristus itu sempurna maka “dalam segala hal”, termasuk kehendakNya Kristus “harus disamakan” dengan manusia (Ibrani 2:17). Dengan Kristus memiliki “Kehendak Manusia” maka Dia bisa “taat” dan bahkan “taat” sampai di kayu Salib (Filipi 2:8) kepada “Kehendak Ilahi”Nya, kehendak Ilahi yang mana adalah “satu dengan kehendak Bapa” seperti yang Ia katakan : “ …Ya Bapa-Ku…..janganlah seperti yang Kukehendaki (“Kehendak Manusia”), melainkan seperti yang Engkau kehendaki (“Kehendak Ilahi)“ (Matius 26:39). Ini merupakan pola bagi manusia untuk mengunakan kehendaknya dalam “taat” kepada “kehendak Allah” sehingga dengan kehendaknya itu ia dapat merespons dengan iman dan kasih kepada tawaran keselamatan Allah di dalam Kristus yang diebrikan secara gratis itu (Efesus 2:8-10). Dengan “kehendak”nya tunduk kepada Allah, maka manusia oleh rahmat Allah yangbekerja dalam kehendaknya itu dapat mengerjakan keselamatannya yaitu mengolah keselamatan itu dalam ketaatan. Hal ini dikatakan oleh Kitab Suci demikian:”…. tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, ……… karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:12-13). Kemauan atau kehendak orang beriman untuk melakukan pekerjaan dalam mengolah keselamatan yang telah diterima secara gratis di dalam Kristus itu “dikerjakan” oleh Allah. Jadi manusia bekerja bagi mengolah atau menumbuhkan keselamatan berdasarkan apa yang dikerjakan Allah di dalam dirinya. Jadi manusia bekerja bersamaan dengan Allah yang bekerja didalam dirinya, Inilah yang dalam Iman Orthodox disebut sebagai “synergi” (“bekerja bersama” Allah). Oleh karena itu keselamatan yang diberikan sebagai anugerah Allah yang harus diterima dengan iman (Efesus 2:8-9) harus menumbuhkan pekerjaan (Efesus 2:10), karena iman tanpa pekerjaan adalah mati (Yakobus 2:6). Dan ini semua terjadi karena manusia memiliki kehendak yang oleh Inkarnasi Kristus, kehendakk manusia itu tekah disembuhkan, sehingga “Allah .. mengerjakan di dalam kamu kemauan (kehendak) “ itu. Tanpa respons iman yang mebuahkan pekerjaan terutama pekerjaan kasih, maka keselamatan itu tak akan menjadi realita. Itulah sebabnya “Monothelitisme” ditolak Gereja.

Dari apa yang kita bahas diatas itu nyatakah bahwa Gereja Orthodox menekankan bahwa Kristus itu memiliki kemanusiaan yang sempurna, dalam segala hal ia sama dengan segenap manusia lainnya. Untuk makin menegaskan kemanusiaan Kristus itu maka dalam Konsili Ekumenis yang Ketujuh pada tahun 787 Masehi Gereja Orthodox melawan ajaran “Ikonoklasme”. Sejak zaman perdana Gereja Rasuliah itu telah menggunakan “symbol-symbol” dan gambar-gambar, terutama di katakombe-katakombe. Dan itulah yang akhirnya berkembang menjadi seni Ikonografi dalam Gereja Timur. Berawal dari abad ketujuh Kaisar Leo dari Isauria melarang penggunaan Ikon karena dianggap sebagai berhala dan terus berlangsung sampai abad kedelapan. Dengan demikian ikon-ikon diperintahkan untuk dihancurkan. Umat Orthodox yang tetap mempertahankan Ikon dianiaya dan dibunuh. Untuk melawan ajaran Ikonoklasme inilah maka Konsili Ekumenis yang Ketujuh diadakan. Dalam Konsili itu dijelaskan oleh Gereja bahwa Ikon tak ada sangkut pautnya dengan berhala, namuun itu merupakan dampak langsung dari penghayatan akan ajaran tentang Inkarnasi, dan harus merupakan bagian integral dari theologia Orthodox. Gereja Orthodox memiliki ikon-ikon atau gambar-gambar simbol theologis yang mengekspresikan iman dan dogmanya. Sehingga ikon-ikon ini disebut sebagai “theologia dalam warna”. Ikon ini berasal dari Alkitab itu sendiri. Memang pada saat Allah menyatakan Diri kepada Musa dan memberikan Dasa Titah, dikatakan: “ Jangan ada padamu ilah lain dihadapanKu. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun…Jangan sujud menyembahnya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu…” (Keluaran 20: 3-5). Disini larangannya adalah jangan ada “ilah lain” dihadapan Allah yang Esa itu, sehingga ilah lain itu diekpresikan sebagai “patung yang menyerupai apapun” untuk “disujud-sembahi” dan untuk “diibadahi” sebagai tandingan Allah. Larangan ini disebabkan TUHAN itulah Allah bukan patung-patung tadi. Jadi yang dilarang disini adalah “patung ilah” atau “patung dewa” yang diibadahi sebagai tandingan Allah, bukan asal patung saja. Allah yang Esa tak dapat dipatungkan karena pada waktu Dia menyatakan Diri itu tanpa wujud dan bentuk yang kelihatan, sebagaimana yang dikatakan:” Lalu berfirmanlah TUHAN kepadamu dari tengah-tengah api; SUARA KATA-KATA KAMU DENGAR, TETAPI SUATU RUPA TIDAK KAMU LIHAT, hanya ada suara….Hati-hatilah sekali – sebab KAMU TIDAK MELIHAT SESUATU RUPA pada hari TUHAN berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api – supaya JANGAN KAMU BERLAKU BUSUK DENGAN MEMBUAT BAGIMU PATUNG YANG MENYERUPAI BERHALA APAPUN…..” (Ulangan 4:12,15-16).

Menurut ayat-ayat ini pembuatan patung berhala atau patung ilah yang menggambarkan Allah dilarang, karena Allah menyatakan Diri hanya berwujud suara saja, tanpa rupa yang kelihatan. Karena tanpa rupa yang kelihatan, berarti membuat gambaran tentang Allah dalam patung adalah dusta sebab patung yang sedemikian hanyalah reka-rekaan manusia yang bukan menggambarkan realita yang sebenarnya, oleh karena itu dilarang. Namun jika patung itu bukan patungnya Allah, ilah atau Dewa, bukan saja tak dilarang malah diperintahkan, contohnya: patung Kerubim dalam Ruangan Maha Kudus (Keluaran 25: 18-20), dan patung-patung serta gambar-gambar (ikon-ikon) yang ada di dalam Bait Allah yang dibangun oleh Salomo (Sulaiman) ( I Raja-raja 6:23-35). Demikianlah larangan membuat patung itu mutlak sifatnya jika yang dipatungkan adalah Allah sendiri, ilah, atau Dewa. Namun jika itu patung atau gambar makhluk Allah dan tidak dianggap ilah serta tidak diibadahi sebagai ilah, bahkan sebagai alat ibadah dan ditempatkan rumah ibadahpun tidak dilarang, seperti yang kita lihat dalam bukti-bukti diatas. Jika larangan membuat patung dalam Perjanjian Lama itu hanya dibatasi pada patungNya Allah, ilah, atau Dewa saja karena terkait dengan cara Allah menyatakan Diri, bagaimanakah dengan Perjanjian Baru? Dalam Perjanjian Baru Allah menyatakan diri dengan cara yang lain. Dia menyatakan diri dalam “Wujud yang Nampak” bukan tanpa rupa yang tak kelihatan yaitu dengan jalan: ”Firman itu telah menjadi MANUSIA…. Dan kita TELAH MELIHAT kemuliaanNya….” (Yohanes 1:14 ). Jadi penampakan diri Allah dalam Perjanjian Baru melalui FirmanNya itu dengan Wujud Yang Nampak: Manusia yang Dapat Dilihat. Wujud Penampakan Allah dalam FirmanNya yang Menjelma yang dapat dilihat itu begitu nyatanya, sehingga dikatakan: ”Apa yang telah ada sejak semula, yang telah KAMI DENGAR, yang telah KAMI LIHAT DENGAN MATA KAMI, yang telah KAMI SAKSIKAN dan yang telah KAMI RABA DENGAN TANGAN KAMI tentang FIRMAN HIDUP- itulah yang kami tuliskan kepada kamu (I Yohanes 1:1).

Firman itu disebut “Firman Hidup”: karena Dia menyatakan Diri sebagai makhluk hidup: Manusia, bukan buku mati yang berwujud tulisan. Begitu hidupnya penampakan ini sehingga, Ia telah: di dengar, dilihat dengan mata, disaksikan, diraba dengan tangan. Jika larangan Perjanjian Lama tentang pembuatan patung Allah itu terkait dengan penampakannya yang tanpa rupa, sekarang Dia nampak “Dengan Rupa”, masihkah larangan itu berlaku? Jelas tidak. Keberadaan Allah yang azali dan ghaib itu tetap tak dapat digambarkan, namun keberadaan penampakanNya sebagai manusia yang telah di dengar, dilihat, disaksikan dan diraba dengan tangan itu jelas dapat dan harus digambarkan untuk menegaskan bahwa Allah sekarang sudah menampakkan Diri bukan tanpa rupa lagi, namun “DENGAN RUPA”. Karena pada saat membuat patung Allah dalam Perjanjian Lama masih dilarang saja, patung yang bukan Allah malah diperintahkan untuk membuat untuk tujuan ibadah, apalagi sekarang. Itulah sebabnya ada Ikon. Ikon menegaskan makna Inkarnasi Kristus. Yang digambarkan bukan keilahianNya yang tak nampak, namun pribadiNya yang menyatakan Diri dalam penampakan Manusia itu. Jadi Ikon punya fungsi Dogmatis dan Theologis, bukan hanya sekedar hiasan. Oleh karena itu bentuknya bersifat simbolis bukan menggambarkan bentuk manusia natural, namun bentuk simbol dogmatis. Mengapa tidak membuat patung saja kalau begitu? Karena yang digambarkan adalah fungsi theologis dan dogmatisNya, bukan hanya sekedar keindahan estetika naturalnya, maka penggambaran itu harus sesuai dengan julukan theologia bagi penampakan Kristus itu. Ketika Kristus menampakkan Diri, Dia tak disebut sebagai “PatungNya Allah”, namun sebagai “Gambar Allah” (Kolose 1:15, II Korintus 4:4, Ibrani 1:3), itulah sebabnya rekaman inkarnasiNya bukan berwujud patung namun “Gambar,” yang bahasa Yunaninya berbunyi “Ikon”.

Konsisten dengan makna theologis bagi Inkarnasi Kristus inilah Gereja Orthodox tak pernah menggunakan patung, meskipun Perjanjian Lama mengijinkan pembuatan patung, sebab tolok-ukurnya adalah Inkarnasi (Penjelmaan) Firman Allah sebagai manusia. Mengapa ada juga Ikon orang kudus, bukan Kristus saja? Karena orang-orang kudus itu adalah yang “ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Gambaran AnakNya” (Roma 8:29). Jadi mereka adalah “keserupaan Gambar Kristus”, sebagai dampak langsung dari Inkarnasi, itulah sebabnya mereka juga digambarkan. Dengan adanya Ikon maka fakta Inkarnasi Kristus yang betul-betul memiliki daging jasmani ini ditegaskan. Karena manusia daging jasmani itu memang dapat digambarkan. Namun itu juga menegaskan bahwa benda jasmani sebagai wakil dari segenap alam ciptaan ikut mengalami pemuliaan akibat karya keselamatan di dalam Kristus. Karena itu benda jasmani bukanlah sesuatu yang asing yang boleh diabaikan dalam pemahaman akan keselamatan. Keikut-sertaan benda jasmani dalam karya penebusan ini menyebabkan akan adanya langit baru dan bumi baru. Itulah sebabnya karena benda jasmani yang ikut terangkul dalam penebusan itu tak dapat memuji Allah pada dirinya sendiri, diikut sertakan oleh Gereja Orthodox dalam ibadahnya kepada Allah, yaitu dalam bentuk diikutkannya unsur kayu sebagai bahan pembuat ikon, unsur api dalam lilin dan arang untuk dupa, unsur wangi-wangian dalam bentuk dupa, unsur makanan dalam bentuk roti Perjamuan, unsur minuman dalam bentuk Anggur Komuni, unsur air dalam baptisan dan upacara penyucian air, unsur minyak untuk lampu kandil dan untuk pengurapan, dan sebagainya. Unsur-unsur benda jasmani ini bukan sebagai sandaran penyembahan, namun sebagai “mitra” untuk bersama diajak menyembah Allah. Karena dengan demikian mengingatkan umat Orthodox bahwa unsur jasmani itu juga dirangkul dalam penebusan, dan unsur-unsur jasmani itu nantinya akan ikut dimuliakan dalam bentuk dijadikannya “langit yang baru dan bumi yang baru” itu. (II Petrus 3:12).

Kesimpulan

Dari semua yang kita bahas ini jelas terlihat bahwa memang Gereja Orthodox tidak tertarik untuk bertheologia demi kepentingan akademik murni, ataupun hanya demi kepentingan spekulasi filsafati, serta hanya demi untuk menambah pengetahuan saja, namun itu dilakukan demi menjaga “keselamatan” manusia, dan demi memungkinkan “manunggalnya” manusia dengan Allah di dalam Kristus. Kiranya Kristus ditinggikan dan Nama Allah dipuji .Amin.

(sumber: http://monachoscorner.weebly.com/kristologi-orthodox-timur.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar