Minggu, 09 Desember 2012

Iman Kristen Orthodox 2

Iman Kristen Orthodox 2
[by: Fr.Daniel Byantoro]

Picture
XI. Perawan Maryam

Maryam disebut Theotokos, artinya “Pengandung-Allah " atau " Bunda Allah”. Ini tak berarti Allah Sang Bapa itu dilahirkan oleh Maryam, sebab Allah itu Tak Beranak dan Tak Diperanakkan dari seorang Ibu seperti layaknya manusia. Namun ini berarti bahwa dia mengandung Firman Allah/ Anak Allah yang Menjelma sebagai Manusia itu dalam kandungannya serta darinya Ia mengambil kemanusiaanNya. Elisabet, Bunda dari Nabi Yohanes Pembaptis mengenali realitas ini ketika ia menyebut Maryam sebagai “Ibu Tuhanku” (Lukas 1:43). Maryam mengatakan mengenai dirinya sendiri ”Segenap Keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luke 1:48). Oleh karena itu kita, umat Orthodox, dalam keturunan (generasi) kita, menyebut dia “berbahagia”.

Maryam telah hidup dalam kehidupan yang murni dan kudus, dan kita menghormati dia dengan tingginya sebagai teladan kesucian, orang ketebusan yang pertama. Bunda dari kemanusiaan yang baru didalam Putranya. Adalah sangat membuat tanda tanya yang tak dapat dimengerti bagi umat Kristen Orthodox bahwa banyak orang yang mengaku Kristen yang menyatakan diri percaya pada Alkitab tetapi tak pernah menyebut Maryam “berbahagia” tak pula menghormatinya yang telah mengandung dan memelihara serta membesarkan Putra Allah atau Firman Allah yang adalah “Allah” (Yohanes 1:1) yang menjelma dalam daging manusia itu.

XII. Penyaliban, Penguburan & Kebangkitan Kristus

Penyaliban, Penguburan & Kebangkitan Kristus adalah merupakan cara bagaimana penebusan itu dilakukan. Penebusan artinya manusia dilepaskan dengan suatu bayaran dari kekuatan gelap yang mengungkungnya. Kekuatan gelap yang jahat itu adalah: Iblis, dosa dan maut. Bayaran yang diberikan untuk melepaskan manusia dari kungkungan :Iblis, dosa dan maut itu adalah Derita, Penyaliban, Kematian dan Penguburan Kristus. Manusia tidak diciptakan untuk mati. Maut hanya diancamkan “pada hari” (Kejadian 2:16-17) manusia melanggar perintah Allah. Dan ternyata manusia melanggar perintah itu (Kejadian 3: 6), maka mautpun menjadi akibatnya (Kejadian 3: 19), karena memang “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Manusia kehilangan hidup kekal, dan terusir dari sorga (Kejadian 3:22), jadi manusia berada dibawah kuasa maut. Demikian juga manusia “kehilangan kemuliaan” (Roma 3:23), yang berarti juga kehilangan kesucian (Roma 5:12), berarti dibawah kuasa dosa.

Dibawah kuasa dosa ini manusia hidup dalam “pelanggaran dan dosa-dosa”, sehingga ia menuruti kehendak Iblis (Efesus 2:1-2), maka manusia berada dibawah Kuasa Iblis. Keberadaan kodrat manusia yang sedemikian inilah yang disebut “Dosa Nenek Moyang” atau “Dosa Asal”. Disebut demikian karena masuknya keadaan sedemikian itu ke dalam dunia akibat pelanggaran Nenek Moyang yang pertama (Roma 5:12), dan itu menjadi asal segala kelemahan manusia sehingga ia mudah berbuat dosa daripada berbuat baik. Ini tak berarti manusia "menanggung salah"nya Adam, karena masing-masing manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri-sendiri (Yehezkiel 18:20, Ulangan 24:16, Galatia 6:5) tetapi ini berarti keturunan Adam terkena "dampak dan akibat" dari dosa yang dilakukan Adam itu, yaitu: kehilangan hidup kekal sehingga berada dibawah kuasa maut, kehilangan kemuliaan dan kekudusan Allah sehingga manusia berada dibawah kuasa dosa, dan berada dibawah kuasa Iblis.

Dengan mengenakan Tubuh Kemanusiaan Firman Allah yang menjadi Manusia itu naik dalam penghukuman Kayu Salib meskipun tanpa dosa (II Korintus 5:21) bagi menunjukkan sikap "taat sampai mati" (Filipi 2:8) sehingga Dia mengalahkan ketidak-taatan, yang adalah inti dosa yang bersarang dalam diri manusia, sehingga dengan demikian dosa yaitu ketidak-taatan itu dikalahkan. Dengan demikian melalui PenyalibanNya itu Firman Allah yang menjadi manusia itu telah melepaskan atau menebus kemanusiaan yang dikenakanNya itu dari dosa. Setelah disalib Ia mati, dan dalam kematianNya itu Ia masuk ke alam maut dan dengan itu " Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut" (Ibrani 2:14). Dengan demikian Ia telah menebus atau melepaskan kemanusiaan yang dikenakannya itu dari kuasa Iblis. Pada hari ketiga Ia bangkit dari kematian "sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. " (Roma 6:9), dengan demikian "Ia telah telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa" (II Timotius 1:10). Karena itu Ia telah menebus atau melepaskan tubuh kemanusiaan yang dikenakanNya itu dari kuasa maut. Maka dengan penyaliban, kemaytian dan kebangkitan Firman Allah yang menjadi manusia maka dosa, Iblis dan Maut yang telah mengungkung kodrat manusia akibat dari kesalahan Adam itu telah dikalahkan, sehingga Kristus betul-betul menjadi Penebus bagi segenap manusia.

XIII. Penebusan Kristus

Dengan Tubuh Kemanusiaan oleh InkarnasiNya itu, Firman Allah telah menyandang “..daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa” karena adanya dosa itu tadi (Roma 8:3), meskipun secara pribadi Firman Allah Yang Menjelma itu “tidak mengenal dosa” (II Kor. 5:21). Setelah mengenakan “daging yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa itu” Firman Allah yang Menjelma : Yesus Kristus itu lalu “menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging” (Roma 8:3) yang telah dikenakanNya itu. Caranya dengan masuk dalam derita, naik ke atas salib, mati, dan dikuburkan. Kematian Kristus adalah wujud taatNya secara mutlak kepada Allah: ”…Kristus Yesus…dalam rupa Allah (karena Ia adalah Firman Allah yang adalah “Allah”, Yohanes 1:1)….kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik….mengosongkan diriNya…menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan TAAT sampai mati,bahkan sampai MATI DI KAYU SALIB” (Filipi 2: 5 -8). Inti kejatuhan Adam yang berakibat kehilangan hidup kekal itu adalah “tidak taat”.

Firman Allah yang sejak kekal berada satu di dalam Bapa (Allah Yang Esa) yang Roh itu (Yohanes 4:24), juga berwujud Roh dan tak memiliki tubuh jasmani. Tubuh Jasmani yang dimiliki sebagai manusia itu diambil dari Maryam. Dengan demikian kemanusiaan Firman Allah yang menjelma itu adalah kemanusiaan baru yang tak terjadi melalui pertemuan “benih lelaki” dan “benih wanita”. Karena itu adalah kemanusiaan baru, maka Firman Allah Yang Menjelma: Yesus Kristus ini adalah “Adam yang Baru “ atau lebih tepatnya “Adam Yang Akhir” (I Kor. 15: 45). Sebagai Adam yang Akhir Ia bertindak memulihkan apa yang telah dihilangkan oleh Adam pertama. “Mati di Kayu Salib” adalah wujud “taat” yang mutlak kepada kehendak Allah. Kemanusiaan Adam yang dikenakan Firman Allah itu adalah “kemanusiaan yang serupa dengan daging berdosa’ yaitu kemanusiaan yang dalam status “TIDAK TAAT” tadi. Jika kemanusiaan yang TIDAK TAAT ini telah dikenakan untuk melaksankan karya “TAAT sampai mati, bahkan sampai MATI DI KAYU SALIB”, berarti ketidak-taatan dari kemanusiaan Adamiah yang dikenakan Firman Allah yang Menjelma itu dilebur dan dimusnahkan oleh ketaatan mutlak Firman Allah yang menjelma itu.

Maka Salib itu menjadi sarana peleburan dan pelepasan kemanusiaan Adam dari kuasa “ketidak-taatan” yaitu Dosa. Maka Salib itu telah menghukum dosa yang ada dalam daging, karena yang disalibkan adalah daging kemanusiaan yang dikenakan Firman Allah dalam PenjelmaanNya itu. Demikianlah melalui Salib itu kemanusiaan Adam dipulihkan oleh Adam yang Akhir: Yesus Kristus, Firman Allah Yang Menjelma ini.

Demikian juga akibat dari ketidak-taatan awal oleh Adam itu, semua manusia yang telah berada dibawah kuasa dosa yaitu pada “keinginan daging” itu berada dalam “perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya” (Roma 8:6). Tuntutan Hukum Allah adalah manusia supaya taat secara mutlak terhadap perintah-perintahnya. Padahal manusia itu dalam keadaan “tidak mungkin” untuk taat itu, karena ada kekuatan ketidak-taatan asli yang ada dalam dirinya itu. Sehingga di hadapan Hukum Allah, manusia berada dalam keberadaan terhukumkan, dan menjadi tidak benar secara hukum. Kemanusiaan yang demikian ini telah dikenakan oleh Firman Allah itu. Lalu dibawa dalam karya “TAAT sampai mati, dan bahkan sampai mati DI KAYU SALIB”. Dengan demikian kemanusiaan yang dalam keberadaan “TIDAK TAKLUK KEPADA HUKUM ALLAH” ini, dijadikan takluk secara mutlak. Sehingga kemanusiaan yang berada diatas Kayu Salib itu telah menggenapi inti terdalam dari segenap Hukum Allah. Padahal karena “tidak takluk kepada hukum Allah” inilah manusia berada dalam perseteruan dengan Allah (Kolose 1:21), maka dengan TAAT MUTLAK DIATAS Salib itu, perseteruan itu dihapuskan sehingga "..kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran…sekarang diperdamaikanNya, di dalam Tubuh Jasmani Kristus oleh kematianNya…” (Kolose 1: 21-22). Dengan demikian kemanusiaan yang dikenakan oleh Firman Allah Yang menjelma itu tak berada dalam keadaan berseteru dengan Allah dan tidak takluk pada Hukum Allah lagi. Dengan demikian kemanusiaan dari Firman Allah Yang Menjelma itu telah “damai” dengan Allah, dan telah dinyatakan “benar” di hadapan Hukum Allah. Sehingga barangsiapa sekarang yang manunggal dengan kemanusiaan Firman Allah Yang Menjelma itu oleh iman melalui Baptisan (Galatia 3:26-27) juga akan di “damaikan” dengan Allah” dan “dibenarkan” oleh iman.

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, kemuliaannya hilang (Roma 3:23), sehingga mereka melihat ketelanjangan diri mereka, dan mencari daun-daun untuk menutup ketelanjangan diri akibat dosa itu (Kejadian 3: 7). Namun Allah tak berkenan dengan cara usaha manusia sendiri untuk menutup dan menghilangkan akibat dosa itu. Allah memberikan cara-Nya sendiri untuik menutup atau menghapus dosa manusia itu dengan jalan: ”..membuat pakaian dari KULIT BINATANG untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (Kejadian 3:21). Ini berarti ada binatang disembelih oleh Allah, dan itu berarti ada darah tercurah. Hasil dari darah tercurah itu yang “dikenakan “ kepada Adam dan Hawa yang telanjang akibat dosa itu. Dengan demikian akibat dosa itu tertutupi (“kafarah”) oleh dampak tercurahnya darah.

Dosa itu hilang akibat darah. Karena “….segala sesuatu disucikan dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibrani 9:22). Bagaimana “penumpahan darah” menyebabkan “pengampunan” itu, demikian keterangannya. Upah dosa adalah maut. Berarti dosa itu hanya layak mendapatkan kematian, karena dosa memisahkan manusia dari Allah sumber Kehidupan Sejati. Itulah sebabnya secara aturan hukum, manusia yang berdosa itu harus dihukum mati. Namun Allah sebagai Sang Pengasih tidak menghendaki kematian manusia (Yeheskiel 18:32). Ia menghendaki manusia itu hidup. Padahal sebagai Yang Maha Adil semua dosa harus dihukum. Maka suatu jalan tengah dilakukan. Agar dosa tetap dihukum, dan kematian akibat dosa itu tetap ada, namun si manusia yang berdosa itu tetap hidup, maka korban dilakukan. Binatang korban itu mewakili manusia. Dalam Taurat untuk mendapat pengampunan si orang yang berdosa “menumpangkan tangannya” atas binatang korban dan mengakui dosa-dosanya (Imamat 1:4,3:8, 16: 21), dan dengan demikian binatang korban itu “mengangkut segala kesalah” (Imamat 16:22) karena dengan “meletakkan kedua tangannya kedua tangannya keatas kepala kambing…dan mengakui diatas kepala kambing itu segala kesalahan….dan juga dosa….ia ..menanggungkan itu ke atas kepala kambing…” (Imamat 16:21). Dengan demikian dosa dan kesalahan manusia yang berdosa itu dipindahkan secara simbolis kepada korban, dan binatang korban itu sebagai personifikasi dari dosa manusia itu. Lalu binatang korban itu disembelih. Dengan demikian dosa telah dihukum mati, dalam dagaing jasmani korban itu. Sehingga si orang berdosa itu tak lagi menanggung dosa itu, karena secara simbolis ia telah dihukum dalam wujud binatang korban itu. Demikianlah keadilan Allah telah berlaku, karena Ia telah menghukum mati dosa tersebut. Namun si orang berdosa itu tetap hidup. Ini menunjukkan kasih Allah yang tak menghendaki orang berdosa mati.

Melalui korban itu si orang berdosa itu telah mati demi menggenapi keadilan Allah, tetapi tetap hidup karena kasih Allah. Dengan tercurahnya darah korban itu berarti dosanya telah dihukum sehingga ia tak menanggung dosa itu lagi, ia sekarang dibebaskan dari dosa, ia telah diampuni. Sang Kristus sebagai Firman Allah yang menjelma telah “menyandang”:  “.. daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa”(Roma 8:3). Dengan demikian dalam daging-Nya itu Ia telah menanggung kedosaan manusia, meskipun Ia sendiri tak mengenal dosa. Dan dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa ini Ia disebut sebagai “Anak Domba Allah yang mengangkut dosa-dosa dunia” (Yohanes 1:29). Padahal Anak Domba Korban itu mengangkut kesalahan dan dosa melalui tercurahnya darah dalam kematian, dan Kristus mengalami mati melalui Salib, maka Salib Kristus dan darahNya yang tercurah itu adalah penggenapan dari Korban Anak Domba itu. Demikianlah dosa itu telah “dihukum” yaitu telah disembelih dalam “daging” yaitu “tubuh jasmani” Kristus, karena tubuh jasmani Kristus ini adalah daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa. Jika daging itu dihukum diatas salib, maka dosapun ikut dihukum pula. Jadi salib itu menjadi Mezbah Korban Semestawi, dan Tubuh Kristus yang Tersalib diatasnya itu adalah Domba Korban Semestawi, DeritaNya, SakitNya, PakuNya, HausNya, Rasa Takut Yang DialamiNya diatas Salib, dan semua derita yang dialami itu adalah Api Pembakar Korban yang menghanguskan JiwaNya. Sehingga barangsiapa yang manunggal dalam “kematian, penyaliban, dan penguburan” Kristus di dalam baptisan (Roma 6: 3-6), iapun telah mati bagi dosa (Roma 6:6) artinya ia “…dibaptis dalam dalam nama Yesus Kristus UNTUK PENGAMPUNAN DOSA” (Kisah 2:38).

Jika dalam Taurat penyatuan manusia berdosa dengan domba korban agar mendapatkan pengampunan itu dengan penumpangan tangan, maka dalam Injil penyatuan manusia berdosa dengan Anak Domba Allah yang dikorbankan itu harus manunggal dengan penyaliban, kematian dan penguburanNya di dalam baptisan yang disertai iman sehingga baptisan itu menjadi sarana dampak kuasa korban itu berlaku yaitu “Pengampunan Dosa”. Jika binatang korban dalam Taurat itu setelah selesai dikorbankan maka hangus jadi abu karena dibakar, namun Anak Domba Allah yang dikorbankan itu bukan saja “dagingNya tidak mengalami kebinasaan” (Kisah 2:31) dalam kuburan, malahan daging itu dibangkitkan, dimuliakan serta dibawa naik ke Sorga. Sehingga daging korban Tubuh Jasmani Kristus itu tetap kekal selamanya, dan korbanNya juga menjadi kekal di sorga sana. Artinya: ”Ia telah masuk satu kali dan untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus (Sorga) bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya (yaitu: Tubuh Jasmani yang telah dibangkitkan dan dimuliakan sebagai hasil korbanNya diatas Salib). Dan dengan demikian Ia telah mendapatkan kelepasan (penebusan) yang kekal,” (Ibrani 9:12) buat segenap manusia di sepanjang abad. Jadi dalam Dialah ada penebusan, pelepasan, dan keselamatan kekal, dan sempurna. Kita tak membutuhkan yang lain di luar Dia, sebab tak ada manusia agung siapapun yang telah melakukan apa yang dilakukan Sang Kristus dalam mengalahkan dosa dan kematian ini. Ia dapat melakukan semuanya ini, karena Ia adalah Firman Allah, yang memiliki kekekalan pada diriNya sendiri.

Sesudah Adam jatuh dalam dosa Allah bersabda: ”..terkutuklah tanah karena engkau…” (Kejadian 3: 17). Sejak saat itu kehidupan itu berada dalam situasi yang amat sulit: ” …dengan bersusah payah engkau akan mencari rejekimu dari tanah seumur hidupmu, semak duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu, dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:17-19). Yang dikutuk disini bukanlah masalah kerja itu sendiri, sebab sebelum jatuh kedalam dosapun manusia sudah diperintah kerja: ”TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk MENGUSAHAKAN dan MEMELIHARA taman itu” (Kejadian 2:15). Namun derita, kesukaran, kesulitan dan kesakitan yang berakhir dengan kematian yang mengikuti kerja itu. Tanah yang diambil sebagai jasad jasmani manusia yang dihembusi dengan nafas hidup (Kejadian 2:7), agar dapat mengalami hidup kekal, justru menarik hidup kekal, hilang tertelan kuasa debu, karena akhirnya manusia menukik menjadi debu. Inilah kutuk yang mengenaskan. Dan akhirnya bukan hanya manusia saja yang tertimpa kutuk ini bahkan “seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan” dan berada dalam “perbudakan kebinasaan” sehingga “segala makhluk sama-sama mengeluh” (Roma 8: 20-22). Dan keberadaan manusia itu sekarang “mengeluh karena beratnya tekanan” (II Kor. 5: 4). Keadaan kutuk yang menerpa manusia dan segenap makhluk yang ada disekitarmnya, makin dibuat kongkrit lagi ketika diperhadapkan dengan Hukum Allah.

Keberadaan “takluk kepada kesia-siaan” dan dibawah “takluk kepada kebinasaan” serta “mengeluh karena beratnya tekanan “yang disebabkan keadaan “fana” (II Kor. 5:4) dan berakhir “menjadi debu” (Kej.3:19) menyebabkan manusia tidak bisa takluk kepada kuasa hidup yang dinyatakan dalam Hukum Allah. Dalam Ulangan 27:16-26, Nabi Musa menyatakan 12 kutuk atas orang yang: memandang rendah ibu dan bapanya, menggeser batas tanah sesamanya, membawa seorang buta ke tempat sesat, memperkosa hak orang asing, anak yatim dan janda, tidur dengan isteri ayahnya, tidur dengan binatang apapun, tidur dengan saudaranya perempuan, tidur dengan mertuanya perempuan, membunuh sesamanya dengan tersembunyi, menerima suap untuk membunuh seseorang yang tak bersalah, serta tak menepati perkataan hukum Taurat itu dengan perbuatan.

Permasalahannya terletak pada kutuk yang terakhir yaitu “tak menepati perkataan hukum Taurat itu dengan perbuatan.” Hukum Taurat memiliki ratusan hukum di dalamnya. Adalah tidak mungkin unutuk “menepati” seluruh hukum yang ada. Pelanggaran pasti terjadi. Padahal yang “tak menepati” diancam dengan “kutuk”. Berarti karena kemungkinan melanggar itu jauh lebih besar daripada “menepati perkataan hukum Taurat itu dengan perbuatan”, maka manusia selalu berada dibawah bayang-bayang kutuk ini. Sebagaimana dikatakan :”Karena semua orang yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada dibawah kutuk. Sebab ada tertulis: ”Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” (Galatia 3:10). Jadi dasar hukum Taurat adalah “setia melakukan segala sesuatu yang tertulis” atau “menepati perkataan hukum Taurat dengan perbuatan”. Dengan kata lain dasar hukum Taurat adalah: ”..siapa yang melakukannya akan hidup karenannya” (Galatia 3:12) Padahal tidak ada manusia satupun yang “setia melakukan SEGALA” atau yang “MENEPATI perkataan Hukum dengan perbuatan”, pelanggaran pasti ada dan terbukti ini yang sering dan selalu terjadi. Berarti dengan melakukan pekerjaan Taurat atau melakukan Syariat ini orang tak mungkin benar di hadapan Allah. Apalagi ada ketetapan lain dalam Kitab Suci bahwa “… orang yang benar itu akan hidup oleh percaya” (Habakuk 2:4). Sebagaimana yang tertulis juga: ”Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan dihadapan Allah karena melakukan hukum Taurat/Syariat adalah jelas, karena Orang yang benar akan hidup oleh iman” (Galatia 3:11). Ini bukti bahwa kutuk awal itu telah begitu merembes kepada seluruh keberadaan manusia.

Yesus Kristus “tak mengenal dosa” (II Kor. 5:21) sebagai “Firman Allah” yang nuzul ke bumi, berarti tak memiliki kutuk dan tak juga dibawah kutuk. Karena sebagai yang tanpa dosa pastilah dan jelas Ia telah menepati perkataan hukum Taurat itu dengan perbuatan. Oleh penguasa penjajah Romawi Ia dihukum mati diatas Salib atas dorongan para ulama Yahudi. Padahal orang yang mati digantung dengan disalib atau digantung biasa, menurut ketetapan Taurat adalah demikian: ”Apabila sesorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, ….haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab SEORANG YANG DIGANTUNG TERKUTUK OLEH ALLAH…” (Ulangan 21:22-23). SEORANG YANG DIGANTUNG TERKUTUK OLEH ALLAH, itulah ketetapan Hukum Taurat. Jadi secara hukum seolah-olah Yesus itu terkutuk, namun secara fakta dan realita Ia tak memiliki kutuk sedikitpun dan tidak berada dibawah kutuk itu. Dengan demikian kutuk sebagai ketetapan “Firman Tertulis” yang dikenakan pada orang yang mati digantung di kayu telah dibatalkan kuasanya oleh “Ketiadaan Kutuk” dari :”Firman Menjelma” yang sekarang berada diatas Kayu Salib sebagai orang yang mati digantung itu. Karena “Firman Menjelma” itu adalah hakikat dari Firman itu sendiri, sedangkan “Firman Tertulis/Taurat” adalah merupakan catatannya saja. Sebagaimana yang disabdakan: ”Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:” Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib” (Galatia 3:13) Itulah sebabnya diatas Salib itu Kristus telah membatalkan kutuk yang ditetapkan Taurat, dengan demikian membatalkan semua kutuk yang pernah dikenakan kepada manusia. Akibatnya pada saat kita menjalankan perintah Allah bukan lagi takut kutuk itu yang menyebabkan kita taat, namun karena cinta kasih dan bakti serta takut yang dilandasi oleh hormat kepadaNya sebagai ucapan syukur atas penebusanNya di dalam Kristus itu yang memotivasi.

Sesudah meninggalnya Yusuf sebagai Penguasa Agung di Mesir, dan menjelang Nabi Musa lahir, bangsa Israel berada dalam keadaan diperbudak oleh Firaun. Hal itu dinyatakan oleh Kitab Suci demikian: ”…pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa….dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat….” (Keluaran 1: 11-13).Kerja paksa dan penindasan dan kekejaman perbudakan yang mereka alami itu semuanya dilakukan bagi Firaun: ”….menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan….” (Keluaran 1:11). Jadi Firaunlah yang sebenarnya melakukan kezaliman, kesewenang-wenangan dan kekejaman dalam perbudakan itu.

Atas tirani Firaun dan kekejaman perbudakan itu, Allah mengutus Nabi Musa dan abangnya Imam (Kohen) Harun untuk menentang kesewenang-wenangan Firaun dan memperkenalkan Allah sebagai Penguasa satu-satunya. Serta mengingatkan Firaun agar melepaskan Israel dari cengkeramannya agar mereka boleh menyembah Allah Yang Esa. Ketika Firaun menolak sampai sembilan kali, Allah menjatuhkan tulah sampai sembilan kali pula (Keluaran 6-11). Dan yang terakhir Allah mengancam seluruh Mesir dengan tulah kematian, dengan akan dikirimkanNya Malaikat maut untuk membunuh semua anak sulung dari hewan dan manusia di seluruh Mesir.

Namun kepada Nabi Musa difirmankan agar menyembelih Anak Domba Paskah (Keluaran 1-28), dan darahnya diusapkan pada ambang pintu sebelah atas, dan kiri-kanan. Barangsiapa yang pintu rumahnya dioles dengan darah itu, maka Malaikat Maut akan melewati (“pesakh”, dari sini berasalnya kata “paskah”) mereka, dan mereka akan lepas dari maut. Setelah Perayaan Paskah itu Israel betul terlepas dari Firaun, Perbudakan yang kejam dan Bahaya Maut. Dengan Firaun dan Bala tentaranya ditenggelamkan ke dalam Laut Merah dalam usahanya mengejar Israel yang dipimpin Nabi Musa dan Kohen Harun itu. Dan Israel lahir sebagai bangsa baru setelah melewati Laut Merah yang oleh mu’jizat kuasa Allah telah dijadikan kering dan bisa dilalui itu (Keluaran 13-15).

Perjanjian Baru mengajarkan: ” …Sebab Anak Domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus…” (I Korintus 5:7). Kristus disembelih yaitu dibunuh diatas Kayu Salib. Jika pembunuhan Kristus itu dinyatakan sebagai penyembelihanNya, dan Tubuh Kristus yang terbunuh itu sendiri dinyatakan sebagai “Anak Domba Paskah”, maka itu berarti ada paralel antara peristiwa Paskah di zaman Nabi Musa dengan Penyaliban Kristus Yesus itu. Dan demikian Kristus adalah penggenapan Paskah Nabi Musa, dan Paskah Nabi Musa adalah pra-bayangan dari karya Kristus sendiri, Mesir adalah negara di luar Tanah Perjanjian (Palestina, Israel), berarti lambang wilayah diluar persekutuan dengan Allah, atau lambang dunia yang memberontak kepada Allah, dan tanpa Kristus. Di Mesir Umat Israel dibawah tirani Firaun, Perbudakan yang kejam, serta Bahaya Maut. Demikianlah di dalam dunia di luar Kristus, manusia berada dalam kuasa Iblis , sebagaimana yang dikatakan: ”Kamu dahulu….mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati PENGUASA KERAJAAN ANGKASA, yaitu ROH YANG SEKARANG SEDANG BEKERJA diantara orang-orang durhaka” (Efesus 2:1-2), juga: ”…seluruh dunia di bawah kuasa si jahat” (I Yohanes 5:19), serta “…lepaskan kami dari Si Jahat” (Matius 6:13).

Disamping manusia diluar Kristus itu berada di bawah tirani si Jahat yaitu Iblis, mereka juga dibawah tirani kekuatan negatif yang menyebabkan mereka tak dapat melakukan apa yang baik yang mereka kehendaki. Karena itu lebih mudah manusia berbuat buruk daripada berbuat baik, dan kekuatan negatif inilah tirani dosa, yang membuat manusia diperbudak kepada hawa-nafsu, sebagaimana yang dikatakan: ”Sebab bukan apa yang kukehendaki, YAITU YANG BAIK, yang aku perbuat. Melainkan apa yang tidak aku kehendaki YAITU YANG JAHAT, yang akau perbuat. Jadi jika AKU BERBUAT APA YANG TIDAK AKU KEHENDAKI, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi DOSA YANG DIAM DI DALAM AKU…..dan membuat aku MENJADI TAWANAN HUKUM DOSA yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Roma 7:19-21). Demikianlah manusia menjadi tawanan dan diperbudak oleh dosa dan hukum dosa yang ada didalam dirinya. Kuasa Iblis yang mencengkeram manusia itu memang bekerjanya melalui hukum dosa dan kuasa dosa yang ada di dalam diri manusia itu. Dan hukum dosa serta kekuatan dosa itu mengarahkan manusia kepada kematian, karena “Upah Dosa adalah Maut” (Roma 6:23). Serta: ”…sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang (yaitu:Adam akibat ketidak-taatannya), dan oleh dosa itu juga (masuknya) maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (yaitu: tidak taat seperti yang dilakukan Adam, dan oleh akibat kejatuhan Adam itu) (Roma 5:12). 

Dengan demikian sebagaimana Israel di Mesir dikuasai oleh Firaun, Perbudakan dan Bahaya Maut, demikianlah manusia di luar Kristus itu berada dalam kekuasaan Iblis, Tawanan Dosa, dan Kuasa Maut atau Kematian. Ini semua terjadi akibat kejatuhan Adam, karena tidak taat kepada Allah. Ketidak-taatan Adam ini (Kejadian 3:6) datang karena bujukan Iblis yang menggunakan wujud ular (Kejadian 3:1-5), sehingga mereka Jatuh ke dalam Maut (Kejadian 3:19), karena memang tadinya sudah diingatkan Allah, bahwa aklibat pelanggaran itu Adam dan Hawa akan memetik buah kematian (Kejadian 2:16-17). Demikianlah Iblis, Dosa dan Maut itu telah menjadi kekuatan negatif yang berada dalam kodrat manusia setelah jatuh. Keadaan yang demikian inilah yang dalam theologia Kristen disebut sebagai “Dosa Asal”. Yaitu kekuatan yang menjadi asal munculnya dosa-dosa yang lain dalam hidup manusia, dan juga asal berasal dari kejatuhan awal manusia. Itu akhirnya menjadi benalu dan parasit dalam hakekat kemanusiaan. Maut ini bukan hanya kematian jasmani saja, namun juga kematian rohani (Efesus 2:1), yang berwujud terpisahnya manusia dari hidup ilahi yang terbukti dibuangnya dan diusirnya manusia dari Firdaus atau Taman Eden itu (Kejadian 3:23).

Yesus Kristus adalah Anak Domba Paskah yang melepaskan manusia dari kuasa Iblis, Dosa dan maut, sebagaimana anak domba Paskah di zaman Nabi Musa melepaskan bangsa Israel dari tirani Firaun, Perbudakan yang kejam, dan Bahaya Maut. Ini dilakukan oleh Yesus Kristus dengan Bangkit dari antara orang mati, sesudah penyaliban, kematian dan penguburanNya selama tiga hari itu. Dengan bangkitNya berarti maut tak berkuasa lagi atasNya (Roma 6:9), dengan demikian maut telah dikalahkan. Padahal maut akibat dosa, seperti yang telah katakan diatas, berarti dosapun telah dikalahkan. Dosa masuk karena Iblis, maka sekaligus Iblis telah dikalahkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus itu (Ibrani 2:14). Demikianlah melalui korbanNya diatas Salib Yesus Kristus telah melepaskan manusia dari Iblis. Dosa dan Maut. Jadi Ia memang betul-betul Anak Domba Paskah yang kekal dan sejati. Sehingga pelepasanNya itu bersifat kekal (Ibrani 9:11), dan dengan penuh kuasa ilahi.

Itulah karya Allah yang Maha Dahsyat melalui Penyaliban. Kematian dan Kebangkitan “FirmanNya yang Menjadi Manusia” bagi keselamatan dan pelepasan manusia dari kodratnya yang telah rusak, yang berada dalam keadaan salah dan tertuduh,serta dibawah kuasa kutuk, Iblis, dosa dan maut itu. Dan karya pelepasan total akibat Penyaliban, Kematian dan Kebangkitan Kristus inilah yang disebut “Penebusan”. Dan ini akan menjadi “Keselamatan” bagi mereka yang mau menerimanya dengan iman, dan meneterapkan karya Kristus yang sudah sempurna dan yang sekali untuk selamanya itu dalam kehidupannya. Jadi keselamatan itu berasal dari “penebusan” Allah melalui karya Kristus, sebagai hadiah gratis, bukan sebagai pahala amal-saleh hasil usaha perbuatan manusia sendiri. Amal saleh dan kebaikan muncul akibat dari karya keselamatan itu, karena kuasa Roh Kudus yang bekerja dalam kehidupan orang yang sudah manunggal kepada Allah dalam penebusan Yesus Kristus itu. Jadi perbuatan baik itu adalah buah iman. Orang yang sudah manunggal kepada Allah dalam penebusan Kristus berbuat baik bukan “supaya” mendapat keselamatan, namun “karena” telah menerima keselamatan itu akibat karya Kristus. Dan tujuan berbuat baik itu bukan untuk mencari pahala, namun untuk menanggapi karya Roh Kudus bagi suatu pengudusan yang sempurna, sehingga kita memetik buah dan hasil dari panunggalan kita dengan Kristus yaitu pemuliaan kekal, atau “Theosis” (“ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi" – II Pet. 1:4-, dan “menjadi sama seperti Dia” – I Yoh. 3:2).

XIV. Dosa

Dosa secara literal artinya “meleset dari sasaran”. Sebagaimana yang ditulis dalam Kitab Suci, “Semua telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Yang kita maksud disini adalah dosa-dosa pribadi yang kita lakukan akibat dari bercokolnya kekuatan negatif dalam diri kita akibat dosa asal, yang juga disebut “dosa” (Roma 7:19-20), sehingga memudahkan kita untuk melanggar dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa ini. Untuk dosa pribadi yang berwujud pelanggaran tata-moral dan tata-hukum ilahi ini, kita sendiri yang harus bertanggung-jawab, tak seorangpun yang dapat menggantikan dan memikul dosa-pribadi orang lain (Yeheskiel 18:20). Kita berdosa apabila kita menyelewengkan apa yang Allah berikan sebagai jalan untuk mencapai yang baik, dengan demikian menyimpang dari tujuan-tujuanNya bagi kita. Dosa kita memisahkan kita dari Allah (Yesayah 59:1, 2), dan meninggalkan kita secara rohani mati (Efesus 2:1). Untuk menyelamatkan kita, Anak/Firman Allah telah mengambil bagi diriNya kemanusiaan kita, dan karena tanpa dosa “ Dia telah menghukum dosa di dalam daging” (Roma 8:3). Dalam welas-asihNya Allah mengampuni dosa-dosa kita apabila kita mengakuinya dan berbalik dari dosa-dosa tadi yaitu "bertobat" dan meninggalkan jalan hidup yang salah, tidak taat, memberontak sesat, dan tanpa Allah, serta Ia akan memberikan kepada kita kekuatan untuk dapat mengatasi dosa dalam hidup kita. ” Jikalau kita mengakui dosa-dosa kita, Ia adalah setia dan adil maka Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan ” (I Yohanes 1:9).

XV. Keselamatan

Keselamatan adalah karunia Ilahi yang melaluinya manusia dilepaskan dari dosa dan kematian, dimanunggalkan dengan Kristus, dan dibawa ke dalam KerajaanNya yang kekal, akibat dari karya Inkarnasi, Penderitaan, Penyaliban, Penguburan, Kematian dan Kebangkitan Kristus, sebagaimana yang telah kita jelaskan diatas mengenai makna Penebusan akibat Karya Salib Kristus itu. Mereka yang mendengar khotbah Rasul Petrus pada hari Pentakosta bertanya apa yang mereka harus lakukan untuk diselamatkan. Dia menjawab, "Bertobatlah, hendaklah masing-masing diantaramu dibaptiskan di dalam Nama Yesus Kristus bagi pengampunan dosa-dosa; dan kamu akan menerima karunia Roh Kudus " (Kisah 2:38). Keselamatan mulai dengan tiga langkah ini:
1) bertobat,
2) menerima dan percaya Kristus serta dibaptis,
3) menerima karunia Roh Kudus, yaitu menerima Roh Allah itu sebagai karunia yang berasal dari Sang Bapa melalui Kristus.
Bertobat artinya mengubah pikiran kita mengenai bagaimana kita telah berada selama ini, berbalik dari dosa dan menyerahkan diri kita kepada Allah di dalam Kristus. Dibaptiskan artinya dilahirkan kembali dengan disatukan dalam panunggalan dengan Derita, Penyaliban, Kematian dan Penguburan Kristus, keberadaan manusia lama kita yang dapat mati ikut terkubur secara Iman dalam karya Kristus tadi, dan keluar dari air baptisan kita manunggal dengan Kebangkitan, Kenaikan Ke Sorga, Kemuliaan dan Kekekalan Kristus akibat KebangkitanNya itu. Dan menerima karunia Roh Kudus artinya menerima Sang Roh yang memberi kuasa kepada kita untuk memasuki suatu hidup yang baru di dalam Kristus yaitu hidup lepas dari dosa, Iblis dan maut sebagai akibat dari KebangkitanNya itu, untuk ditumbuh-peliharakan dalam Gereja, dan untuk dijadikan sesuai dengan Gambar Allah.

Keselamatan menuntut iman kepada Yesus Kristus. Manusia tak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri oleh amal perbuatan baik mereka. Keselamatan artinya kita dilepaskan dari kuasa dosa, kematian dan Iblis oleh kemenangan Kristus atas maut yang dibuktikan oleh KebangkitanNya. Padahal “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23), berarti dengan maut dikalahkan dosapun telah dikalahkan. Dosa masuk ke dalam dunia oleh tipuan Iblis, maka dengan dosa dikalahkan maka Iblispun dikalahkan. Jadi karena dengan perbuatan baik apapun juga kita tak dapat mengalahkan kematian, dosa maupun Iblis, maka jelas kita tak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Keselamatan ini adalah suatu proses yang terus-menerus, sepanjang hidup. Keselamatan itu sesuatu yang “sudah” terjadi, dalam arti, bahwa melalui kematian dan Kebangkitan Sang Kristus, kita telah dipindahkan dari kuasa maut ke dalam kuasa hidup (Yohanes 5:24), dari kuasa kegelapan Iblis ke dalam kewargaan dari Kerajaan Allah (Filipi 3:20, Kolose 1:13), dari dosa kepada pengudusan. Dalam arti ini kita “sudah” diselamatkan.

Keselamatan itu juga suatu peristiwa yang “sedang” terjadi. Artinya kita sedang diselamatkan, karena kita masih diperintahkan “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12) dan juga bahwa kita “mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui” (Kolose 3:10), dan ini terjadi melalui keikut-sertaan kita secara aktif melalui iman dalam panunggalan kita dengan Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Inilah yang disebut pengudusan: "....marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah." (II Korintus 7:1), " Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci." (I Yohanes 3:3).

Keselamatan itu juga merupakan sesuatu peristiwa yang “akan” terjadi, sebagaimana dikatakan “kita pasti AKAN DISELAMATKAN dari murka Allah” (Roma 5:9) yang akan datang pada hari penghakiman. Karena tubuh kita ini haruslah dibangkitkan ke dalam kemuliaan dan dipersatukan lagi dengan roh yang meninggalkannya ketika mati, dan berada di Firdaus menantikan kesempurnaan penebusan dalam kebangkitan akhir, pada saat Kedatangan Kristus yang kedua kalinya nanti untuk masuk dalam kemuliaan Kristus sendiri (Kolose 3:4).

XVI. Roh Kudus dan KaryaNya

Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri yang keluar dari Bapa (Yohanes 15:26) dan yang bersemayam di dalam Diri Bapa (I Kor. 2:10-11) seperti roh manusia juga berada di dalam diri manusia. Ia disebut sebagai Hypostasis ketiga di dalam Diri Allah yang Esa yang bersifat Tritunggal itu. Karena Ia bersemayam di dalam Bapa, berarti Ia juga berada serta dalam dzat-hakekat ke-Allah-an Sang Bapa yang satu itu, bersama dengan Firman Allah yang juga berada disitu. Umat Kristen Orthodox terus-menerus mengakui, "Dan Aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan, Sang Pemberi Hidup, yang keluar dari Bapa, yang bersama dengan Sang Bapa dan Sang Putra disembah dan dimuliakan…” Ia disebut sebagai “janji Bapa” (Kisah 1:4), diberikan oleh Kristus sebagai suatu karunia kepada Gereja , untuk memberi kuasa kepada Gereja bagi pelayanan untuk Allah (Kisah 1:8), untuk menempatkan kasih Allah di dalam hati kita (Roma 5:5), dan untuk membagikan karunia-karunia Roh Kudus (I Korintus 12:7-13) dan kebajikan-kebajikan sebagai buah-buah Roh (Galatia 5:22, 23) bagi kehidupan dan kesaksian Kristen. Umat Kristen Orthodox percaya janji Alkitabiah bahwa Roh Kudus dikaruniakan melalui penumpangan tangan dan pengolesan minyak yang disebut Pengurapan atau Krisma pada saat sesudah penyelaman pada saat Baptisan (Kisah 2:38. 8:14-17). Kita harus tumbuh dalam pengalaman kita akan Roh Kudus selama sisa hidup kita ini, dan dari Roh Kudus inilah kita bertumbuh dalam pengudusan.

XVII. Kelahiran Baru

Kelahiran Baru adalah penerimaan hidup baru. Ini adalah cara bagaimana kita mendapatkan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah dan GerejaNya. Sang Kristus bersabda: "Jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, dia tidak dapat masuk kedalam Kerajaan Allah" (Yohanes 3:5). Dari sejak awalnya, Gereja telah mengajarkan bahwa “air” itu adalah air baptisan dan “Roh” itu adalah Roh Kudus.

Kelahiran baru itu terjadi saat baptisan, dimana secara misteri setelah kita menerima Kristus ketika kita diselamkan ke dalam air disitu kita ikut dikuburkan dan ikut mati dalam peguburan dan kematian Kristus dan ketika kita keluar dari air secara misteri kita keluar dari kematian dan ikut ambil bagian dalam Kebangkitan Kristus sendiri. Dengan demikian kita dimanunggalkan kepadaNya di dalam kemanusiaanNya yang telah dimuliakan, sehingga kita dibangkitkan dalam kehidupan yang baru, yaitu kehidupan kebangkitan Kristus itu sendiri. (Kisah 2:38; Roma 6:3, 4). Ide bahwa “dilahirkan baru” itu adalah suatu pengalaman rohani yang terlepas dari kaitan dengan baptisan itu adalah ajaran yang baru muncul di zaman modern ini saja dan tak memiliki landasan Alkitabiah apapun.

XVIII. Pembenaran & Pengudusan

Pembenaran adalah sebuah kata yang digunakan dalam Alkitab yang berarti bahwa di dalam Kristus kita telah diampuni dan secara sebenarnya kita dibuat benar dalam kehidupan kita. Ini diakibatkan panunggalan kita melalui Baptisan dengan Tubuh Kristus yang Disalib sebagai bukti taat mutlakNya kepada Allah (Filipi 2:8), sehingga secara hukum kemanusiaanNya dinyatakan benar. Pembenaran itu bukan sekali dan untuk selamanya, dalam artian sebagai pernyataan secara instan yang menjamin keselamatan kekal mulai saat itu dan seterusnya, tak perduli betapa fasik dan jahatnya hidup seseorang . Bukan pula ini merupakan suatu pernyataan hukumiah (legal) bahwa seorang yang tidak benar telah dinyatakan benar. Malahan ini lebih bersifat, bahwa pembenaran adalah suatu realitas sehari-hari yang hidup dan dinamis, bagi seseorang yang mengikut Kristus. Orang Kristen ini secara aktif mengejar suatu kehidupan yang benar di dalam rahmat/kasih-karunia dan kuasa Allah yang diberikan kepada semua orang yang terus tetap percaya kepadaNya, sebagai bukti dia telah mengalami pembenaran oleh iman di dalam Kristus.

Pengudusan adalah keberadaan dipisahkan bagi Allah. Ini melibatkan kita dalam proses sedang dibersihkan dan dijadikan kudus oleh Kristus di dalam Roh Kudus. Kita dipanggil menjadi orang-orang kudus dan untuk tumbuh ke dalam ke-serupa-an Allah . Setelah diberikan karunia Allah yang berwujud Sang Roh Kudus, kita secara aktif ikut ambil bagian dalam pengudusan itu. Kita melakukan tugas kita untuk mengikuti karya Allah di dalam diri kita itu dengan perbuatan-perbuatan yang berkenan kepada Allah. Inilah yang disebut synergeia. Artinya kita bekerja bersama-sama dengan rahmat Allah. Agar kita dapat mengenal Dia, serta oleh rahmat/kasih-karuniaNya kita menjadi apa adanya Dia itu menurut keberadaan kodratNya. Menjadi seperti Allah, atau “ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi” inilah yang menjadi tujuan akhir keselamatan. Inilah yang dalam Iman Kristen Orthodox disebut sebagai “Theosis”

XIX. Alkitab

Alkitab adalah kesaksian mengenai Firman Allah yang diilhamkan oleh Allah (II Timotius 3:16), dan merupakan bagian yang amat menentukan dari pewahyuan diri Allah kepada manusia. Karena isi dan berita Alkitab adalah mengenai Sang "Firman Allah" : Yesus Kristus, yaitu Firman Allah yang telah menjadi manusia (Yohanes 1:14). Bagi Iman Kristen Orthodox Firman Allah adalah "Firman yang Hidup" (I Yohanes 1:1), bukan buku yang mati, sebagai "hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa" tetapi yang " telah dinyatakan kepada "manusia (I Yohanes 1:2) dalam wujud manusia yang hidup: Yesus Kristus, Putra Maryam.

Jadi Firman Allah bukanlah Buku yang diturunkan dari Sorga. Gereja Orthodox sejak zaman para Rasul menggunakanKitab Suci Perjanjian Lama terjemahan bahasa Yunani: Septuaginta (Ebdomikonta) sebagai kitab resminya, yang diterjemahkan para sarjana Yahudi di Mesir 3 abad sebelum Kristus Yesus lahir ke dunia. Kitab ini menjadi pakem dari orang-orang Yahudi di luar Palestina terutama di Alexandria, Mesir, yang tak dapat lagi bahasa Ibrani. Ciri khas dari terjemahan Septuaginta ini adalah memiliki jumlah buku yang lebih banyak daripada yang bahasa Ibrani yang digunakan di Palestina. Jumlah buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani Septuaginta tetapi yang tak ada dalam pakem Ibrani, yaitu pakem yang sekarang digunakan dalam dunia Protestan dan Yahudi itu adalah: Dimuatnya Doa Manasye dalam Kitab II Tawarikh, I Esdras, Tobit, Yudit, I,II,III Makabe, Mazmur 151, Hikmat Salomo/Sulaiman, Hikmat Yesus bin Sirakh, Surat Barukh, Surat Kiriman Nabi Yeremia, serta bentuk lebih panjang dari Kitab Ester, serta bentuk lebih panjang dari Kitab Daniel dimana terdapat kisah Dewa Bel dan Naga, kisah Susana, Doa Tiga Pemuda Kudus. Jadi jumlahnya lebih banyak dari Kitab-Kitab Deuterokanonika yang digunakan dalam Gereja Roma Katolik. Namun Gereja Orthodox menyebut kitab-kitab itu bukan sebagai "Deuterokanonia" ("Kanon Kedua") seperti yang digunakan oleh Gereja Roma Katolik, dan bukan juga "Apokrifa" ("Kitab-Kitab Tersembunyi") seperti yang digunakan dalam kalangan Protestan, namun kitab-kitab itu disebut sebagai "Anaginoskomena" artinya "Kitab-Kitab Yang Layak Dibaca" --herannya, sikap yang sama juga dimiliki Luther dan Calvin atas kitab-kitab ini-- sebab berisi sejarah yang membantu dalam memahami latar-belakang zaman Perjanjian Baru, namun dilarang menggunakan kitab-kitab itu sebagai dasar merumuskan dogma apapun.

Dengan demikian ada atau tidak adanya Kitab-Kitab itu dalam Perjanjian Lama tak mempengaruhi dan tak mengubah ajaran ataupun dogma Iman Kristen apapun. Kitab Perjanjian Lama terjemahan Septuaginta ini disebut Kanon Panjang (yang sebagiannya digunakan umat Roma Katolik) dan Kitab Perjanjian Lama Ibrani itu disebut Kanon Pendek (yang digunakan umat Protestan dan Umat Yahudi masakini). Gereja Orthodox menerima kedua kanon itu, pendek atau panjang. Alkitab terdiri dari dua bagian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Perjanjian Lama terdiri dari:
1) Kitab Taurat Nabi Musa,
2)Kitab Sejarah Bani Israel, sejak wafat Nabi Musa sampai jaman Raja Daud dan Sulaiman/Salomo, sampai pembuangan bangsa Israel ke Asyur dan Babel serta kembalinya bangsa Israel ke tanah leluhur mereka sampai jaman perjuangan kaum Makabe,
3) Sastra Hikmat diahataraya Zabur/Mazmur dari Raja Daud serta tulisan-tulisan Raja Sulaiman/Salomo,
4) Kitab Nabi-Nabi kemudian: Yesaya, Yeremia, dan lain-lainnya.
Perjanjian Lama berisi tentang pernyataan Sang Firman itu sebelum penyataan diriNya sebagai manusia, yaitu sebagai yang menjadi sarana Allah menciptakan dunia (Kejadian 1:1,3,6,9,11,14,20,24,26, Ibrani 1:2, Yohanes 1:1-3), sebagai Sang Firman yang menyatakan diriNya dalam wujud sosok yang disebut "Malak Yahweh" (Malaikat TUHAN) namun yang menyatakan diriNya sebagai Allah (Kejadian 16:7-11, 13-14, Keluaran 3:2,4,6, dll), sebagai yang dinubuatkan akan datang sebagai manusia, sebagai yang disimbolkan dalam upacara-upacara Ibadahnya, serta sebagai sosok yang dilambangkan dalam pelaku-pelaku sejarahnya misalnya: Musa (sebagai pemberi hukum dan Nabi terbesar dalam Perjanjian Lama, dimana ketika Firman Allah itu menjadi manusia Ia menjadi Nabi --Matius 21:11-- yag seperti Musa --Ulangan 18:15-18, Kisah Rasul 3:21-24 ), Yosua (lambang Dia yang membawa keluar umatnya dari penjajahan Firaun dan Mesir, yaitu Iblis ,Dosa dan Maut, ke tanah Kanaan, yaitu Sorga), Daud ( sebagai lambang Raja Mesias), Harun ( sebagai Imam Agung yang berada di hadirat Allah), dll. Dengan demikian seluruh Perjanjian Lama itu berisi berita tentang Sang Firman Allah sebelum PenjelmaanNya sebagai manusia. Karena itulah Perjanjian Lama juga adalah kesaksian tentang Firman Allah, karena isinya adalah mengenai "Firman Allah" yang secara kekal berada bersama Bapa itu.

Perjanjian Baru terdiri dari:
1) Injil-Injil,
2) Sejarah Gereja Perdana,
3) 14 Surat-surat Kiriman Rasul Paulus,
4) 7 Surat Umum/Katolik yang ditulis oleh Rasul Yohanes, Rasul Petrus, Yakobus dan Yudas,
5) Kitab Apokalypse/Wahyu (mengenai akhir jaman).
Dengam demikian Perjanjian Baru mencatat, oleh ilham Roh Kudus, Berita Gembira tentang kelahiran dan hidup yaitu Pribadi, Ajaran, Mukijzat, serta Kesengsaraan yaitu: Penyaliban, Penguburan, Kematian, Kebangkitan dan Kenaikan ke sorga dari Yesus Sang Kristus serta makna dari Karya-Karya Yesus itu bagi keselamatan manusia dalam bentuk keempat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Juga Perjanjian Baru berisi tulisan-tulisan para Rasul Kristus yang menjelaskan makna dari karya-karya Sang Kristus itu bagi manusia, terutama mereka yang percaya; baik dalam ke 14 Surat-Surat Kiriman Rasul Paulus, maupun dalam ke 7 surat yang disebut Surat-Surat Katolik (Surat-Surat Umum) yang ditulis oleh Rasul Yohanes (3 pucuk surat), Rasul Petrus (2 pucuk surat), Rasul Yakobus (1 pucuk surat) dan Yudas (1 pucuk surat). Perjanjian Baru juga mengandung kisah dari sejarah Gereja Perdana dan khususnya menjelaskan doktrin Rasuliah Gereja dalam kitab Kisah Rasul. Perjanjian Baru juga memuat Kitab yang menjelaskan tentang nubuat-nubuat akhir zaman dalam Kitabnya yang terakhir: Kitab Wahyu. Meskipun tulisan-tulisan ini dibaca langsung dalam Gereja-Gereja sejak saat tulisan-tulisan itu muncul pertama kali, namun daftar yang paling dini dari semua kitab-kitab Perjanjian Baru tepat seperti yang kita ketahui sekarang, baru ditemukan pada Kanon (Ketetapan) no.33 dari suatu Konsili Lokal yang diadakan di Kartago pada tahun 318, dan dalam suatu fragmen dari Surat Mengenai Perayaan dari Bapa Suci Athanasius dari Alexandria pada tahun 367. Kedua sumber itu mendaftar semua kitab dari Perjanjian Baru seperti yang kita miliki sekarang tanpa perkecualian.

Dengan demikian Kitab Suci kita tak pernah diubah-ubah dan tetap asli sejak zaman purba. Suatu Konsili lokal yang mungkin sekali diadakan di Roma pada tahun 382, menuliskan suatu daftar lengkap dari kitab-kitab kanonik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dengan demikian Alkitab seluruhnya adalah kesaksian tentang Firman Allah karena isi beritanya adalah mengenai Sang Firman Allah itu, serta penulisannya diilhamkan oleh Roh Allah sendiri. Jadi tujuan membaca Alkitab adalah untuk bertemu dan mengenal "Sang Firman Allah" yang hidup: Yesus Kritus itu, sehingga kita dapat mendapatkan hidup kekal olehNya (Yohanes 20:30-31). Alkitab itu adalah merupakan jantung dari Ibadah dan puja-bakti Iman Kristen Orthodox.

XX. Sakramen

Penyembahan/Ibadah adalah mempersembahkan pujian, kemuliaan, dan ucapan syukur kepada Allah Yang Esa (Sang Bapa) melalui FirmanNya (Sang Putra), serta di dalam RohNya (Sang Roh Kudus). Segenap manusia dipanggil untuk menyembah Allah. Ibadah itu lebih dari sekedar “perayaan di padang terbuka” atau mendengarkan kotbah, atau menyanyikan suatu kidungan. Allah dapat diketahui di dalam ciptaanNya, tetapi itu belum merupakan suatu ibadah atau penyembahan. Dan meski betapapun menolongnya kotbah itu, itu tak akan pernah dapat dijadikan sebagai pengganti yang selayaknya bagi ibadah. Yang paling menonjol dalam dalam ibadah Orthodox adalah pujian, ucapan syukur, dan pemuliaan secara berjemaah kepada Allah oleh Gereja. Penyembahan ini mengalami puncaknya di dalam persekutuan yang sangat akrab dengan Allah pada AltarNya Yang Kudus.

Sebagaimana dikatakan dalam Liturgi Suci: ”Karena bagiMulah segenap kemuliaan, hormat, dan sembah, bagi Sang Bapa, Sang Putra, serta Sang Roh Kudus, sekarang dan selalu, serta sepanjang segala abad. Amin.” Dalam penyembahan itu kita menyentuh dan mengalami KerajaanNya yang kekal, zaman yang akan datang, dan kita ikut serta dalam memuja bersama dengan para Balatentara Sorgawi. Kita mengalami kemuliaan dari penggenapan dari segala sesuatu di dalam Kristus, sebagai yang sungguh-sungguh segala sesuatu dalam semua orang.

a. Sakramen Baptisan Air

Baptisan adalah cara dimana seseorang sesungguhnya dimanunggalkan dengan Kristus, yaitu dalam penyaliban, kematian, penguburan dan kebangkitanNya (Roma 6:1-11). Karena penyaliban, kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus itulah sumber keselamatan, maka pengalaman keselamatan itu dimulai dalam air baptisan. Dalam Kitab Suci yang telah kita kutip dari Roma 6: 1-6 itu diajarkan bahwa dalam baptisan kita mengalami kematian dan kebangkitan Kristus. Di dalamnya dosa-dosa kita sungguh-sungguh diampuni, karena kita secara misteri manyatu dengan Penyaliban Kristus, padahal kematianNya itu adalah penghancur kuasa dosa sebagaimana yang telah kita bahas diatas. Dan kita diberi energi oleh panunggalan kita dengan Kristus untuk hidup dalam suatu kehidupan yang kudus, akibat kebangkitan Kristus yang membebaskan kemanusiaan yang dikenakanNya itu dari kuasa dosa dan Iblis. Gereja Orthodox melakukan baptisan dengan penyelaman penuh.

Pada saat ini, beberapa orang menganggap bahwa baptisan itu hanyalah sekedar “tanda yang nampak/tanda lahiriah” atau “lambang” saja dari iman seseorang kepada Kristus. Inovasi ini tidak mempunyai teladan pendahulu baik dalam sejarah maupun dari Alkitab. Yang lain malah merendahkannya dengan menganggap itu hanya sekedar “ordonansi/ordinance” sebagai ketaatan saja karena diperintah Kristus (bdk. Matius 28:19, 20). Ada lagi yang lain, yang sama sekali mengabaikan Alkitab, menolak baptisan sebagai suatu faktor yang vital bagi keselamatan. Iman Orthodox menyatakan bahwa inovasi-inovasi zaman modern ini merampok orang-orang yang tulus dan sungguh-sungguh dari jaminan-jaminan yang paling penting yang disediakan oleh baptisan – yaitu bahwa mereka telah dimanunggalkan dengan Kristus dan bagian dari GerejaNya.

b. Sakramen Ekaristi (Perjamuan Kudus)

Ekaristi itu berasal dari kata Yunani “eukharistoo” artinya "terimakasih” atau ucapan syukur dan dari jaman yang amat awal kata ini telah menjadi kata yang sama untuk PERJAMUAN KUDUS. Ekaristi ini adalah pusat dari Ibadah dalam Gereja Orthodox. Karena Sang Kristus mengatakan mengenai Roti dan Anggur pada Perjamuan Terakhir,” Inilah TubuhKu”, “Inilah DarahKu”, dan “Perbuatlah ini untuk mengingat akan Aku” (Lukas 22: 19,20), para pengikutNya percaya -- dan melakukannya – tepat seperti apa yang diperintahkan. Dalam Ekaristi, kita ambil bagian secara mistika dari Tubuh dan Darah Kristus, yang menyampaikan hidup dan kuat-kuasaNya kepada kita. Perayaan Ekaristi adalah suatu bagian yang teratur dari kehidupan Gereja sejak dari awalnya. Umat Kristen Perdana mulai menyebut Ekaristi itu “obat ketak-binasaan” karena mereka mengenali anugerah/rahmat Allah yang besar yang diterima didalamnya.

Liturgi Suci adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan bentuk atau wujud dari Ibadah Gereja secara berjemaah dalam menyembah Allah. Kata liturgi itu sendiri diambil dari kataYunani “leitos = umat, rakyat” dan “ergos/erga = pekerjaan” yang artinya “pekerjaan umat secara bersama”. Semua rujukan Alkitab tentang penyembahan di sorga itu melibatkan liturgi dan berbentuk liturgi ini.

Di dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan dilakukannya liturgi, atau pola tertentu dalam penyembahan atau ibadah. Kita temukan itu dijelaskan secara rinci dalam Kitab Keluaran 25-32, 35-40 dan dalam Immat 1-10. Dalam Perjanjian Baru kita menemukan Gereja melanjutkan ibadah Israel Perjanjian Lama yang diekspresikan baik dalam rumah ibadah/synagoga (Lukas 4:16) ataupun Bait Allah (Lukas 2`4: 53, Kisah 3:1), menyesuaikannya dengan penggenapannya di dalam Kristus. Liturgi Orthodox selama berabad-abad, masih mempertahankan bentuk penyembahan/ibadah purba itu. Unsur-unsur utama di dalam Liturgi termasuk di dalamnya kidung-kidung, pembacaan dan pemberitaan Injil, doa-doa, dan Ekaristi (Perjamuan Kudus) itu sendiri. Bagi umat Kristen Orthodox, ekpresi “Liturgi” atau “Liturgi Suci” itu menunjuk kepada upacara ekaristi yang ditetapkan oleh Kristus Sendiri pada saat Perjamuan Terakhir ( Perjamuan Mistika).

c. Sakramen Pengakuan Dosa

Pengakuan Dosa adalah suatu pengakuan terbuka akan dosa-dosa yang diketahui di hadapan Allah dan manusia. Secara literal Pengakuan (Con-fession = con-fessio, “setuju dengan”) adalah “setuju dengan “ Allah mengenai dosa-dosa kita. Rasul Yakobus mengingatkan kita untuk mengakui dosa-dosa kita kepada Allah di depan para penatua, atau presbiter, sebagaimana mereka disebut dalam Gereja Orthodox (Yakobus 5:16). Tetapi kita juga dihimbau untuk mengaku dosa kita di hadapan Allah secara langsung (I Yohanes 1:9). Gereja Orthodox selalu mengikuti praktek-praktek Perjanjian Baru mengenai Pengakuan Dosa di depan penatua (Presbiter) maupun Pengakuan Dosa secara pribadi kepada Allah. Pengakuan Dosa adalah salah satu dari sarana pertobatan yang paling penting, serta sarana untuk menerima jaminan bahwa bahkan dosa-dosa kita yang paling burukpun sungguh-sungguh diampuni. Ini juga merupakan salah satu dari sarana-sarana pembantu yang amat berkuasa bagi meninggalkan dan menguasai dosa-dosa itu.

d. Sakramen Imamat

Gereja Orthodox melihat landasan Alkitabiah mengenai Imamat itu sebagai berikut: Setelah pengakuan Petrus akan Ke-Mesias-anNya, Kristus mengatakan kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus (“Batu-Karang”), dan diatas Batu Karang ini (“Pengakuan Petrus dan Diri Petrus sebagai wakil Rasul-Rasul”) Aku akan mendirikan jemaat (Gereja)Ku…” (Matius 16:18).Bahwa Gereja itu didirikan atas dasar para Rasul dijelaskan dalam Efesus 2:20, dengan Kristus sebagai batu-penjurunya. Dengan demikian para Rasul adalah cikal-bakal Gereja. Itulah sebabnya ketika Yesus masih hidup di dunia, Dia telah mempersiapkan adanya organisasi dari hierarki Gereja ini: Petrus sebagai yang pertama (Matius 10: 2), namun dia pertama dalam kesatuan dan kesejajaran dengan segenap Rasul lainnya (Matius 10: 2-4). Dan diantara kedua belas Rasul itu disamping Petrus sebagai yang pertama, ada satu kelompok yang terdiri dari tiga orang yang lebih dekat kepada Yesus: Petrus, Yakobus, Yohanes (Markus 5: 37, Matius 17:1, Matius 26:37), serta satu diantara mereka yang diangkat jadi bendahara: Yudas Iskariot (Yohanes 12:6). Baru kelompok para wanita yang membiayai kebutuhan dari rombongan ini (Lukas 8:3), dan kelompok Tujuh Puluh Utusan (Lukas 10:1).

Sesudah Kristus bangkit dan naik ke sorga, organisasi yang telah dimulai Yesus ini mulai dimantapkan dengan diadakannya rapat pertama yang dipimpin Petrus (Kisah 1:15-26) untuk menggantikan kedudukan Yudas Iskariot yang telah mati bunuh diri. Jabatan Yudas ini disebut dalam bahasa asli Yunani sebagai “teen episkoopeen autou” (Kisah 1:20), yaitu “episkopnya”. Berarti sejak masa awal ini jabatan Rasul sudah dimengerti sebagai jabatan “Episkop” yang dalam bahasa Arab menjadi “Al-Uskuf” dan bahasa Indonesia Katolik Roma “Uskup”. Sejak jaman awal para Rasul sudah mulai mentahbiskan, sebagaimana yang tertulis: ”Ditiap-tiap jemaat (“ekklesia”: Gereja) rasul-rasul itu menetapkan (“kheirotoneesantes”: mentahbiskan) penatua-penatua (“presbyterous”: para presbyter) bagi jemaat itu…” (Kisah Rasul 14:23). Dan Petrus menyebut dirinya sebagai “teman-penatua” (“sympresbyteros” = sesama presbyter) (I Petrus 5:1), yang berarti para presbyter ini nanti akan menggantikan kedudukan rasul-rasul sebagai gembala jemaat (Kisah 20:17, 28), dan sekaligus “penilik” (“episkopous” para episkop), jika para Rasul yang adalah "sympresbyteos" itu meninggal. Karena jabatan episkopos disebut sebagai jabatan Rasul juga (Kisah 1:20). Para “penatua” (“presbyter”) inilah yang berada di sekitar Rasul pada saat Konsili Rasuliah yang pertama di Yerusalem (Kisah 15:4,6-22), dan berada dibawah kepemimpinan Yakobus di Yerusalem ketika Paulus berkunjung kepada Yakobus sebagai pimpinan Gereja Yerusalem (Kisah 21:17-18, Galatia 2:9).

Presbyter dan Episkop pada saat itu masih merupakan jabatan yang sama, sebagaimana para Presbyter (Penatua) di Kisah 20:17 itu disebut juga Episkop (Penilik) yang menggembalakan Gereja di Kisah 20:28. Dan Episkop (Penilik Jemaat) inilah yang menjadi Gembala Gereja di- dampingi oleh Diaken (Filipi 1:1). Sehingga menjelang masa tua Rasul Paulus, kedudukan Episkop (Penilik Jemaat) (I Tim. 1-7), kedudukan Presbyter (Penatua) (I Tim. 5:17-22) dan kedudukan Diaken (I Tim 3: 8-13), adalah merupakan jenjang Hierarkhi dalam Gereja yang telah mapan dan ditetapkan para Rasul sendiri. Dan jenjang jabatan dalam Perjanjian Baru dari zaman Rasuliah diteruskan tanpa putus secara mata-rantai dalam Gereja Orthodox, bahkan Gereja Roma Katolik juga, serta segenap Gereja yang berasal dari zaman rasuliah Purba, yaitu zaman Perjanjian Baru sendiri: Non-Kalsedonia (Gereja-Gereja Orthodox Oriental), dan Pre-Kalsedonia Assyria (Gereja Nestorian/Gereja Assyria Timur).

Berarti bentuk Gereja yang ada dalam Perjanjian Baru itu tak pernah tanpa organisasi, dan tak pernah tanpa hierarkhi, serta tak pernah tanpa ada pimpinan manusia, meskipun Yesus adalah Kepala Gereja. Bahkan sejak Yesus masih hidup di dunia, jenjang itu sudah ada, organisasi itu sudah terbentuk, disekitar Yesus sendiri sebagai Kepala Tunggal mereka ini. Dan ketika Yesus akan mendirikan Gereja-Nyapun, landasannya adalah mereka ini sebagai batu-karangnya. Dan patut dicatat dari semua jenjang hirarkhi yang ada dalam Alkitab itu sebutan “pendeta”, “pendeta muda” itu memang tidak ada, karena itu adalah istilah pinjaman dari Agama Hindhu-Buddha, bukan istilah Alkitab.

Jenjang hirarkhi episkop, presbyter dan diaken ini adalah jenjang hierarkhi keimaman sebab mereka adalah penerus dan pengganti lanjut para Rasul. Padahal para Rasul ini yang ditetapkan sebagai pengajar (Matius 28:16-19) sekaligus pelaksana dari ibadah-ibadah kudus dari sakramen-sakramen Gereja: Baptisan (Matius 28:16-19), Perjamuan Kudus (Lukas 22:14,19), Pengakuan Dosa (Matius 16:19; 18:18, Yohanes 20:22-23), Krisma (Kisah 8:14-17, I Yoh.2:27, II Kor.1:21-22), Perminyakan bagi kesembuhan (Markus 6:13, Yakobus 5:14-15), dan semua sakramen lainnya.

Bahwa I Petrus 2:9 mengatakan bahwa kita semua adalah “bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” tak berarti bahwa semua individu itu adalah imam (Wahyu 1:6), namun Gereja secara kolektif itu adalah imam bagi dunia ini, karena Gerejalah yang mengantarai berkat Allah bagi dunia melalui berita Injilnya serta rahmat sakramen yang dilakukan di dalamnya. Ide ini diambil dari Perjanjian Lama dimana Israel sebagai bangsa secara kolektif disebut “kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Keluaran 19:5) yang secara tepat dikutip dalam I Petrus 2:9 sebagai imamat yang rajani atau kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Dan dalam konteks aslinya bagi Israel itu sama sekali tak menunjuk bahwa semua orang Israel itu adalah imam. Namun menunjuk bahwa Israel sebagai bangsa itu adalah pengantara berkat Allah kepada dunia, dan fungsi ini sekarang diambil alih Gereja. Dan karena fungsinya inilah Israel memiliki sakramen-sakramen yaitu korban-korban dan upacara-upacara dan imam-imam yang menjalankannya.

Jika I Petrus 2:9 itu dikutip secara harafiah dari Keluaran 19:5, mengapa maknanya harus dimengerti secara berbeda dalam Iman Kristen? Jika demikian halnya, jelaslah bahwa bukan orang per orang dalam Gereja itu imam-imam secara mandiri sama seperti halnya dalam Israel juga, namun Gereja sebagai Tubuh Kristus secara kolektif itulah imam dan kerajaan bagi Allah (Wahyu 1:6). Sama dengan keimaman Israel itu ditunjukkan adanya fungsi keimaman dari mereka yang telah ditunjuk dari antara keturunan Harun dan orang-orang Lewi, demikianlah dalam Gereja fungsi keimaman ini dijalankan oleh para episkop, presbyter dan diaken. Mereka inilah yang menjalankan fungsi keimaman kolektif dari Gereja. Dan Rasul Paulus menyejajarkan fungsi para pemberita Injil yaitu para Rasul dan penerusnya itu dengan imam-imam Perjanjian Lama dalam kata-kata yang dicatat dalam I Kor 9:13-14, seperti ini:
”Tidak tahukah kamu bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus (Imam Agung, imam- imam dan orang-orang Lewi) mendapat penghidupannya dalam tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah (Imam Agung dan imam-imam) mendapat bagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil (para Rasul dan penerusnya: Episkop, Presbyter dan Diaken) harus hidup dari pemberitaan Injil itu (pengajaran Injil dan praktek-praktek sakramennya)”

Ayat ini jelas menyejajarkan fungsi imam-imam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Gereja secara kolektif adalah Tubuh Kristus, dan Kristus adalah Imam Besar (Ibrani 3:1), maka Gereja sebagai “kepenuhan Kristus” (Efesus 1:23) pastilah memiliki sifat keimaman ini. Itulah sebabnya Gereja disebut “imamat yang rajani”. Dan para episkop, presbyter dan diaken adalah ikon-ikon yang hidup dari kehadiran keimaman Kristus dalam Gereja itu. Mereka bukan menggantikan keimaman Kristus, namun mereka menyatakan dan memanifestasikan keimaman Kristus yang tunggal itu sebagai ikon-ikon atau gambar-gambar Kristus yang hidup. Bahwa keimaman mereka terkait dengan keimaman kolektif Jemaat atas Gereja, terbukti dalam praktek Perjamuan Kudus, imam tak dapat melaksanakan Perjamuan Kudus jika tak dihadiri setidak-tidaknya dua atau tiga anggota awam, sebab keimaman seorang presbyter terkait dengan imamat rajani dari seluruh Gereja. Dan kesejajaran keimaman Perjanjian Lama dengan keimaman Perjanjian Baru sebagai manifestasi Keimaman Kristus yang tunggal itu terlihat pada jenjang hierarkhisnya.

Dalam Perjanjian Lama terdapat Imam Agung, dalam Perjanjian Baru ada Episkop. Dalam Perjanjian Lama ada imam-imam, dalam Perjanjian Baru ada Presbyter. Serta dalam Perjanjian Lama ada orang-orang Lewi yang membantu para Imam, dalam Perjanjian Baru ada para Diaken yang membantu para Presbyter atau Episkop: ”…semua orang kudus…di Filipi, dengan Para Penilik Jemaat (Episkop) dan Diaken (sebagai pembantu mereka)” (Filipi 1:1). Dan ajaran Perjanjian Baru inilah yang tetap dipelihara tanpa berubah dalam Gereja Orthodox, karena Gereja Orthodox adalah Gereja Perjanjian Baru itu sendiri yang masih tetap tegar hadir di dunia selama 21 abad ini.

Diantara para Episkop ini ada yang diangkat sebagai yang mengepalai beberapa Episkop lainnya dengan jabatan Episkop Agung, ada yang ditempatkan di Ibukota dengan jabatan Metropolitan. Ada yang mengepalai suatu wilayah negera tertentu yang disebut Katholikos. Ada yang mengepalai Lima Pusat Gereja Purba: Yerusalem, Antiokia, Aleksandria, Konstantinopel dan Roma, dengan gelar “Patriarkh” atau “Paus”. Patriarkh pertama di Yerusalem adalah Petrus sebagai Ketua Kolega para Rasul, dan ketika Petrus masih hidup di Yerusalem telah bergeser kepemimpinan Yerusalem kepada Yakobus saudara Sang Kristus sehingga dia yang akhirnya disebut Patriarkh Yerusalem yang pertama. Patriarkh pertama di Antiokia adalah Petrus yang menjabat selama 7 tahun setelah pindah dari Yerusalem dan sebelum pindah ke Roma. Kemudian digantikan oleh Evodius dan dilanjutkan oleh Ignatius Sang Martir. Yang mendirikan kePatriarkhan Aleksandria adalah Markus Sang Penulis Injil murid kesayangan Rasul Petrus. Yang mendiri-kan Kepatriarkhan Konstantinopel adalah Andreas saudara Rasul Petrus. Dan dari Antiokhia Rasul Petrus pergi ke Roma dan di Roma ini akhirnya Rasul Petrus meninggal. Namun sebelumnya dia telah mentahbiskan Linus sebagai Patriarkh Pertama Gereja Roma, kemudian digantikan oleh Aneklitus, serta dilanjutkan oleh Klemen yang ditahbiskan bukan oleh Rasul Petrus namun oleh Rasul Paulus.

Para Episkop, Presbyter, Diaken ini adalah merupakan pengganti lanjut atau pewaris mata-rantai rasuliah yang mereka semua adalah pria, meskipun diantara para murid Yesus itu ada yang wanita namun tak pernah satupun diangkat jadi Rasul. Para Rasul itu juga merupakan lambang simbolis dari para bapa bangsa, sebagai bapa dari Israel yang baru (12 Rasul) sebagaimana Israel yang lama itu memiliki 12 bapa leluhur. Mereka juga merupakan ikon yang hidup dari keimaman Kristus sebagai Pengantin Pria dan Jemaat sebagai Pengantin Wanita.

Atas landasan data-data Alkitab itulah sebabnya Gereja Orthodox tidak mentahbiskan wanita dalam derajat kepresbyteran apalagi keepiskopan. Mereka boleh menjadi Diaken wanita (Diakonisa), namun bukan Diaken Sakramental, hanya membantu tugas Presbiter. Ini bukan merupakan diskriminasi terhadap wanita, namun merupakan kesetiaan terhadap ajaran Alkitab dan praktek Rasuliah dari sejak semula sampai kini dengan simbolisme yang ada. Secara kodrat kemanusiaan perempuan dan lelaki adalah sama derajatnya (Galatia 3:26-28). Namun secara pembagian tugas dan fungsinya berbeda. Keimaman adalah fungsi laki-laki, sebagai ikon Pengantin Pria: Kristus, dan pengganti Rasul yang adalah bapa bangsa bagi umat yang baru. Perempuan mempunyai tugas lain yang amat banyak di Gereja: Dosen Theologia, Pengajar, Pengkhotbah, Guru Sekolah Minggu, dan lain-lain.
 
(sumber: http://monachoscorner.weebly.com/iman-kristen-orthodox-2.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar