Sabtu, 09 Maret 2013

Salib & Berita Hidup


Salib & Berita Hidup [by: Fr.Daniel Byantoro]

Bismil Abi, wal Ibni, War Ruhul Quddus, Al-Ilahu Wahid. Amin
Shalom Aleikhem be Shem Ha-Massiakh,
Saudara-Saudari yang Dikasihi Sang Kristus,

Hari ini Sabtu pagi, adalah hari terakhir dari Masa Puasa Agung Catur Dasa (Pra-Paskah) yang telah kita lewati selama beberapa minggu yang telah lewat. Mulai besok pagi kita sudah menginjak pada Masa Pekan Kudus, masa sengsara yang di derita Kristus selama satu minggu, sejak Ia masuk ke kota Yerusalem untuk dielu-elukan penduduk kota itu sebelum Ia ditolak dan dihakimi oleh penduduk kota yang sama itu.


Manusia memang mudah berubah, jikalau ada kepentingan dan orang dapat memuaskan kehendaknya ia akan memuji-muji, namun ketika apa yang diharapkan sudah tidak ada lagi, ditinggalkanlah orang itu, Kata pepatah “Habis Manis Sepah dibuang”. Manisnya sudah tidak ada, maka batang tebu yang tinggal sepah saja itu langsung dibuang. Demikianlah yang mereka perbuat dengan Sang Kristus itu. Pada saat mereka melihat Sang Kristus melakukan segala mukjizat-Nya dengan pengajaran-Nya yang penuh kuasa dan pengikut-Nya yang makin bertambah, mereka begitu bersemangat untuk mengelu-elukan-Nya agar kalau Kristus nanti mampu sebagai Mesias untuik mengusir penjajah Romawi, mereka akan mendapatkan manfaat darinya. Namun ketika ternyata harapan duniawi mereka itu tak kunjung muncul, dan Kristus tak kunjung menunjukkan diri sebagai pemimpin duniawi yang memimpin perang melawan Romawi, maka harapan mereka itu berbalik menjadi kebencian, Dan kebencian itulah yang menyebabkan sengsara mengerikan yang ditanggung Sang Kristus selama masa Pekan Kudus itu. Orang hanya melihat bau kematian dan bau kesengsaraan saja, dari derita Kristus itu. Namun bagi orang percaya sebenarnya Kristus telah memberikan pertanda awal, bahwa derita-Nya itu akan menuntun kepada hidup, oleh karena itu sebelum berita tentang hidup yaitu Kebangkitan itu dinyatakan Ia telah berbuat suatu mukjizat agar mengingatkan orang bahwa Kristus itu berkuasa atas kematian dan memiliki kemampuan untuk menyatakan kehidupan.

Dalam bacaan kita ini dijelaskan bagaimana Kristus mendengar berita tentang sakitnya sahabatnya-Nya: Lazarus saudara Maria dan Marta yang dekat Yerusalem berada di sekitar kota itu di kampung Betani (Yohanes 11:1-2). Kedua saudarinya itu mengirim berita kepada Sang Kristus akan sakit-Nya Lazarus itu (Yohanes 1:3). Namun Yesus tidak memperhatikan kesedihan saudari Lazarus itu, Ia tidak memfokuskan pada kesakitan itu, namun pada apa yang Allah akan nyatakan melalui peristiwa itu, yaitu kemuliaan-Nya melalui Sang Putra (Yohanes 11:4-5). Mendengar berita sakitnya Lazarus ini, justru Ia berkehendak kembali ke Propinsi Yudea dimana Betania berada, meskipun diingatkan oleh para murid-Nya bahwa baru saja orang-orang Yahudi mencoba melempari Dia di Yudea (Yohanes 11:6-8). Namun bagi Yesus terang kehendak ilahi dan terang petunjuk ilahi, atau “terangnya siang hari” itu lebih penting dari pada ketakutan manusia. Karena dalam terang ilahi orang tidak akan tersandung jika berjalan dalam kegelapan “malam hari” yaitu kegelapan hati manusia yang tidak diterangi oleh cahaya ilahi sehingga memunculkan rasa kebencian yang tanpa alasan itu (Yohanes 11: 9-10).

Tidak semua kegelapan malam hari dari dosa manusia itu selalu dapat menghalangi terang ilahi, karena satu hari ada dua belas jam, artinya tidak semua saat itu memiliki keadaan yang sama, Allah dapat mengubah kegelapan menjadi terang asal orang mau berjalan di dalam terang itu. Dan kegelapan yang sedang dihadapi Sang Kristus saat itu adalah:
a) kegelapan ancaman dan kebencian orang Yahudi,
b) kegelapan kesedihan yang menimpa sahabat-Nya, Lazarus, Maria dan marta itu.
Namun karena Yesus adalah sang Terang itu sendiri Dia tahu apa yang akan terjadi, karena apa yang hendak dilakukan itu adalah merupakan penyataan Allah tentang siapa dan apa karya Yesus itu bagi manusia. Itulah sebabnya Ia tidak mau tunduk pada ketakutan manusia akan kegelapan yang mereka belum tahu bagaimana akhir dari peristiwa yang mencekam jiwa mereka itu. Yesus memberikan harapan bahwa kematian Lazarus itu bukan akhir dari segala-galanya sebab kematiannya itu bagaikan "Lazarus… telah tertidur” saja dan justru kedatangan Yesus ke tempat Lazarus itu adalah untuk “membangunkan dia dari tidurnya." (Yohanes 11:11). Meskipun Yesus sebenarnya tahu keadaan Lazarus karena “maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.” (Yohanes 11:13), namun Ia ingin memberikan harapan pada para murid tentang makna mati, dan makna kuasa yang Ia dapat lakukan terhadap kematian, sehingga para murid itu memiliki harapan bahwa “jikalau ia tertidur, ia akan sembuh." (Yohanes 11:12).

Tetapi karena para murid itu belum mengerti makna yang Ia maksudkan maka Ia terangkan “dengan terus terang: "Lazarus sudah mati.” (Yohanes 11:14). Mengapa Yesus mengajarkan bahwa kematian Lazrus itu seperti tidur saja? Karena Ia tahu apa yang Ia akan kerjakan, yaitu Ia akan membangunkan Lazarus dari kuburan, seperti layaknya orang bangun dari tidur saja, Dengan demikian Ia menyatakan bahwa dalam Kristus kematian itu bukan momok yang menakutkan, karena Kristus punya kuasa untuk membangkitkan manusia dari kematian, dan karena kematian dalam Kristus itu hanya keberadaan tidur saja, dimana nanti ada saatnya semua terbangun, dan “akan sembuh” dari kekuatan dosa yaitu keadaan lapuk, busuk, hancur dan mati itu. Inilah kuasa Yesus yang hendak dinyatakan dalam peristiwa Lazarus itu. Disamping tujuan Yesus pergi ke tempat Lazarus untuk membangkitkan Lazarus, dengan demikian menyatakan kematian itu bukan akhir dari segala-galanya, meskipun Ia telah diancam kan dilempari orang-orang Yahudi, itu juga akan menunjukkan kebenaran akan kuasa Yesus yang dapat mengalahkan kuasa kematian, namun juga secara praktis hendak mengajar para murid-Nya,”supaya kamu dapat belajar percaya” (Yohanes 11:15) melalui peristiwa yang akan terjadi itu. Berarti secara prinsip Yesus mengajarkan kepada kita bahwa Ia tidak hanya mengajarkan teori tentang kebangkitan, namun Ia membuktikan teoriNya, dan Ia ingin murid-Nya belajar dari bukti dan pengalaman praktis itu.

Mengapa dikatakan agar mereka “belajar percaya”, karena sebentar lagi Guru mereka ini justru akan mengalami kematian sendiri, supaya dengan kematian dan derita yang akan dialami Guru mereka itu, mereka tidak lupa bahwa Ia yang sedang mengalami derita maut ini adalah Ia yang mengatakan bahwa “kematian” itu hanya “tidur” saja, dan bahwa Ia punya kuasa untuk mengalahkan kematian, sehingga mereka punya harapan dan tidak putus asa. Itulah sebabnya menyadari bahwa Guru mereka itu memiliki kuasa atas kematian mereka jadi memiliki keberanian “untuk mati bersama-sama dengan Dia” (Yohanes 11:15-16). Karena di dalam Yesus, kematian itu adalah jalan kehidupan. Arinya bersama Yesus berarti menuju kebangkitan. Seperti yang dinyatakan Yesus sendiri ketika sampai dikuburan dan Lazarus sudah membusuk dikuburan selama empat hari, serta Maria dan Marta (Yohanes 11:32) menyatakan penyesalannya bahwa Yesus datang terlambat sehingga Lazarus mati (Yohanes 11:17-21), dengan kata lain Maria punya iman bahwa Yesus berada diatas kekuatan maut dan dapat mengalahkan kekuatan maut, maka Yesus menegaskan “"Saudaramu akan bangkit." (Yohanes 11:23). Maria mengira Yesus hanya berbicara secara doktrinal sebagai kata-kata penghiburan saja, sehingga ia menyambut kata-kata Yesus itu dengan ucapan rohani yang saleh namun tak menolong keberadaannya itu: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." (Yohanes 11:24), karena memang demikianlah doktrin yang diyakini dalam Agama Yahudi. Yang Ia tidak tahu adalah bahwa “akhir zaman” itru sekarang telah menembus waktu dan berada ditengah-tengah manusia, dan kebangkitan itu bukan keyakinan yang abstrak, namun Yesus itulah realita kebangkitan dan akhir zaman itu, karena kebangkitan itu identik dengan akhir zaman. Kekekalan sudah menerobos waktu, karena Yesus adalah pengejawantahan dari keduanya itu. Itulah sebabnya menanggapi jawaban Maria itu Yesus menegaskan: ”Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (Yohanes 11:25-26).

Pengakuan Yesus ini akan menjadi omong-kosong yang tidak ada artinya jikalau tidak ada bukti nyata yang menunjukkan bahwa Ia mampu membangkitkan manusia yang mati. Dan tujuan Ia membangkitkan Lazarus ini adalah untuk mengingatkan manusia bahwa yang menderita selama Pekan Kudus itu adalah Sang Kebangkitan dan Sang Hidup itu sendiri. Ia masuk ke dalam Derita Maut, agar dapat merebut kemanusiaan yang dicengkeram maut ini lepas dari genggaman Iblis penguasa maut itu, sehingga “setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku”, seandainya toh kematian itu mendatangi dirinya maka dia tidak putus asa dan tidak merasa ketakutan karena “barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” dan bukan hanya itu saja jikalau kita betul-betul percaya kepada Yesus Kristus maka kita “tidak akan mati selama-lamanya”. Sedangkan agar kita dapat menerima rahmat yang luar biasa ini, maka kita dituntut untuk percaya kepada Kristus dan kuasa-Nya itu, itulah sebabnya Maria ditanya oleh Sang Kristus “Percayakah engkau akan hal ini?" Untuk menegaskan bahwa jiwa-jiwa yang mati di dalam Kristus itu tetap hidup selamanya danm tidak mati inilah maka menjelang masuk ke dalam Masa Pekan Kudus ini, Gereja Orthodox di seluruh dunia mempraktekkan apa yang disebut sebagai “Sabtu Para Jiwa” empat kali dalam setahun, guna mengingat jiwa-jiwa mereka yang hidup selamanya bersama Kristus dalam alam Sorgawi itu, yaitu:
1) Sabtu sebelum Minggu Penghakiman Akhir pada Masa Triodion, karena Penghakiman itu mengingatkan Akhir Zaman, berarti mengingatkan jiwa-jiwa yang ada bersama Kristus.
2) Sabtu sebelum Minggu Pengampunan Dosa, karena bukan hanya kita yang didunia ini saja yang perlu memerlukan pengampunan dosa, tetapi jiwa-jiwa yang bersama Kristus itupun berada disana akibat mendapatkan pengampunan dosa dari Allah oleh karya kematian dan kebangkitan Kristus,
3) Sabtu sebelum Minggu Orthodoxia, karena kita sudah satu Minggu menjalani Puasa untuk ikut masuk dalam Sengsara Kematian Kristus, dan kematian Kristus itulah jalan Kebangkitan bagi kita semua,termasuk hal yang sedang ditunggu-tunggu oleh para jiwa yang ada bersama Kristus itu,
4) Sabtu sebelum Minggu Pentakosta, karena sebagaimana kitapun mendapatkan hidup kekal itu oleh karya Kristus yang disampaikan kepada kita oleh Roh Kudus, demikianlah, mereka yang berada bersama-sama dengan Kristus itupun hidup selama-lamanya karena kuasa Roh Kudus juga.

Demikianlah jelas bahwa Salib Kristus itu adalah Berita Hidup bagi segenap manusia, dan hidup itu tak akan ada batas dan akhirnya, bahkan ketika secara tubuh kita akan mati juga karena kita mewarisi kematian tubuh ini dari Adam, sama seperti kita mewarisi hidup kekal itu dari Kebangkitan Kristus. Ini disebabkan karena Kristus adalah “Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." (Yohanes 11:27) yaitu Raja yang Menang atas Maut dan Dosa serta Kematian, dan Sabda Allah yang memiliki kekekalan itu sendiri yang diutus masuk ke dalam dunia ini justru untuk mengalahkan maut itu agar kita menerima kodrat hidup kekal yang dimiliki-Nya tanpa awal maupun akhir itu. Setelah menjelaskan makna diri-Nya sebagai Sang Kebangkitan dan Hidup itu, langsung Kristus membuktikan dengan karya nyata apa yang sudah diajarkan itu, Dia langsung berjalan dimana ditengah jalan ditemui Marta yang disertai orang-orang Yahudi yang menghiburnya yang sudah diberitahu Maria tentang kedatangan-Nya itu (Yohanes 11:28-31). Orang-orang itu tidak tahu apa yang akan dikerjakan Yesus, dan tak tahu pula mengapa Marta ingin menemui Yesus “mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.” Itulah keadaan manusia, menghadapi kematian mereka hanya bisa meratap dan menangis, mereka tak mampu berbuat apa-apa (Yohanes 11:32-34).

Kematian adalah misteri yang paling dalam dan paling mengerikan yang dihadapannya semua tokoh-tokoh besar tunduk berlutut hancur dilumat oleh kekuasaannya. Bacaan kita ini mengatakan “Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu.” Ia masygul dan terharu bukan karena emosi dan sedih, namun Ia merasa marah pada kekuatan maut dan Iblis yang merampas hak manusia untuk hidup kekal itu, terharu akan derita manusia yang akibat maut mereka sudah terlindas derita yang tak kunjung dapat diselesaikan manusia itu. Yesus mendatangi tempat kematian dan menangis disitu (Yohanes 11:34-35), karena sementara Ia tahu kuasa apa yang akan diluncurkan untuk menyerang maut itu, namun Ia tak tega dalam cinta kasih-Nya terhadap manusia yang kehilangan kodrat kekekalannya akibat dosa itu. Ia menangis karena cinta-kasihNya kepada manusia, seperti yang dikatakan: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!" (Yohanes 11:36). Memang keselamatan Allah yang ditunjukkan-Nya dengan mengirimkan Sabda-Nya turun menjadi manusia itu bersumber dari kasih kekal Allah itu sendiri. Oleh karena itu digerakkan oleh kasih yang sama, Sang Sabda Menjelma ini siap bertempur dengan kuasa kematian itu. Namun orang-orang yang sudah tahu akan kuasa Yesus memelekkan orang buta, bukannya mereka menaruh iman kepada-Nya namun malah mengejek serta mempertanyakan kemampuan Yesus untuk mengalahkan kematian (Yohanes 11:37). Ketiadaan iman dan kedegilan hati manusia yang demikian inilah yang membuat “masygul hati Yesus” (Yohanes 11:38) sebagai ekspresi masygulnya hati Allah akan manusia-manusia kafir yang meragukan kuasa Allah, dan meremehkan karya serta cinta-kasih Nya akan mereka, serta tak mau beriman dan bertobat kepada-Nya itu.

Namun Kristus berkarya bukan tergantung pada bagaimana manusia bersikap pada-Nya, sebagai ekpresi bahwa Allah berkarya untuk menyelamatkan manusia itu bukan karena akibat perbuatan manusia, namun semata-mata karena rahmat-Nya justru ditengah-tengah penolakan manusia atas kasihNya itu. Itulah sebabnya Sang Kristus langsung pergi ke kubur, dan memerintahkan supaya batu yang menutup kubur itu diangkat, meskipun diberitahu bahwa Lazarus “sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati” (Yohanes 11:39). Ini untuk menunjukkan bahwa keselamatan karunia Allah itu justru diberikan bukan ketika manusia dalam keadaan baik namun justru ketika manusia dalam keadaan busuk dan berbau serta mati oleh karena dosa. Kristus datang bukan untuk orang yang benar, namun untuk orang-orang yang busuk dan lapuk serta mati dalam dosa agar mereka hidup lagi, melalui pertobatan dan kelahiran kembali. Kemuliaan Allah yang membangkitkan kita dari kematian untuk hidup baru di dalam Kristus itu hanya dapat dilihat yaitu dialami dan dijadikan milik pribadi jikalau kita beriman kepada Kristus sebagaimana dikatakan "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" Karena Kristus datang ke dunia ini adalah akibat dari “Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yohanes 11:42), yaitu sebagai Sabda Allah yang diutus Allah turun ke bumi menjadi manusia, maka dalam segala hal apa yang dilakukan Yesus itulah karya Allah sendiri.

Itulah sebabnya untuk membuktikan satunya karya Allah dengan karya yang dilakukan Yesus itu, maka sebelum melakukan pembuktian kuasa ilahi untuk membangkitkan Lazarus itu, Yesus berdoa kepada Allah, dengan maksud agar kuasa yang dilakukan itu menjadi saksi bagi manusia, bahwa itu dilakukan demi Allah dan untuk menyatakan Yesus betul-betul Sabda Allah yang turun ke bumi dan diutus oleh Allah sendiri (Yohanes 11:41-42). Setelah menyatukan kehendak-Nya dengan kehendak Allah karya-Nya dan karya Allah yang dari dalam hakekat-Nya yang Esa itu Firman menjelma itu berasal, maka langsung Ia menunjukkan otoritas dan kewibawaan-Nya atas kematian sambil “berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!" (Yohanes 11:43), maka genggaman kuasa kematian atas Lazarus itu rontok, luluh lantak sehingga Lazarus “yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh” (Yohanes 11:43), dengan demikian Kristus menunjukkan kuasa-Nya atas kematian, dan menyatakan wibawa-Nya untuk memberi kehidupan. Bukan hanya itu saja semua tanda-tanda kematian yaitu “kain-kain itu” pun dibuka, sehingga ia betul-betul bebas dan Ia perintahkan “biarkan ia pergi” (Yohanes 11:44), artinya setelah dilepaskan dari tanda-tanda kematian yaitu dosa-dosa dan pelanggaran, orang itu dibiarkan pergi yaitu menjalani kehidupan yang baru akibat karunia Kristus. Dan dampak karya Kristus yang memberikan hidup ini membuat “Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.”

Demikianlah kuasa kebangkitan Yesus itu menjadi kesaksian dan bukti karya Allah yang melaluinya orang dituntun untuk percaya kepada Yesus Kristus, dan melalui peristiwa itu pula manusia “menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan” (Ibrani 12:28), yaitu Kerajaan Ilahi, yang berwujud hidup kekal yang tak tersentuh kuasa maut akibat kebangkitan Yesus Kristus itu. Disitu kita dimanunggalkan kemuliaan ilahi yang berwujud sinar “api ilahi”, yang bagi orang beriman api ilahi itu membuatnya “akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa” (Matius 13:43), namun bagi orang yang tidak mau percaya, api ilahi itu membuat “pekerjaannya terbakar, ….menderita kerugian,…….. seperti dari dalam api” (I Korintus 3:15), karena memang “Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibrani 12:29) bagi orang berdosa yang tidak mau bertobat.

Menyadari apa yang kita terima akibat kebangkitan itulah maka kita merayakan peristiwa yang mendahului Masa Sengsara Kristus itu, sebagai pengingat kepada kita, bahwa Kristus rela masuk ke dalam Derita Sengsara Kematian yang akan kita rayakan sejak besok pagi itu, bukannya karena Ia memang tunduk kepada kuasa kematian, namun Dia sebagai sang penguasa atas kematian dan pemilik hidup itu sendiri melakukan semuanya ini, agar dapat merebut kita semua dari kuasa kematian itu sendiri. Peristiwa Lazarus hanyalah semacam “aba-aba” dan pertanda saja. Karena sesudah bangkit Lazarus mati lagi, karena Yesus memang belum bangkit. Namun apa yang akan dilakukan sesudah Masa Sengsara, Kematian dan Kebangkitan-Nya itu justru Kristus akan memberikan kehidupan kekal itu sendiri kepada segenap manusia yang beriman dan membuahkan imannya itu dalam perbuatan nyata. Itulah sebabnya mengapa Sabtu Lazarus ini dirayakan, untuk memberikan kepada kita perspektif yang benar mengenai makna sengsara, kematian dan kebangkitan Kristus itu. Dengan mengerti tujuan dari apa yang dilakukan oleh Kristus bagi kita dalam Sengsara, Derita, Kematian dan Kebangkitan-Nya itulah kita diajak untuk “mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:38).

Ucapan syukur dan ibadah ini tidak boleh dimengerti secara sempit dalam arti upacara-upacara ibadah dan nyanyian-nyayian yang isinya ucapan syukur saja. Namun ibadah dan ucapan syukur harus dilakukan dengan “cara yang berkenan kepada-Nya”, dan Kitab Suci mengatakan kepada kita: ”Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yakobus 1:26- 27). Karena ibadah yang tak bercacat yang berarti berkenan kepada Allah itu menyangkut perbuatan nyata kepada sesama kita, misalnya dalam hal cara kita menggunakan lidah kita melalui perkataan kita kepada sesama kita, dalam hal kepedulian kita kepada para anak yatim, janda-janda dalam kesusahan mereka, serta dalam menjaga diri kita sendiri agar tak dicemarkan oleh dunia, maka jelas bahwa semuanya ini harus dilakukan dengan “hormat dan takut” akan Allah bukan hanya sebagai tugas rutin, atau agar dipuji oleh sesama manusia, atau untuk pamrih-pamrih pribadi lainnya.

Itulah sebabnya ibadah itu mempunyai dimensi dan buah yang lebih luas lagi, yang berwujud perbuatan sehari-hari. Inilah yang dalam pemahaman Iman Orthodox disebut “Liturgi sesudah Liturgi”, yaitu Liturgi kehidupan dalam masyarakat dan kehidupan sehari-hari, sesudah Liturgi upacara dalam Gereja. Ibadah harus menuntun kepada akhlak, akhlak harus dilandasi oleh ibadah. Ortholatria memang tak bisa dipisahkan dari Orthopraxia, dan Orthopraxia harus berlandaskan Orthodolatria, yang keduanya harus bertumpu kepada Orthodoxia (Pengajaran yang Benar). Karena ibadah berasal dari kata “abd” artinya “hamba” maka ibadah artinya menghamba kepada Allah. Dalam bahasa Ibrani Ibadah itu adalah “Abodah”, dan itu berasal dari kata “Ebed” artinya hamba, dan Abodah itu juga berarti bekerja atau pekerjaan, yaitu perbuatan dan berbuat. Inilah dampak kehidupan yang diberikan Kristus itu, agar kita hidup nyata, dan memberikan berita kehidupan itu kepada sesama kita dengan cara bagaimana kita hidup. Dan itu dinyatakan dalam bacaan Risalah Rasuliah kita itu selanjutnya ”Peliharalah kasih persaudaraan!” (Ibrani 13:1).

Mengapa “kasih persaudaraan”? Karena kita mendapatkan kehidupan kekal ini dari Kristus, serta Kristus menyatakan hidup kekal ini dengan mengalahkan kuasa maut karena kasih-Nya maka sebagai ucapan syukur kita kepada-Nya manakah yang lebih tepat daripada mengembalikan kasih itu kepada Kristus melalui sesama kita, dan manakah yang lebih tepat dalam mengabdi yaitu "abodah" kepada Allah melalui sesama kita, daripada melayani dalam kasih itu? Itulah sebabnya kita diperingatkan dan diperintahkan untuk memelihara kasih persaudaraan, sebab kalau tidak dipelihara itu bisa jadi dingin, bisa mengalami erosi, dan akhirnya bisa menjadi tawar satu sama lama lain. Maka itu harus dipelihara dengan jalan mengusahakan untuk tetap hidup dalam saling mengasihi satu sama lain. Salah satu langkah untuk tetap memelihara kasih persaudaraan itu adalah “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang” (Ibrani 13:2), dengan jalan “menjamu” jika perlu, “sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibrani 13:2). Inilah artinya saling memelihara ramah-tamah, dan saling menjaga silaturahmi. Saling kunjung, saling membuka rumahnya satu sama lain, saling menjamu itu bukti adanya kasih persaudaraan itu. Jika ini sering dilakukan maka tali silaturahmi tidak akan terputus. Dalam kasih yang demikian inilah terdapat makna kehidupan itu. Karena berdasarkan kasih-Nyalah Allah memberikan hidup kekal kepada kita, maka hidup itu identik dengan kasih. Barangsiapa tidak memiliki kasih ia tidak memiliki hidup, dan tidak mengerti makna hidup itu sendiri. Itulah sebabnya Salib itu adalah kasih dan hidup. Karena Salib sebagai bukti kasih Allah itu yang menyebabkan kehidupan muncul oleh kebangkitan Kristus sendiri. Dari kasih yang berwujud ikatan silahturahmi kekeluargaan dan persaudaraan, maka itu harus meluas kepada kepedulian terhadap orang lain yang terkena musibah, misalnya mengingat orang-orang hukuman yaitu orang yang berada dalam penjara, sebagaimana dikatakan oleh bacaan Risalah Rasuliah kita ini ”Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman.” (Ibrani 13:3), Tindakan nyata dari perintah ini adalah mengunjungi mereka, memberikan hiburan dan bantuan kepada mereka, dan menyampaikan berita keselamatan di dalam Kristus kepada mereka. Melawan Ketidak-adilan serta membela orang yang diperlakukan secara tidak adil dan secara sewenang-wenang, sebagaimana yang dikatakan: ”Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.” (Ibrani 13:3), dengan melalui berbagai macam lobi, ikatan bersama untuk menyuarakan tantangan terhadap ketidak-adilan dalam masyarakat dan lain-lain.

Ketika para pengikut Kristus menutup mata, berdiam seribu bahasa, dan tidak mengadakan langkah nyata menghadapi ketidak-adilan maka batu-batu akan berteriak mengejutkan mereka, dan kita akan bertanggung jawab kepada Allah, jika hal demikian terjadi. Dengan demikian ibadah kita itu tidak hanya bersifat kultus yang hanya berpangku tangan bermimpi-mimpian tentang Sorga nanti diakhir zaman. Iman Orthodox adalah Iman yang praktis yang harus mempengaruhi segala bidang kehidupan, karena Kristus datang adalah untuk segenap dunia dengan segala aspek dan dimensi-Nya. Namun tanggung-jawab kita kepada masyarakat luas dan kepada persaudaraan sesama manusia yang berlandaskan kasih itu, harus bersumber dari kasih yang kita miliki dalam rumah tangga kita terlebih dahulu, sebab jika tidak demikian semua perjuangan kita diluar rumah dalam masyarakat itu akan menjadi keropos dan banyak lubang-lubang yang orang akan mudah untuk menuduh kita. Itulah sebabnya diperintahkan: ”Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibrani 13:4), termasuk juga integritas diri kita terhadap keuangan, karena sering ketidak-adilan itu akibat keserakahan dan keserakahan menyebabkan ketidak-jujuran, ketidak-jujuran menyebabkan KKN, KKN menyebabkan kesengsaraan dan penindasan kepada orang lain. Itulah sebabnya kita diperintahkan: ”Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. "Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (Ibrani 13:5-6). Tanggung-jawab kita terhadap diri pribadi dalam masalah rumah tangga dan keuangan itu juga akhirnya harus terpantul dalam sikap kita bergereja, selalu menempatkan dalam ingatan kita orantg-orang yang telah berjasa kepada kita menyampaikan firman Allah, sehingga kita mendapatkan hidup kekal yang tak dapat dibeli dengan apapun. Hutang kita kepada bapa pengajar firman kepada kita tak akan pernah dapat kita bayar: ”Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” (Ibrani 13:7). Dan perintah ini akan tetap berlaku bagi kita semua selama Kristus itu yang menjadi panutan kita karena: ”Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8). Semoga peringatan kita akan Derita Salib Kristus di Pekan Kudus besok ini, dapat memberikan makna hidup dalam praktek nyata. Amin

(sumber: http://monachoscorner.weebly.com/salib--berita-hidup.html )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar